wpe1.jpg (1625 bytes)

Republika, 10 Feb 1998

 

Petambak Pantura Kesulitan Benur

real.gif (626 bytes) CIREBON -- Seiring dengan tingginya harga udang windu di pasaran yang mencapai Rp 75.000 - Rp 90.000/kg untuk size 30, (30 ekor per kg-red), kegairahan petambak udang di daerah pantura Indramayu dan Cirebon kembali muncul. Namun kegiarahan itu terhadang kendala kelangkaan benur (bibit udang windu), kalaupun ada harganya tinggi.

real.gif (626 bytes) Sejumlah petambak di Indramayu dan Cirebon kepada Republika Senin (9/2) menyebutkan, kelangkaan benur terjadi sejak kegagalan panen akibat musim kemarau beberapa bulan lalu. Para petambak ini tidak mau berspekulasi menanamkan modalnya pada budidaya udang windu dengan kondisi iklim yang tidak stabil.

real.gif (626 bytes) ''Hampir lima bulan terakhir banyak petambak di sini terpaksa menganggurkan lahannya. Daripada rugi puluhan juta lebih baik menunggu saat yang tepat untuk tanam,'' ungkap Zeni, petambak di Karangsong, Kabupaten Indramayu.

real.gif (626 bytes) Akibat tidak tersedianya udang di pasaran selama lima bulan tadi, harga udang windu untuk size 30 melonjak 300 persen. Harga semula untuk ukuran tadi mencapai Rp 30.000/kg, tapi kini bisa mencapai Rp 75.000 bahkan Rp 90.000/kg-nya.

real.gif (626 bytes) Kenyataan ini yang kemudian mendorong para petambak kembali melirik untuk membudidayakannya. Persiapan lahan sudah mereka lakukan sejak satu bulan lalu. Namun upaya untuk meraup uang ratusan juta rupiah tadi kini terhadang kendala kelangkaan benur.

real.gif (626 bytes) ''Bisa dimaklumi, para petambak sekarang ini tengah berebutan mendapatkan benur. Saya sudah mencari hingga ke Jateng tapi tak ada juga,'' ungkap Mang Arya, petambak di Bondet, Kabupaten Cirebon.

real.gif (626 bytes) Kelangkaan benur ini diakui salah seorang pengusaha pembibitan di daerah Glayam, Kabupaten Indramayu. Menurut Herry, kelangkaan tadi diakibatkan jumlah pesanan yang cukup tinggi dibanding dengan kemampuan menetaskan telor udang.

real.gif (626 bytes) ''Sekarang, tak bisa beli langsung dapat. Tapi harus antri dan pesan terlebih dahulu beberapa minggu sebelumnya,'' tuturnya. Harry tidak menjelaskan berapa banyak pembibitan yang dihasilkan perusahaannya.

real.gif (626 bytes) Dikatakannya, setiap pemesan harus memberikan uang muka terlebih dahulu bila hendak booking benur. ''Uang muka ini sebagai jaminan saja,'' ujarnya. Dia mematok harga benur Rp 18/ekor. Harga itu pun, katanya sudah naik sekitar Rp 7/ekor dari harga bulan Januari lalu. ''Semua komponen untuk menghasilkan benur saat ini naik.''

real.gif (626 bytes) Karena kelangkaan benur udang tadi, banyak di antara petambak yang sudah menggarap lahannya akhirnya mengalihkan jenis usahanya dengan menanam ikan bandeng. Harga ''nener'' (bibit ikan bandeng, red) di tingkat eceran pun turut mengalami kenaikan.

real.gif (626 bytes) Menurut Kudus, petambak di Kalyan, Kabupaten Cirebon, harga nener sebelumnya hanya Rp 60 - Rp 70/ekor. ''Tapi sekarang ini sudah naik menjadi Rp 75 - Rp 80 per ekor, itu pun harus saya beli di Losari, Jateng,'' ujar Kudus.

real.gif (626 bytes) ''Dari pada lahannya nganggur terus, kan lebih baik ditanami ikan dulu,'' tandas Kudus yang menebar 2.000 ekor nener untuk lahan sekitar dua hektar.

real.gif (626 bytes) Sebenarnya para petambak yang tidak kebagian benur ini tak perlu kecewa. Sebab, harga ikan bandeng di pasaran pun kini melonjak cukup tajam. Dari harga Rp 3.000/kg, kini naik menjadi Rp 6.000/kg untuk ukuran dua ekor per kg-nya.
&127; yul

Hak Cipta 1996 Harian Umum Republika.
Ditayangkan ulang oleh SEASite-NIU dengan seizin pemegang hak cipta.