back to Wawancara dengan Rahwana
click here for the word frequency
Wawancara dengan Rahwana
Experimental Concordance Program
The text:
---60---Wawancara dengan Rahwana oleh: Yudistira ANM Massardi Sesaat sebelum
Anoman menyungsepkan kepalanya ke dasar bumi, Rahwana sempat menghujat: “Jasadku
boleh jadi lenyap sesudah ini, tetapi jisimku akan tetap hidup. Menyusup ke
dalam jiwa setiap manusia. Sepanjang abad…” Bumi yang menghimpitnya, kemudian
menelan dan melumatnya. Langit menggelegar. Lalu kelam. Dari rekahan tempat
tokoh tragis penguasa Alengka itu terbenam, menghambur jutaan gelembung hitam
yang serentak menyebar ke seluruh jagad. Sanjaya –wartawan perang pertama di
dunia yang menjadi penyiar pandangan mata pertempuran besar Keluarga Bharata di
Kurusetra dan sempat juga menyaksikan kematian bandit besar tadi –segera
menguber. Ia minta tolong pada Anoman untuk dibenamkan ke dalam bumi, menuju
akhirat, mengikuti arwah Rahwana. Berikut ini petikan wawancara Sanjaya dengan
biang segala kejahatan itu. Sanjaya (S): “Setujukah anda dengan cara dan
kematian yang barusan anda alami?” Rahwana (R): “Kematian atau pun kehidupan,
bukanlah hal yang perlu disetujui atau tak disetujui. Keduanya adalah hal yang
amat sederhana, sehingga tak perlu dipersoalkan benar. Sedangkan ‘cara’ begitu
pentingkah hal itu? Manusia memang punya bermacam-macam kebiasaan buruk.
Sebagaimana halnya anda, mereka selalu bernapsu untuk mempertanyakan bagaimana
cara seseorang mati dan bagaimana cara seseorang hidup. Itu adalah pertanyaan
tragis yang hanya dimaksud untuk kepentingan dramatik dari lakon yang dimainkan.
Cara kematian saya yang anda tadi saksikan, memang dramatis. Bagaimana seseorang
yang sangat berkuasa, sakti mandraguna dan kaya-raya, menemui ajal secara begitu
nista dan tanpa daya. Itulah ketentuan yang sudah digariskan. Tapi anda harus
yakin. Saya tidaklah mati dalam pengertian yang biasa. Sebab pada dasarnya saya
tetap hidup. Kematian saya adalah sarana bagi kehidupan langgeng jisim saya di
dunia. Kehancuran jasad saya adalah untuk keperkasaan jisim saya. Anda bisa
buktikan nanti, sesudah peristiwa ini maka dunia akan dipenuhi
gelembung-gelembung…anda melihatnya tadi? (Sanjaya mengangguk). Itulah bentuk
kekuasaan saya yang baru. Suatu kejahatan yang tangguh. Nah, haruskah saya
memprotes cara dan kematian saya? Tidak bukan? (Sanjaya menggangguk lagi). Dan
cara hidup saya selama jadi penguasa Alengka, apakah akan anda ungkapkan secara
menyolok untuk kepentingan dramatik tadi? Oya, mau disiarkan di mana wawancara
ini? Ah, tidak, tidak. Disiarkan atau tidak, tak penting bagi saya. Tapi cara
hidup saya, cara saya mengendalikan kekuasaan, cara saya memanjakan
saudara-saudara dan sanak keluarga saya, agaknya memang penting diungkapkan
dalam laporan anda nanti. Tulislah apa pandangan anda tentang semua itu.
Bongkarlah apa yang selama ini anda anggap sebagai skandal. Ganyanglah semuanya
kalau memang cukup dramatis untuk diganyang. Saya tidak akan sedih. Sebab saya
akan berada di dalam jiwa semua pengganyangnya. Saya akan berada dalam darah
setiap orang yang ingin mengangkangi sisa kekuasaan serta harta benda saya.
Tugas jisim sayalah untuk menggebrakkan semua itu. S: “Bisakah anda gambarkan
secara konkrit besarnya kekuasaan itu?” R: “Sebesar kosmos.” S: “Apakah anda
menguasai setiap manusia?” R: “Setiap manusia memiliki naluri kejahatan.” S:
“Apakah keuntungan anda dengan kekuasaan semacam itu?” R: “Selalu saja begitu.
Setiap orang selalu berpikir mengenai keuntungan dan kerugian. Apa sih
pentingnya kedua hal itu? Dan anda tentu tahu, saya bukan pedagang. Betapa pun
durjananya, kasta saya adalah kesatria. Kesatria tidak pernah berpikir seperti
pedagang. Keuntungan atau kerugian tak ada artinya. Yang penting bagi saya
adalah konsistensi terhadap cita-cita perjuangan. Saya harus memelihara
kefatalan dan kehancuran martabat manusia. Tugas dan kewajiban sayalah membangun
keangkaramurkaan di muka bumi ini.” S: “Apakah tugas anda itu membuat anda pedih?”
R: “Aaah! Bagaimana sih, anda ini? Kesedihan, kegembiraan dan segala macam bunyi
perasaan semacam itu, sebagaimana keuntungan dan kerugian, tak ada artinya bagi
saya. Kesatria tidak secengeng itu. Seorang kesatria yang menggenggam suatu
kekuasaan besar, tak boleh menjadi melankolis. Ia harus tegas mengemban tugasnya.
