Sabtu, 7 Februari 1998
|
| Kompas/msh |
1) ENTAH karena suasana
setelah Lebaran, awal bulan, atau soal distribusi barang yang kurang beres,
persediaan barang di beberapa pasar swalayan sampai Jumat (6/2) kemarin, masih
sangat terbatas. Di Pasar Swalayan Tip Top Rawamangun- Jakarta Timur, Golden Truly- Blok
M, dan Golden Truly Fatmawati- Jakarta Selatan terlihat beberapa rak masih kosong, tanpa
barang.
2) Di Tip Top bahkan masih terpampang
pengumuman untuk membatasi pembelian minyak goreng sebanyak dua botol per orang, meski di
rak-raknya tidak terlihat sebotol pun minyak yang tersisa. Di Golden Truly terpampang
pengumuman di rak susu, pembelian dibatasi maksimal empat kaleng.
3) Di ketiga pasar swalayan
itu, hampir semua persediaan barang menipis. "Di sini persediaan masih lumayan, coba
lihat Golden Truly lainnya, persediaan sangat kurang," kata Ranny Mahadi dari Bagian Humas
Golden Truly pusat yang kebetulan sedang mencek persediaan barang di Golden Truly
Blok M. Sedangkan Sutikno, salah seorang petugas pencatat persediaan barang di Golden
Truly mengatakan, kini persediaan barang maksimal tinggal 50 persen dari biasanya.
4) Agar terkesan
persediaan barang masih cukup, petugas swalayan umumnya mengatur barangnya sedemikian
rupa, berjejer rapat di bagian depan rak. Jika diamati, di bagian belakang rak itu
kosong.
5) Barang-barang yang
persediaannya sangat terbatas, bahkan untuk beberapa merk tidak tersedia, bukan hanya
kebutuhan pangan -termasuk bumbu-bumbu- tetapi juga untuk keperluan mandi, mencuci,
pembersih lantai, obat nyamuk, parfum, kapas, sampai ke pakan untuk hewan
piaraan.
6) ADA beberapa faktor yang
mungkin menyebabkan persediaan barang di pasar swalayan sehabis Lebaran ini menipis.
Pertama, suasana setelah Lebaran, di mana aktivitas kantor dan perusahaan belum pulih
benar. Banyak pabrik dan perusahaan distributor yang masih meliburkan karyawannya,
sehingga pasokan barang terhambat.
7) "Umumnya para
distributor baru akan memasok barang setelah tanggal sembilan," lanjut Sutikno.
Sehingga, Iroh, pembantu rumahtangga yang bekerja pada orang "bule"
kebingungan mau masak apa sore kemarin. "Nyari ayam nggak
ada, merica juga nggak ada. Bingung saya," katanya.
8) Kemungkinan kedua adalah
keadaan normal awal bulan di mana kebanyakan masyarakat berbelanja untuk kebutuhan rumah
tangga selama sebulan ke depan. Pola belanja bulanan, sudah menjadi bagian gaya hidup
kelas menengah Jakarta. Sehingga, setiap awal bulan terjadi lonjakan permintaan
berbagai barang kebutuhan sehari-hari yang tahan disimpan.
9) Pola belanja awal Februari
ini terjadi bertepatan dengan belum aktifnya kegiatan ekonomi di jaringan distribusi.
Maka, persediaan barang yang umumnya dipasok terakhir, dua sampai tiga hari menjelang
Lebaran, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan awal bulan.
10) Kemungkinan ketiga, adalah
tidak beresnya salah satu saluran distribusi. Tanpa bermaksud mencari siapa yang
salah, kemungkinan terjadinya ketidakberesan distribusi itu bisa terjadi di gudang pabrik,
gudang distributor, agen, atau gudang pasar swalayan sendiri. Sebab, kalau sekarang ini
ditanyakan kepada para pengelola pasar swalayan, umumnya mereka menyalahkan pihak
distributor atau pabrik yang sengaja menahan barang, karena mengharapkan adanya
keputusan kenaikan harga dalam waktu dekat.
11) Indikasi ke arah itu
setidaknya dirasakan Sutikno dan Mahadi dari Golden Truly. "Setelah Lebaran ini, ada
yang sudah kirim barang, tetapi pengirimannya tersendat-sendat," katanya. Sedangkan
Eddy, seorang suplier untuk barang-barang bukan makanan di Tip Top mengaku pihaknya
kesulitan memperoleh barang dari pabrik atau distributor.
12) Bahkan, sebelumnya
Presiden Direktur perusahaan perkulakan Goro menyatakan, pihaknya sulit untuk tetap
menahan kenaikan harga, 10 hari sesudah Lebaran (Kompas, 4 Februari 1998).
13) MASYARAKAT awam pun
ternyata sudah menangkap indikasi-indikasi yang mengarah kepada kenaikan harga. Kalau
sudah demikian, masyarakat cenderung membeli berbagai kebutuhan itu dalam jumlah yang
melebihi kebutuhan rutin.
14) Selasa (3/2) malam lalu,
seorang SPG (sales promotion girl) di Tip Top kewalahan menghadapi ibu-ibu
yang berebut mengambil minyak goreng yang baru saja dikeluarkan dari dos-dos.
Akhirnya, ia hanya membuka dos dan pembeli mengambil sendiri. Karena dibatasi hanya dua
botol per orang, tidak sedikit pembeli yang meminta teman atau anaknya membawa dan
membayar sendiri sebelum keluar.
15) Saking takutnya pada
kenaikan harga yang diperkirakan tidak lama lagi, Selasa lalu seorang ibu sampai membeli bohlam
listrik 15 watt sebanyak enam biji. "Untuk persediaan dua bulan," katanya.
Supaya menghemat listrik yang kabarnya juga akan naik. (msh)