![]()
Sabtu, 04 April 1998
Kebakaran Hutan Kaltim Mencapai 155.611,58 Ha, Kerugian Diperkirakan Rp 2,67 Triliun
SAMARINDA - Musibah kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur belum juga berakhir.
Musim kemarau panjang yang melanda propinsi ini sangat menyulitkan upaya pemadaman
kebakaran. Berbagai upaya, baik lewat darat maupun udara, sepertinya hanya berpengaruh
sangat kecil terhadap proses pemadaman api.
Hingga saat ini luas areal hutan dan lahan yang terbakar sudah mencapai 155.611,58 hektar.
''Dari jumlah tersebut, hutan yang terbakar seluas 151.236,22 hektar dan lahan seluas
4.375,36 hektar,'' ungkap Awang Faroek Ishak, Kepala Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
Daerah (Bapedalda) Kaltim.
Sekitar 63 persen dari areal yang terbakar adalah di kawasan milik perusahaan besar yang
memiliki HPH (Hak Penguasaan Hutan) dan HTI (Hutan Tanaman Industri) (lihat tabel).
Perusahaan besar ini sebagian besar telah melakukan pembukaan lahan dengan cara bakar.
Diduga, salah satu faktor yang memicu musibah kebakaran ini adalah pembakaran lahan dengan
sengaja.
Dari
penelitian Bapedalda Kaltim, kerugian kebakaran hingga awal April ini mencapai Rp
2.672.880.600.000. Taksiran kerugian dihitung dari nilai ekonomis kayu/tanaman yang
terbakar. ''Ini belum termasuk kerugian akibat hilangnya flora/fauna, hilang atau rusaknya
permukaan tanah/topsoil, kerusakan lingkungan, kesehatan masyarakat, kerugian perusahaan
penerbangan dan kegiatan lainnya,'' ujar Awang Faroek.
Penyebab kebakaran sebagian besar dikarenakan manusia, dan kebanyakan dilakukan dengan
sengaja. Selain itu adanya sumber batubara di dalam tanah menjadi salah satu faktor alam
penyebab kebakaran yang sangat sulit dihindari.
Dari
pantauan Integrated Forest Fire Management (IFFM), proyek kerjasama pemerintah Indonesia
dan Jerman dalam mengatasi kebakaran hutan di Kaltim, sudah 797 titik api yang menyebar di
kawasan Kaltim. Letak titik api yang menyebar sangat menyulitkan proses pemadaman api.
Sebenarnya sudah cukup banyak upaya yang dilakukan untuk memadamkan api. Namun kondisi
medan yang sangat sulit dan juga lokasi kebakaran api yang berjauhan sangat menyulitkan
upaya pemadaman. ''Dampak kegiatan pemadaman selama ini mungkin hanya sekitar 0,1 persen
saja,'' ungkap Ludwig Schindler, Ketua IFFM.
Padahal penanggulangan kebakaran lewat darat dan udara sudah banyak dilakukan. Misalnya
dengan bahan kimia, granat pemadam api dan membuat sekat bakar. Selain itu juga dilakukan
pemboman lewat udara dengan pesawat Hercules Transall C-160 dan pesawat Pilatus Poiter
PC-6.
Menurut Schindler, dengan kondisi kemarau panjang seperti sekarang ini, pemadaman api
bukanlah bidang yang paling penting untuk dilakukan. ''Tetapi yang penting diperhatikan
adalah pencegah~an, pendidikan masyarakat dan kebijaksanaan penggunaan hutan. Oleh karena
itu musim hujanlah saat yang tepat untuk mengatasi kebakaran,'' jelas Schlindler yang
telah melakukan berbagai kegiatan manajemen kebakaran hutan di Kaltim sejak empat tahun
lalu. mag
Luas Areal Kebakaran Hutan dan Lahan di Kaltim
No. |
Lokasi Terbakar |
Luas (Ha) |
| 1. | Areal Hak Penguasaan Hutan (HPH) | 34.185,65 |
| 2. | Areal HPHTI | 64.838,72 |
| 3. | Kawasan Konservasi Bukit Soeharto | 4.204,00 |
| 4. | Hutan Lindung Sungai Wain | 2.389,00 |
| 5. | Hutan Lindung DAS Manggar | 126,00 |
| 6. | Hutan Lindung Bontang | 6.635,00 |
| 7. | Cagar Alam M. Kamam | 150,00 |
| 8. | Cagar Alam Kersik Luwai | 75,50 |
| 9. | Taman Nasional Kutai | 40.181,00 |
| 10. | Hutan Penelitian | 406,88 |
| 11. | Areal Perkebunan | 1.923,68 |
| 12. | Areal Transmigrasi | 15,00 |
| 13. | Ladang Penduduk/alang/semak | 1.448,77 |
| 14. | Kebun masyarakat | 987,91 |
Sumber: Bapedalda Kaltim. mag
Hak Cipta © 1996 Harian Umum Republika.
Ditayangkan ulang oleh SEASite-NIU dengan seizin pemegang hak cipta.