Sentimentalitas semacam itu hanya milik para budak. Para Sudra. Sebab sekali
seorang kesatria membiarkan dirinya terhanyut oleh perasaan, ia akan guyah.
Kekuasaan akan luput dari tangannya. Sesudah itu adalah keruntuhan. Paham?
Seorang kesatria pantang kehilangan apa yang sudah menjadi miliknya. Milik itu
harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Tak ada kompromi.” S: “Juga
seandainya orang yang berada di bawah kekuasaan anda sengsara?” R: “Kesengsaraan
dan penderitaan para kawula adalah bagian terpenting dari kekuasaan mutlak.
Tanpa ada kesengsaraan, tidaklah ada artinya sebuah kekuasaan. Tanpa penderitaan
orang banyak bahkan tak mungkin sebuah kekuasaan bisa hadir dan kukuh.” S:
“Kalau ada kritik mengatakan bahwa anda tak mau mendengar atau memperhatikan
keluhan para kawula...?” R: “Kritik? Itu adalah bagian terindah dari kukuhnya
sebuah kekuasaan. Kritik penting dari segi dramatik. Rintihan dan keluhan para
kawula adalah tembang lirih bagi impian sepanjang malam.” S: “Anda betul-betul
sadis.” R: “Seorang penguasa yang baik harus sadis. Dan kekuasaan yang ada dalam
genggaman saya adalah sadisme. Karena itu dibutuhkan banyak kurban. Sebagai
tumbal. Juga sebagai syarat bagi kelanggengan kekuasaan itu.” S: “Apakah anda
juga menguasai para penguasa di dunia ini?” R: “Kenapa tidak? Setiap penguasa,
setiap kekuasaan yang ada di dunia, adalah instrumen yang mengumandangkan
nyanyian setiap gelembung hitam yang menghambur dari tempat jasad saya tadi
nyungsep.” S: “Apa komitmen anda dengan para penguasa itu?” R: “He? Itu rahasia….”
S: “Baiklah. Anda nanti akan memilih surga atau neraka?” R: “Busyet. Kenapa anda
tanyakan itu? Tentu saja saya akan memilih neraka. Saya sarankan, kalau anda
mati nanti, lebih baik masuk neraka saja. Di sana banyak masalah yang perlu anda
dalami. Saya kira sebuah reportase dari neraka akan jauh lebih menarik. Sebab,
sebagaimana tadi saya bilang, manusia kan lebih menyukai hal-hal dramatik? Surga
terlalu tenang. Terlalu damai, sehingga tak ada masalah lagi. Tapi di neraka,
setiap saat terjadi hiruk-pikuk dan bermacam penderitaan kumpul jadi satu di
sana. Anda bisa wawancarai mereka. Segala kepedihan dan penyesalan yang mereka
kemukakan tentu sangat baik untuk dijadikan peringatan bagi yang masih hidup,
bukan? Untuk itu, tentu anda akan memperoleh pahala. Juga di tempat itu, anda
bisa bertemu dengan semua penguasa dunia yang menghamba pada keserakahan.” S:
“Pertanyaan terakhir. Apa pendapat anda tentang Dewi Sinta, istri Sri Rama yang
pernah anda culik itu?” R: “O, very good! Very good!” S: “Terima kasih.” (Berikutnya,
wawancara Semar dengan Marilyn Monroe) Jakarta, Mei 1980.
re- text |
WORD |
post- text |
% |
| sederhana, sehingga tak perlu dipersoalkan benar. Sedangkan | ‘cara’ | begitu pentingkah hal itu? Manusia memang punya bermacam-mac | 17 % |
| bumi ini.” S: “Apakah tugas anda itu membuat anda pedih?” R: | “aaah! | Bagaimana sih, anda ini? Kesedihan, kegembiraan dan segala m | 57 % |
| kawula adalah tembang lirih bagi impian sepanjang malam.” S: | “anda | betul-betul sadis.” R: “Seorang penguasa yang baik harus sad | 76 % |
| am yang menghambur dari tempat jasad saya tadi nyungsep.” S: | “apa | komitmen anda dengan para penguasa itu?” R: “He? Itu rahasia | 83 % |
| ara konkrit besarnya kekuasaan itu?” R: “Sebesar kosmos.” S: | “apakah | anda menguasai setiap manusia?” R: “Setiap manusia memiliki | 46 % |
| manusia?” R: “Setiap manusia memiliki naluri kejahatan.” S: | “apakah | keuntungan anda dengan kekuasaan semacam itu?” R: “Selalu sa | 47 % |
| ban sayalah membangun keangkaramurkaan di muka bumi ini.” S: | “apakah | tugas anda itu membuat anda pedih?” R: “Aaah! Bagaimana sih, | 56 % |
| al. Juga sebagai syarat bagi kelanggengan kekuasaan itu.” S: | “apakah | anda juga menguasai para penguasa di dunia ini?” R: “Kenapa | 79 % |
| saya. Tugas jisim sayalah untuk menggebrakkan semua itu. S: | “bisakah | anda gambarkan secara konkrit besarnya kekuasaan itu?” R: “S | 45 % |
| ungsepkan kepalanya ke dasar bumi, Rahwana sempat menghujat: | “jasadku | boleh jadi lenyap sesudah ini, tetapi jisimku akan tetap hid | 2 % |
