![]()
Republika, 10 Feb 1998
Petambak Pantura Kesulitan Benur
CIREBON -- Seiring dengan tingginya harga udang windu di pasaran
yang mencapai Rp 75.000 - Rp 90.000/kg untuk size 30, (30 ekor per kg-red), kegairahan
petambak udang di daerah pantura Indramayu dan Cirebon kembali muncul. Namun
kegiarahan itu terhadang kendala kelangkaan benur (bibit udang windu),
kalaupun ada harganya tinggi.
Sejumlah petambak di Indramayu dan Cirebon kepada Republika Senin
(9/2) menyebutkan, kelangkaan benur terjadi sejak kegagalan panen akibat
musim kemarau beberapa bulan lalu. Para petambak ini tidak mau berspekulasi menanamkan
modalnya pada budidaya udang windu dengan kondisi iklim yang tidak stabil.
''Hampir lima bulan terakhir banyak petambak di sini terpaksa menganggurkan
lahannya. Daripada rugi puluhan juta lebih baik menunggu saat yang tepat untuk tanam,''
ungkap Zeni, petambak di Karangsong, Kabupaten Indramayu.
Akibat tidak tersedianya udang di pasaran selama lima bulan tadi,
harga udang windu untuk size 30 melonjak 300 persen. Harga semula untuk ukuran tadi
mencapai Rp 30.000/kg, tapi kini bisa mencapai Rp 75.000 bahkan Rp 90.000/kg-nya.
Kenyataan ini yang kemudian mendorong para petambak kembali melirik
untuk membudidayakannya. Persiapan lahan sudah mereka lakukan sejak satu bulan lalu. Namun
upaya untuk meraup uang ratusan juta rupiah tadi kini terhadang kendala
kelangkaan benur.
''Bisa dimaklumi, para petambak sekarang ini tengah berebutan
mendapatkan benur. Saya sudah mencari hingga ke Jateng tapi tak ada juga,'' ungkap
Mang Arya, petambak di Bondet, Kabupaten Cirebon.
Kelangkaan benur ini diakui salah seorang pengusaha pembibitan
di daerah Glayam, Kabupaten Indramayu. Menurut Herry, kelangkaan tadi diakibatkan jumlah pesanan
yang cukup tinggi dibanding dengan kemampuan menetaskan telor udang.
''Sekarang, tak bisa beli langsung dapat. Tapi harus antri dan
pesan terlebih dahulu beberapa minggu sebelumnya,'' tuturnya. Harry tidak menjelaskan
berapa banyak pembibitan yang dihasilkan perusahaannya.
Dikatakannya, setiap pemesan harus memberikan uang muka terlebih
dahulu bila hendak booking benur. ''Uang muka ini sebagai jaminan saja,'' ujarnya.
Dia mematok harga benur Rp 18/ekor. Harga itu pun, katanya sudah naik sekitar Rp
7/ekor dari harga bulan Januari lalu. ''Semua komponen untuk menghasilkan benur
saat ini naik.''
Karena kelangkaan benur udang tadi, banyak di antara petambak yang sudah menggarap
lahannya akhirnya mengalihkan jenis usahanya dengan menanam ikan bandeng. Harga
''nener'' (bibit ikan bandeng, red) di tingkat eceran pun turut mengalami kenaikan.
Menurut Kudus, petambak di Kalyan, Kabupaten Cirebon, harga nener
sebelumnya hanya Rp 60 - Rp 70/ekor. ''Tapi sekarang ini sudah naik menjadi Rp 75 - Rp 80
per ekor, itu pun harus saya beli di Losari, Jateng,'' ujar Kudus.
''Dari pada lahannya nganggur terus, kan lebih baik
ditanami ikan dulu,'' tandas Kudus yang menebar 2.000 ekor nener untuk lahan sekitar dua
hektar.
Sebenarnya para petambak yang tidak kebagian benur ini tak perlu
kecewa. Sebab, harga ikan bandeng di pasaran pun kini melonjak cukup tajam. Dari
harga Rp 3.000/kg, kini naik menjadi Rp 6.000/kg untuk ukuran dua ekor per kg-nya.
&127; yul
Hak Cipta © 1996 Harian Umum Republika.
Ditayangkan ulang oleh SEASite-NIU dengan seizin pemegang hak cipta.