source: Republika, Senin, 19 Januari 1998
Sejak masuk hari ke-6 Ramadhan, acara buka puasa rutin di Masjid
Al-Markaz Al-Islami tidak hanya menyajikan kue-kue yang disumbangkan masyarakat
Ujungpandang. Tetapi, juga sudah menyiapkan seribu nasi bungkus yang juga
disumbangkan kalangan pengusaha dan donatur tetap Masjid Al-Markaz.
Sejak itu, Masjid Al-Markaz makin ramai dikunjungi. Bukan hanya kalangan yatim
piatu dan tukang-tukang becak yang berdomisili di sekitar Masjid
terbesar di KTI itu, tetapi juga kalangan mahasiswa dan pelajar, bahkan kadang
ada yang datang dari luar kota Ujungpandang.
Mereka pun datang lebih awal dari biasanya. Padahal, sebelum ada nasi
bungkus, masyarakat datang ke masjid dekat waktu berbuka. Setelah ada pembagian
nasi bungkus, mereka datang lebih awal. "Kalau datang terlambat hanya akan kebagian
kue dengan air minum kemasan atau kue dengan teh, karena nasi bungkus sudah habis
dibagi," ungkap HM Darwis, salah seorang panitia amaliah Ramadhan.
Nasi bungkus beserta teh tersebut, lanjut Darwis, mulai dibagi sekitar
pukul 16.30 WIT. Seribu nasi bungkus yang lengkap dengan menu ayam dan sebutir
telur itu akan habis dibagi dalam waktu setengah jam di pintu utara dan selatan lantai
dasar masjid. Dengan tertib, kaum muslimin antri menunggu giliran mengambil jatah
yang dibagi oleh 12 orang Al-Haris (semacam satpam, red). Yang sudah mendapat
bagian langsung masuk ke dalam ruang pertemuan dengan duduk bersila
berhadapan. Ruang bagian utara lantai dasar diisi oleh ikhwan (pria), sedang ruang
pertemuan bagian selatan diperuntukkan kaum akhwat (wanita). "Lantai 2
dan 3 masjid sama sekali dilarang ditempati untuk makan, tetapi hanya untuk shalat,"
ucap dosen Fisipol Unhas tersebut.
"Saya lebih senang pergi berbuka puasa di sini karena selain jaraknya
dekat dari rumah, juga tidak perlu lagi repot-repot mengeluarkan biaya untuk
berbuka puasa yang memenuhi standar gizi," kata Izhak Zainal, mahasiswa Fisipol
Unhas. Ia mengaku sebelumnya selalu ke Pantai Losari untuk berbuka dan minimal ia keluarkan
uang Rp 3.500 setiap kali berbuka.
"Karena kaum muslimin yang datang berbuka selalu membludak,
sekitar 2.000-an per hari, maka seribu nasi bungkus yang dibagi tersebut tidak pernah
cukup," kata Darwis. Karena itu, kalau ada donatur yang ingin menambah atau
menyumbangkan nasi bungkus, bisa menghubungi panitia melalui telepon (0411) 456921 atau
faks (0411) 456922.
Rejeki Anak Yatim
Selain menggelar buka puasa seribu nasi bungkus, hal menarik lain
yang ada di masjid terbesar Indonesia Timur ini adalah bursa buku dan penitipan
sepatu atau sandal. Di masjid yang luasnya 3,8 hektar ini, para penjual buku-buku
agama dan souvenir memang cukup banyak menggelar dagangannya. Di sela-sela
menunggu waktu berbuka dan tarawih, biasanya jamaah menyerbu bursa buku yang
ada di lantai bawah dekat ruang pertemuan.
"Selama Ramadhan pendapatan kami meningkat tajam. Dalam satu
minggu bisa diperoleh Rp 500.000, padahal di luar bulan puasa pendapatan tersebut
kadang diperoleh dalam sebulan," kata salah seorang pemilik outlet. "Itu pun
sudah dibagi kepada Badan Pengurus Yayasan Masjid Al-Markaz sebesar 40 persen, jadi Rp 500
ribu itu merupakan pendapatan bersih," tambahnya.
Lain halnya dengan penitipan sepatu atau sandal. Karena banyaknya jamaah
yang mencapai ribuan, maka tempat penitipan pun mencapai empat buah. Uniknya, tempat itu
buka 24 jam dan yang bertugas adalah anak-anak yatim piatu dari Panti Asuhan Anak
Saleh dan GUPPI. Jumlah mereka sekitar 30 orang yang dibagi dalam enam kelompok. Secara bergantian
mereka menjaga alas kaki jamaah selama 24 jam. Hasil yang mereka peroleh tiap hari
kemudian dibagi rata ke-30 yatim piatu itu. "Rata-rata pendapatan mereka Rp
200 ribu per hari, hasil bersih itulah yang mereka bagi rata," jelas Ketua
Umum Panitia Bulan Ramadhan Drs H Faisal Attamimi MS. "Padahal kalau di luar bulan
Ramadhan, jumlah tersebut bisanya mereka peroleh selama sepekan," tambahnya.
Dari hasil menjual jasa penitipan sandal tersebut, Andri (12) dari Panti
Asuhan Anak Saleh bisa menabung Rp 5.000 per hari. "Pendapatan saya dari
penitipan sandal jamaah ini lebih banyak daripada pergi mengemis atau mengedarkan
formulir dari rumah ke rumah," aku anak yang ditinggal kedua orang tuanya sejak ia
berumur lima tahun. Selain itu, Andri juga jauh merasa lebih puas dengan cara kerja
seperti itu karena ia merasa bermanfaat bagi orang lain. &127; amb
Hak Cipta © 1996 Harian Umum Republika.
Ditayangkan ulang oleh SEASite-NIU dengan seizin pemegang hak cipta.
E-mail Quiz (Java powered) :