| hankan sampai titik darah penghabisan. Tak ada kompromi.” S: | “juga | seandainya orang yang berada di bawah kekuasaan anda sengsar | 67 % |
| ahkan tak mungkin sebuah kekuasaan bisa hadir dan kukuh.” S: | “kalau | ada kritik mengatakan bahwa anda tak mau mendengar atau memp | 71 % |
| gan cara dan kematian yang barusan anda alami?” Rahwana (R): | “kematian | atau pun kehidupan, bukanlah hal yang perlu disetujui atau t | 14 % |
| “Apakah anda juga menguasai para penguasa di dunia ini?” R: | “kenapa | tidak? Setiap penguasa, setiap kekuasaan yang ada di dunia, | 80 % |
| inya orang yang berada di bawah kekuasaan anda sengsara?” R: | “kesengsaraan | dan penderitaan para kawula adalah bagian terpenting dari ke | 68 % |
| an semua penguasa dunia yang menghamba pada keserakahan.” S: | “pertanyaan | terakhir. Apa pendapat anda tentang Dewi Sinta, istri Sri Ra | 97 % |
| ah anda gambarkan secara konkrit besarnya kekuasaan itu?” R: | “sebesar | kosmos.” S: “Apakah anda menguasai setiap manusia?” R: “Seti | 46 % |
| S: “Apakah keuntungan anda dengan kekuasaan semacam itu?” R: | “selalu | saja begitu. Setiap orang selalu berpikir mengenai keuntunga | 48 % |
| agi impian sepanjang malam.” S: “Anda betul-betul sadis.” R: | “seorang | penguasa yang baik harus sadis. Dan kekuasaan yang ada dalam | 76 % |
| besar kosmos.” S: “Apakah anda menguasai setiap manusia?” R: | “setiap | manusia memiliki naluri kejahatan.” S: “Apakah keuntungan an | 47 % |
| cara Sanjaya dengan biang segala kejahatan itu. Sanjaya (S): | “setujukah | anda dengan cara dan kematian yang barusan anda alami?” Rahw | 13 % |
| ang pernah anda culik itu?” R: “O, very good! Very good!” S: | “terima | kasih.” (Berikutnya, wawancara Semar dengan Marilyn Monroe) Jakarta, Mei 1980 | 99 % |
| kutnya, wawancara Semar dengan Marilyn Monroe) Jakarta, Mei | 1980 | 100 % | |
| etap hidup. Menyusup ke dalam jiwa setiap manusia. Sepanjang | abad…” | Bumi yang menghimpitnya, kemudian menelan dan melumatnya. La | 4 % |
| rnah berpikir seperti pedagang. Keuntungan atau kerugian tak | ada | artinya. Yang penting bagi saya adalah konsistensi terhadap | 52 % |
| rasaan semacam itu, sebagaimana keuntungan dan kerugian, tak | ada | artinya bagi saya. Kesatria tidak secengeng itu. Seorang kes | 59 % |
| itu harus dipertahankan sampai titik darah penghabisan. Tak | ada | kompromi.” S: “Juga seandainya orang yang berada di bawah ke | 66 % |
| kawula adalah bagian terpenting dari kekuasaan mutlak. Tanpa | ada | kesengsaraan, tidaklah ada artinya sebuah kekuasaan. Tanpa p | 69 % |
| ting dari kekuasaan mutlak. Tanpa ada kesengsaraan, tidaklah | ada | artinya sebuah kekuasaan. Tanpa penderitaan orang banyak bah | 70 % |
| ak mungkin sebuah kekuasaan bisa hadir dan kukuh.” S: “Kalau | ada | kritik mengatakan bahwa anda tak mau mendengar atau memperha | 72 % |
| “Seorang penguasa yang baik harus sadis. Dan kekuasaan yang | ada | dalam genggaman saya adalah sadisme. Karena itu dibutuhkan b | 77 % |
| i?” R: “Kenapa tidak? Setiap penguasa, setiap kekuasaan yang | ada | di dunia, adalah instrumen yang mengumandangkan nyanyian set | 81 % |
| dramatik? Surga terlalu tenang. Terlalu damai, sehingga tak | ada | masalah lagi. Tapi di neraka, setiap saat terjadi hiruk-piku | 91 % |
| kanlah hal yang perlu disetujui atau tak disetujui. Keduanya | adalah | hal yang amat sederhana, sehingga tak perlu dipersoalkan ben | 16 % |
| cara seseorang mati dan bagaimana cara seseorang hidup. Itu | adalah | pertanyaan tragis yang hanya dimaksud untuk kepentingan dram | 20 % |
| g biasa. Sebab pada dasarnya saya tetap hidup. Kematian saya | adalah | sarana bagi kehidupan langgeng jisim saya di dunia. Kehancur | 27 % |
| ehidupan langgeng jisim saya di dunia. Kehancuran jasad saya | adalah | untuk keperkasaan jisim saya. Anda bisa buktikan nanti, sesu | 28 % |
| tahu, saya bukan pedagang. Betapa pun durjananya, kasta saya | adalah | kesatria. Kesatria tidak pernah berpikir seperti pedagang. K | 51 % |
