NOTE: FRAMES CAN BE RESIZED BY MOVING THE EDGES |
Courtesy of Kompas Online
Jumat, 23 Januari 1998
|
| Kompas/nar |
1)SETELAH dua
kali unjuk rasa soal lonjakan harga bahan pokok, aksi keprihatinan
sejumlah mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Kamis (22/1) pagi, memasuki trend
baru yang lebih membumi. Teriakan dan yel-yel "turunkan harga"
terwujudkan dalam aksi nyata berupa pasar murah yang oleh mereka disebut
pasar rakyat. Poster dan spanduk-spanduk tidak lagi dibentang dengan kepalan
tangan dan urat leher yang menegang. Poster-poster tersebut berjajar rapi
sepanjang gerbang masuk kampus ITB Jalan Tamansari. Beberapa di antaranya berbunyi, "Kembali
ke Rakyat, Gerakan Cinta Rakyat" dan "Mari Sambut Lebaran dengan Pesta
Rakyat".
2)Sementara itu, lapangan
basket yang terletak di sisi barat jalan masuk kampus sejak pukul 07.00 dipenuhi antrean
panjang ibu-ibu rumah tangga. Mereka tidak hanya berasal dari warga Kelurahan
Tamansari dan sekitar kampus ITB, tetapi juga dari kawasan Dago Atas dan Maribaya.
Dengan sabar, ibu-ibu rumah tangga membentuk barisan berbanjar di depan tiga meja
yang diatapi tenda plastik. Beberapa di antaranya menggendong anaknya seraya
ngerumpi dengan orang-orang yang juga berbaris di sisi kiri dan kanan.
3)Wajah mereka berseri-seri
ketika mobil pengangkut bahan pokok pasokan Dolog tiba di lapangan
basket. Dengan cekatan, aktivis mahasiswa-mahasiswi ITB bahu-membahu
mengatur kemasan beras, gula, dan terigu di belakang meja. Ibu-ibu rumah tangga
akhirnya mulai terlayani satu per satu setelah Kepala Dolog Jabar Andi
Chairuddin mempersilakan mahasiswa.
4)Dalam tempo dua jam,
sedikitnya tiga ton beras, satu ton gula pasir, dan dua ton terigu terbeli oleh ibu-ibu
rumah tangga dengan harga sedikit miring dibanding harga di pasaran umum. Beras
medium yang sudah disosoh jadi bersih dihargai Rp 1.500 per kg, lebih murah Rp 200
dari harga pasaran umum. Gula pasir dijual seharga Rp 1.500 per kg, jauh lebih murah
dibanding gula pasir yang dijual di kedai-kedai dan pasar seharga Rp 2.000-2.200.
Sedangkan terigu dijual Rp 900 per kg, lebih enteng Rp 300 dibanding harga umum.
5)Begitu pasokan menipis,
sejumlah aktivis segera melarikan jip bak terbukanya ke gudang Dolog di
Jalan Soekarno Hatta. Sementara sejumlah mahasiswi menenangkan dan menyabarkan
ibu-ibu yang bermandi peluh tersengat sinar Matahari. Sekitar 1,5 jam
kemudian, datang lagi pasokan dari Dolog. Rencananya, pasar tersebut dibuka Kamis-Jumat.
Tetapi, jika masih banyak permintaan, bukan tidak mungkin dibuka terus hingga lima hari
menjelang Lebaran.
6)"Ini yang kami
tunggu-tunggu. Kami sudah bosan dengan pernyataan dan slogan soal jaminan tersedianya
barang-barang. Tapi, nyatanya, harga terus membubung," ujar Ny Dedeh (45)
warga Maribaya yang juga ikut antre.
7)GAGASAN menggelar
pasar rakyat di kampus mulai mencuat di kalangan aktivis Kongres Mahasiswa ITB
(KM-ITB) ketika aksi unjuk rasa dan aksi turun ke jalan pekan lalu, dirasakan tidak
begitu mempan meredam gejolak harga sembilan bahan pokok (sembako) di
pasaran umum. Mendengar adanya kesediaan Dolog Jabar menyalurkan beras, gula dan
terigu, lewat pasar murah kepada instansi-instansi dan organisasi sosial, maka terbesitlah
keinginan menggelar pasar rakyat di kampus.
8)Di luar dugaan, hasrat
mahasiswa ITB mendapat "lampu hijau" dari pihak Dolog. Sebelumnya, mahasiswa
ragu keinginannya terpenuhi, mengingat lembaga-lembaga yang telah mengajukan permohonan
rata-rata dari Dharma Wanita, dan yayasan yang nota bene punya dana awal untuk menalangi
harga tebusan dari Dolog. Kepala Dolog Jabar Andi Chairuddin ternyata tidak kaku dan terpaku
pada aturan prosedural. Ia tidak hanya bersedia memberikan gratisan terlebih dulu
kepada mahasiswa, bahkan tenda selebar separuh dari lapangan basket pun ia siapkan.
9)"Saya percaya akan
kejujuran dan idealisme adik-adik. Tidak masalah, saya juga pernah jadi mahasiswa seperti
kalian," kata Chaeruddin seraya menyatakan siap memasok bahan berapa pun
permintaan mahasiswa.
10)Hanya dalam tempo dua hari, mahasiswa sudah
menyusun dan melaksanakan strategi promosi yang terbilang jitu. Mereka mengedarkan
selebaran di kawasan permukiman kumuh di sekitar Tamansari dan Cipaganti. Selain
itu, informasi pasar murah disiarkan lewat radio frekuensi AM. "Kami sengaja memilih
radio AM, karena sasaran pendengarnya adalah masyarakat kelas menengah ke bawah,"
kata Yan Ardiansyah Achmad, Koordinator KM-ITB.
11)Untuk mengimbangi dana talangan dari
Dolog, KM-ITB menggunakan saham yang dihimpun dari lebih dari 20 himpunan
jurusan serta para donatur yang jumlahnya tidak sampai Rp 3 juta.
12)Sama dengan pihak Dolog, mahasiswa pun
berasumsi, dengan pasar murah, paling tidak jumlah orang ke pasar-pasar umum bisa diminimalisir,
harga bisa ditekan. Sedangkan bagi Dolog sendiri, kegiatan pasar murah secara tidak
langsung menyukseskan operasi pasar. Sebuah simbiosis mutualisme, antara mahasiswa,
masyarakat, dan instansi pemerintah. (nar)
Catatan Hak Cipta: Artikel ini ditayangkan ulang oleh SEASite-NIU dengan seizin Kompas Online.
TO TAKE AN E-MAIL QUIZ ON THIS READING, GO Back AND CHOOSE "PASAR RAKYAT... 2" |