![]() |
Papua
|
Lelaki itu sedang gundah, oleh karena isterinya yang hamil tua mengalami kesulitan dalam melahirkan bayinya. Untuk membantu kelahiran anaknya itu, ia membutuhkan operasi yang menggunakan batu tajam dari sungai Tami.
Ketika sedang sibuk mencari batu tajam tersebut, ia
mendengar suara-suara aneh di belakangnya. Alangkah terkejutnya Towjatuwa ketika ia
melihat seekor buaya besar di depannya. Ia sangat ketakutan dan hampir pingsan. Buaya
besar itu pelan-pelan bergerak ke arah Towjatuwa. Tidak seperti buaya lainnya, binatang
ini memiliki bulu-bulu dari burung Kaswari di punggungnya. Sehingga ketika buaya itu
bergerak, binatang itu tampak sangat menakutkan.
Namun saat Towjatuwa hendak melarikan diri, buaya itu
menyapanya dengan ramah dan bertanya apa yang sedang ia lakukan. Towjatuwapun menceritakan
keadaan isterinya. Buaya ajaib inipun berkata: "Tidak usah khawatir, saya akan datang
ke rumahmu nanti malam. Saya akan menolong isterimu melahirkan." Towjatuwa pulang
menemui isterinya. Dengan sangat berbahagia, iapun menceritakan perihal pertemuannya
dengan seekor buaya ajaib.
Malam itu, seperti yang dijanjikan, buaya ajaib itupun
memasuki rumah Towjatuwa. Dengan kekuatan ajaibnya, buaya yang bernama Watuwe itu menolong
proses kelahiran seorang bayi laki-laki dengan selamat. Ia diberi nama Narrowra. Watuwe
meramalkan bahwa kelak bayi tersebut akan tumbuh menjadi pemburu yang handal.
Watuwe lalu mengingatkan agar Towjatuwa dan keturunannya
tidak membunuh dan memakan daging buaya. Apabila larangan itu dilanggar maka Towjatuwa dan
keturunannya akan mati. Sejak saat itu, Towjatuwa dan anak keturunannya berjanji untuk
melindungi binatang yang berada disekitar sungai Tami dari para pemburu.
(Diadaptasi secara bebas dari, Alice M. Terada, "The Magic Crocodile," The Magic Crocodile and Other Folktales from Indonesia, Honolulu: University of Hawaii Press, 1994, hal 135-142)