| tungan atau kerugian tak ada artinya. Yang penting bagi saya | adalah | konsistensi terhadap cita-cita perjuangan. Saya harus memeli | 53 % |
| akan guyah. Kekuasaan akan luput dari tangannya. Sesudah itu | adalah | keruntuhan. Paham? Seorang kesatria pantang kehilangan apa y | 64 % |
| anda sengsara?” R: “Kesengsaraan dan penderitaan para kawula | adalah | bagian terpenting dari kekuasaan mutlak. Tanpa ada kesengsar | 68 % |
| gar atau memperhatikan keluhan para kawula?” R: “Kritik? Itu | adalah | bagian terindah dari kukuhnya sebuah kekuasaan. Kritik penti | 73 % |
| penting dari segi dramatik. Rintihan dan keluhan para kawula | adalah | tembang lirih bagi impian sepanjang malam.” S: “Anda betul-b | 75 % |
| aik harus sadis. Dan kekuasaan yang ada dalam genggaman saya | adalah | sadisme. Karena itu dibutuhkan banyak kurban. Sebagai tumbal | 77 % |
| tidak? Setiap penguasa, setiap kekuasaan yang ada di dunia, | adalah | instrumen yang mengumandangkan nyanyian setiap gelembung hit | 81 % |
| ara saya memanjakan saudara-saudara dan sanak keluarga saya, | agaknya | memang penting diungkapkan dalam laporan anda nanti. Tulisla | 38 % |
| ang sangat berkuasa, sakti mandraguna dan kaya-raya, menemui | ajal | secara begitu nista dan tanpa daya. Itulah ketentuan yang su | 24 % |
| ujat: “Jasadku boleh jadi lenyap sesudah ini, tetapi jisimku | akan | tetap hidup. Menyusup ke dalam jiwa setiap manusia. Sepanjan | 3 % |
| . Anda bisa buktikan nanti, sesudah peristiwa ini maka dunia | akan | dipenuhi gelembung-gelembung…anda melihatnya tadi? (Sanjaya | 29 % |
| i). Dan cara hidup saya selama jadi penguasa Alengka, apakah | akan | anda ungkapkan secara menyolok untuk kepentingan dramatik ta | 34 % |
| anya kalau memang cukup dramatis untuk diganyang. Saya tidak | akan | sedih. Sebab saya akan berada di dalam jiwa semua pengganyan | 41 % |
| dramatis untuk diganyang. Saya tidak akan sedih. Sebab saya | akan | berada di dalam jiwa semua pengganyangnya. Saya akan berada | 42 % |
| ab saya akan berada di dalam jiwa semua pengganyangnya. Saya | akan | berada dalam darah setiap orang yang ingin mengangkangi sisa | 43 % |
| rang kesatria membiarkan dirinya terhanyut oleh perasaan, ia | akan | guyah. Kekuasaan akan luput dari tangannya. Sesudah itu adal | 63 % |
| an dirinya terhanyut oleh perasaan, ia akan guyah. Kekuasaan | akan | luput dari tangannya. Sesudah itu adalah keruntuhan. Paham? | 64 % |
| enguasa itu?” R: “He? Itu rahasia….” S: “Baiklah. Anda nanti | akan | memilih surga atau neraka?” R: “Busyet. Kenapa anda tanyakan | 84 % |
| raka?” R: “Busyet. Kenapa anda tanyakan itu? Tentu saja saya | akan | memilih neraka. Saya sarankan, kalau anda mati nanti, lebih | 86 % |
| ng perlu anda dalami. Saya kira sebuah reportase dari neraka | akan | jauh lebih menarik. Sebab, sebagaimana tadi saya bilang, man | 88 % |
| ringatan bagi yang masih hidup, bukan? Untuk itu, tentu anda | akan | memperoleh pahala. Juga di tempat itu, anda bisa bertemu den | 95 % |
| legar. Lalu kelam. Dari rekahan tempat tokoh tragis penguasa | alengka | itu terbenam, menghambur jutaan gelembung hitam yang serenta | 6 % |
| perlu disetujui atau tak disetujui. Keduanya adalah hal yang | amat | sederhana, sehingga tak perlu dipersoalkan benar. Sedangkan | 16 % |
| a dengan biang segala kejahatan itu. Sanjaya (S): “Setujukah | anda | dengan cara dan kematian yang barusan anda alami?” Rahwana ( | 13 % |
| a (S): “Setujukah anda dengan cara dan kematian yang barusan | anda | alami?” Rahwana (R): “Kematian atau pun kehidupan, bukanlah | 14 % |
| dramatik dari lakon yang dimainkan. Cara kematian saya yang | anda | tadi saksikan, memang dramatis. Bagaimana seseorang yang san | 22 % |
| dan tanpa daya. Itulah ketentuan yang sudah digariskan. Tapi | anda | harus yakin. Saya tidaklah mati dalam pengertian yang biasa. | 25 % |
| . Kehancuran jasad saya adalah untuk keperkasaan jisim saya. | anda | bisa buktikan nanti, sesudah peristiwa ini maka dunia akan d | 28 % |
| an cara hidup saya selama jadi penguasa Alengka, apakah akan | anda | ungkapkan secara menyolok untuk kepentingan dramatik tadi? O | 34 % |
| uarga saya, agaknya memang penting diungkapkan dalam laporan | anda | nanti. Tulislah apa pandangan anda tentang semua itu. Bongka | 39 % |
| diungkapkan dalam laporan anda nanti. Tulislah apa pandangan | anda | tentang semua itu. Bongkarlah apa yang selama ini anda angga | 39 % |
| angan anda tentang semua itu. Bongkarlah apa yang selama ini | anda | anggap sebagai skandal. Ganyanglah semuanya kalau memang cuk | 40 % |
| gas jisim sayalah untuk menggebrakkan semua itu. S: “Bisakah | anda | gambarkan secara konkrit besarnya kekuasaan itu?” R: “Sebesa | 45 % |
| rit besarnya kekuasaan itu?” R: “Sebesar kosmos.” S: “Apakah | anda | menguasai setiap manusia?” R: “Setiap manusia memiliki nalur | 46 % |
| ap manusia memiliki naluri kejahatan.” S: “Apakah keuntungan | anda | dengan kekuasaan semacam itu?” R: “Selalu saja begitu. Setia | 48 % |
| untungan dan kerugian. Apa sih pentingnya kedua hal itu? Dan | anda | tentu tahu, saya bukan pedagang. Betapa pun durjananya, kast | 50 % |
| mbangun keangkaramurkaan di muka bumi ini.” S: “Apakah tugas | anda | itu membuat anda pedih?” R: “Aaah! Bagaimana sih, anda ini? | 56 % |
| murkaan di muka bumi ini.” S: “Apakah tugas anda itu membuat | anda | pedih?” R: “Aaah! Bagaimana sih, anda ini? Kesedihan, kegemb | 56 % |
| tugas anda itu membuat anda pedih?” R: “Aaah! Bagaimana sih, | anda | ini? Kesedihan, kegembiraan dan segala macam bunyi perasaan | 57 % |
| i.” S: “Juga seandainya orang yang berada di bawah kekuasaan | anda | sengsara?” R: “Kesengsaraan dan penderitaan para kawula adal | 68 % |
| bisa hadir dan kukuh.” S: “Kalau ada kritik mengatakan bahwa | anda | tak mau mendengar atau memperhatikan keluhan para kawula?” R | 72 % |
| sebagai syarat bagi kelanggengan kekuasaan itu.” S: “Apakah | anda | juga menguasai para penguasa di dunia ini?” R: “Kenapa tidak | 79 % |
| mbur dari tempat jasad saya tadi nyungsep.” S: “Apa komitmen | anda | dengan para penguasa itu?” R: “He? Itu rahasia….” S: “Baikla | 83 % |
| ngan para penguasa itu?” R: “He? Itu rahasia….” S: “Baiklah. | anda | nanti akan memilih surga atau neraka?” R: “Busyet. Kenapa an | 84 % |
| da nanti akan memilih surga atau neraka?” R: “Busyet. Kenapa | anda | tanyakan itu? Tentu saja saya akan memilih neraka. Saya sara | 85 % |
| u? Tentu saja saya akan memilih neraka. Saya sarankan, kalau | anda | mati nanti, lebih baik masuk neraka saja. Di sana banyak mas | 86 % |
| ih baik masuk neraka saja. Di sana banyak masalah yang perlu | anda | dalami. Saya kira sebuah reportase dari neraka akan jauh leb | 87 % |
| ruk-pikuk dan bermacam penderitaan kumpul jadi satu di sana. | anda | bisa wawancarai mereka. Segala kepedihan dan penyesalan yang | 92 % |
| an peringatan bagi yang masih hidup, bukan? Untuk itu, tentu | anda | akan memperoleh pahala. Juga di tempat itu, anda bisa bertem | 95 % |
| itu, tentu anda akan memperoleh pahala. Juga di tempat itu, | anda | bisa bertemu dengan semua penguasa dunia yang menghamba pada | 96 % |
| mba pada keserakahan.” S: “Pertanyaan terakhir. Apa pendapat | anda | tentang Dewi Sinta, istri Sri Rama yang pernah anda culik it | 97 % |
| pendapat anda tentang Dewi Sinta, istri Sri Rama yang pernah | anda | culik itu?” R: “O, very good! Very good!” S: “Terima kasih.” | 98 % |
| anda tentang semua itu. Bongkarlah apa yang selama ini anda | anggap | sebagai skandal. Ganyanglah semuanya kalau memang cukup dram | 40 % |
| Wawancara dengan Rahwana oleh: Yudistira | anm | Massardi Sesaat sebelum Anoman menyungsepkan kepalanya ke da | 1 % |
| a dengan Rahwana oleh: Yudistira ANM Massardi Sesaat sebelum | anoman | menyungsepkan kepalanya ke dasar bumi, Rahwana sempat menghu | 1 % |
| ian bandit besar tadi –segera menguber. Ia minta tolong pada | anoman | untuk dibenamkan ke dalam bumi, menuju akhirat, mengikuti ar | 11 % |
| emang penting diungkapkan dalam laporan anda nanti. Tulislah | apa | pandangan anda tentang semua itu. Bongkarlah apa yang selama | 39 % |
| i. Tulislah apa pandangan anda tentang semua itu. Bongkarlah | apa | yang selama ini anda anggap sebagai skandal. Ganyanglah semu | 40 % |
| tiap orang selalu berpikir mengenai keuntungan dan kerugian. | apa | sih pentingnya kedua hal itu? Dan anda tentu tahu, saya buka | 49 % |
| dalah keruntuhan. Paham? Seorang kesatria pantang kehilangan | apa | yang sudah menjadi miliknya. Milik itu harus dipertahankan s | 65 % |
| a yang menghamba pada keserakahan.” S: “Pertanyaan terakhir. | apa | pendapat anda tentang Dewi Sinta, istri Sri Rama yang pernah | 97 % |
| guk lagi). Dan cara hidup saya selama jadi penguasa Alengka, | apakah | akan anda ungkapkan secara menyolok untuk kepentingan dramat | 33 % |
| an semacam itu, sebagaimana keuntungan dan kerugian, tak ada | artinya | bagi saya. Kesatria tidak secengeng itu. Seorang kesatria ya | 59 % |
| dari kekuasaan mutlak. Tanpa ada kesengsaraan, tidaklah ada | artinya | sebuah kekuasaan. Tanpa penderitaan orang banyak bahkan tak | 70 % |
| an untuk dibenamkan ke dalam bumi, menuju akhirat, mengikuti | arwah | Rahwana. Berikut ini petikan wawancara Sanjaya dengan biang | 11 % |
| an kematian yang barusan anda alami?” Rahwana (R): “Kematian | atau | pun kehidupan, bukanlah hal yang perlu disetujui atau tak di | 14 % |
| matian atau pun kehidupan, bukanlah hal yang perlu disetujui | atau | tak disetujui. Keduanya adalah hal yang amat sederhana, sehi | 15 % |
| disiarkan di mana wawancara ini? Ah, tidak, tidak. Disiarkan | atau | tidak, tak penting bagi saya. Tapi cara hidup saya, cara say | 36 % |
| Kesatria tidak pernah berpikir seperti pedagang. Keuntungan | atau | kerugian tak ada artinya. Yang penting bagi saya adalah kons | 52 % |
| S: “Kalau ada kritik mengatakan bahwa anda tak mau mendengar | atau | memperhatikan keluhan para kawula?” R: “Kritik? Itu adalah b | 72 % |
| e? Itu rahasia….” S: “Baiklah. Anda nanti akan memilih surga | atau | neraka?” R: “Busyet. Kenapa anda tanyakan itu? Tentu saja sa | 85 % |
| ana halnya anda, mereka selalu bernapsu untuk mempertanyakan | bagaimana | cara seseorang mati dan bagaimana cara seseorang hidup. Itu | 19 % |
| napsu untuk mempertanyakan bagaimana cara seseorang mati dan | bagaimana | cara seseorang hidup. Itu adalah pertanyaan tragis yang hany | 19 % |
| Cara kematian saya yang anda tadi saksikan, memang dramatis. | bagaimana | seseorang yang sangat berkuasa, sakti mandraguna dan kaya-ra | 22 % |
| i.” S: “Apakah tugas anda itu membuat anda pedih?” R: “Aaah! | bagaimana | sih, anda ini? Kesedihan, kegembiraan dan segala macam bunyi | 57 % |
| pada dasarnya saya tetap hidup. Kematian saya adalah sarana | bagi | kehidupan langgeng jisim saya di dunia. Kehancuran jasad say | 27 % |
| ara ini? Ah, tidak, tidak. Disiarkan atau tidak, tak penting | bagi | saya. Tapi cara hidup saya, cara saya mengendalikan kekuasaa | 36 % |
| gang. Keuntungan atau kerugian tak ada artinya. Yang penting | bagi | saya adalah konsistensi terhadap cita-cita perjuangan. Saya | 53 % |
| am itu, sebagaimana keuntungan dan kerugian, tak ada artinya | bagi | saya. Kesatria tidak secengeng itu. Seorang kesatria yang me | 59 % |
| matik. Rintihan dan keluhan para kawula adalah tembang lirih | bagi | impian sepanjang malam.” S: “Anda betul-betul sadis.” R: “Se | 75 % |
| ibutuhkan banyak kurban. Sebagai tumbal. Juga sebagai syarat | bagi | kelanggengan kekuasaan itu.” S: “Apakah anda juga menguasai | 79 % |
| ereka kemukakan tentu sangat baik untuk dijadikan peringatan | bagi | yang masih hidup, bukan? Untuk itu, tentu anda akan memperol | 94 % |
| ngsara?” R: “Kesengsaraan dan penderitaan para kawula adalah | bagian | terpenting dari kekuasaan mutlak. Tanpa ada kesengsaraan, ti | 69 % |
| u memperhatikan keluhan para kawula?” R: “Kritik? Itu adalah | bagian | terindah dari kukuhnya sebuah kekuasaan. Kritik penting dari | 73 % |
| ada artinya sebuah kekuasaan. Tanpa penderitaan orang banyak | bahkan | tak mungkin sebuah kekuasaan bisa hadir dan kukuh.” S: “Kala | 71 % |
| asaan bisa hadir dan kukuh.” S: “Kalau ada kritik mengatakan | bahwa | anda tak mau mendengar atau memperhatikan keluhan para kawul | 72 % |
| lam.” S: “Anda betul-betul sadis.” R: “Seorang penguasa yang | baik | harus sadis. Dan kekuasaan yang ada dalam genggaman saya ada | 76 % |
| memilih neraka. Saya sarankan, kalau anda mati nanti, lebih | baik | masuk neraka saja. Di sana banyak masalah yang perlu anda da | 87 % |
| kepedihan dan penyesalan yang mereka kemukakan tentu sangat | baik | untuk dijadikan peringatan bagi yang masih hidup, bukan? Unt | 94 % |
| ga Bharata di Kurusetra dan sempat juga menyaksikan kematian | bandit | besar tadi –segera menguber. Ia minta tolong pada Anoman unt | 10 % |
| daklah ada artinya sebuah kekuasaan. Tanpa penderitaan orang | banyak | bahkan tak mungkin sebuah kekuasaan bisa hadir dan kukuh.” S | 70 % |
| a dalam genggaman saya adalah sadisme. Karena itu dibutuhkan | banyak | kurban. Sebagai tumbal. Juga sebagai syarat bagi kelanggenga | 78 % |
| kalau anda mati nanti, lebih baik masuk neraka saja. Di sana | banyak | masalah yang perlu anda dalami. Saya kira sebuah reportase d | 87 % |
| . Sanjaya (S): “Setujukah anda dengan cara dan kematian yang | barusan | anda alami?” Rahwana (R): “Kematian atau pun kehidupan, buka | 14 % |
| Tak ada kompromi.” S: “Juga seandainya orang yang berada di | bawah | kekuasaan anda sengsara?” R: “Kesengsaraan dan penderitaan p | 67 % |
| ana, sehingga tak perlu dipersoalkan benar. Sedangkan ‘cara’ | begitu | pentingkah hal itu? Manusia memang punya bermacam-macam kebi | 17 % |
| erkuasa, sakti mandraguna dan kaya-raya, menemui ajal secara | begitu | nista dan tanpa daya. Itulah ketentuan yang sudah digariskan | 24 % |
| iap orang yang ingin mengangkangi sisa kekuasaan serta harta | benda | saya. Tugas jisim sayalah untuk menggebrakkan semua itu. S: | 44 % |
| gelembung…anda melihatnya tadi? (Sanjaya mengangguk). Itulah | bentuk | kekuasaan saya yang baru. Suatu kejahatan yang tangguh. Nah, | 30 % |
| atis untuk diganyang. Saya tidak akan sedih. Sebab saya akan | berada | di dalam jiwa semua pengganyangnya. Saya akan berada dalam d | 42 % |
| ya akan berada di dalam jiwa semua pengganyangnya. Saya akan | berada | dalam darah setiap orang yang ingin mengangkangi sisa kekuas | 43 % |
| nghabisan. Tak ada kompromi.” S: “Juga seandainya orang yang | berada | di bawah kekuasaan anda sengsara?” R: “Kesengsaraan dan pend | 67 % |
| mkan ke dalam bumi, menuju akhirat, mengikuti arwah Rahwana. | berikut | ini petikan wawancara Sanjaya dengan biang segala kejahatan | 12 % |
| ah lagi. Tapi di neraka, setiap saat terjadi hiruk-pikuk dan | bermacam | penderitaan kumpul jadi satu di sana. Anda bisa wawancarai m | 92 % |
| ngkan ‘cara’ begitu pentingkah hal itu? Manusia memang punya | bermacam-macam | kebiasaan buruk. Sebagaimana halnya anda, mereka selalu bern | 18 % |
| acam kebiasaan buruk. Sebagaimana halnya anda, mereka selalu | bernapsu | untuk mempertanyakan bagaimana cara seseorang mati dan bagai | 19 % |
| an semacam itu?” R: “Selalu saja begitu. Setiap orang selalu | berpikir | mengenai keuntungan dan kerugian. Apa sih pentingnya kedua h | 49 % |
| urjananya, kasta saya adalah kesatria. Kesatria tidak pernah | berpikir | seperti pedagang. Keuntungan atau kerugian tak ada artinya. | 52 % |
| u anda akan memperoleh pahala. Juga di tempat itu, anda bisa | bertemu | dengan semua penguasa dunia yang menghamba pada keserakahan. | 96 % |
| ama di dunia yang menjadi penyiar pandangan mata pertempuran | besar | Keluarga Bharata di Kurusetra dan sempat juga menyaksikan ke | 9 % |
| ata di Kurusetra dan sempat juga menyaksikan kematian bandit | besar | tadi –segera menguber. Ia minta tolong pada Anoman untuk dib | 10 % |
| brakkan semua itu. S: “Bisakah anda gambarkan secara konkrit | besarnya | kekuasaan itu?” R: “Sebesar kosmos.” S: “Apakah anda menguas | 45 % |
| nya kedua hal itu? Dan anda tentu tahu, saya bukan pedagang. | betapa | pun durjananya, kasta saya adalah kesatria. Kesatria tidak p | 51 % |
| adalah tembang lirih bagi impian sepanjang malam.” S: “Anda | betul-betul | sadis.” R: “Seorang penguasa yang baik harus sadis. Dan keku | 76 % |
| ng menjadi penyiar pandangan mata pertempuran besar Keluarga | bharata | di Kurusetra dan sempat juga menyaksikan kematian bandit bes | 9 % |
| arwah Rahwana. Berikut ini petikan wawancara Sanjaya dengan | biang | segala kejahatan itu. Sanjaya (S): “Setujukah anda dengan ca | 12 % |
| ancuran jasad saya adalah untuk keperkasaan jisim saya. Anda | bisa | buktikan nanti, sesudah peristiwa ini maka dunia akan dipenu | 28 % |
| penderitaan orang banyak bahkan tak mungkin sebuah kekuasaan | bisa | hadir dan kukuh.” S: “Kalau ada kritik mengatakan bahwa anda | 71 % |
| ikuk dan bermacam penderitaan kumpul jadi satu di sana. Anda | bisa | wawancarai mereka. Segala kepedihan dan penyesalan yang mere | 92 % |
| tentu anda akan memperoleh pahala. Juga di tempat itu, anda | bisa | bertemu dengan semua penguasa dunia yang menghamba pada kese | 96 % |
| kepalanya ke dasar bumi, Rahwana sempat menghujat: “Jasadku | boleh | jadi lenyap sesudah ini, tetapi jisimku akan tetap hidup. Me | 2 % |
| Seorang kesatria yang menggenggam suatu kekuasaan besar, tak | boleh | menjadi melankolis. Ia harus tegas mengemban tugasnya. Senti | 60 % |
| n anda nanti. Tulislah apa pandangan anda tentang semua itu. | bongkarlah | apa yang selama ini anda anggap sebagai skandal. Ganyanglah | 39 % |
| Apa sih pentingnya kedua hal itu? Dan anda tentu tahu, saya | bukan | pedagang. Betapa pun durjananya, kasta saya adalah kesatria. | 50 % |
| Apa sih pentingnya kedua hal itu? Dan anda tentu tahu, saya | bukan | pedagang. Betapa pun durjananya, kasta saya adalah kesatria. | 50 % |
| usan anda alami?” Rahwana (R): “Kematian atau pun kehidupan, | bukanlah | hal yang perlu disetujui atau tak disetujui. Keduanya adalah | 15 % |
| an jasad saya adalah untuk keperkasaan jisim saya. Anda bisa | buktikan | nanti, sesudah peristiwa ini maka dunia akan dipenuhi gelemb | 28 % |
| dup. Menyusup ke dalam jiwa setiap manusia. Sepanjang abad…” | bumi | yang menghimpitnya, kemudian menelan dan melumatnya. Langit | 4 % |
| gas dan kewajiban sayalah membangun keangkaramurkaan di muka | bumi | ini.” S: “Apakah tugas anda itu membuat anda pedih?” R: “Aaa | 56 % |
| imana sih, anda ini? Kesedihan, kegembiraan dan segala macam | bunyi | perasaan semacam itu, sebagaimana keuntungan dan kerugian, t | 58 % |
| ng segala kejahatan itu. Sanjaya (S): “Setujukah anda dengan | cara | dan kematian yang barusan anda alami?” Rahwana (R): “Kematia | 13 % |
| anda, mereka selalu bernapsu untuk mempertanyakan bagaimana | cara | seseorang mati dan bagaimana cara seseorang hidup. Itu adala | 19 % |
| k mempertanyakan bagaimana cara seseorang mati dan bagaimana | cara | seseorang hidup. Itu adalah pertanyaan tragis yang hanya dim | 20 % |
| maksud untuk kepentingan dramatik dari lakon yang dimainkan. | cara | kematian saya yang anda tadi saksikan, memang dramatis. Baga | 21 % |
| . Suatu kejahatan yang tangguh. Nah, haruskah saya memprotes | cara | dan kematian saya? Tidak bukan? (Sanjaya menggangguk lagi). | 32 % |
| kematian saya? Tidak bukan? (Sanjaya menggangguk lagi). Dan | cara | hidup saya selama jadi penguasa Alengka, apakah akan anda un | 33 % |
| ak, tidak. Disiarkan atau tidak, tak penting bagi saya. Tapi | cara | hidup saya, cara saya mengendalikan kekuasaan, cara saya mem | 36 % |
| kan atau tidak, tak penting bagi saya. Tapi cara hidup saya, | cara | saya mengendalikan kekuasaan, cara saya memanjakan saudara-s | 36 % |
| ya. Tapi cara hidup saya, cara saya mengendalikan kekuasaan, | cara | saya memanjakan saudara-saudara dan sanak keluarga saya, aga | 37 % |
| artinya. Yang penting bagi saya adalah konsistensi terhadap | cita-cita | perjuangan. Saya harus memelihara kefatalan dan kehancuran m | 53 % |
| nda anggap sebagai skandal. Ganyanglah semuanya kalau memang | cukup | dramatis untuk diganyang. Saya tidak akan sedih. Sebab saya | 41 % |
| pat anda tentang Dewi Sinta, istri Sri Rama yang pernah anda | culik | itu?” R: “O, very good! Very good!” S: “Terima kasih.” (Beri | 98 % |
| ap sesudah ini, tetapi jisimku akan tetap hidup. Menyusup ke | dalam | jiwa setiap manusia. Sepanjang abad…” Bumi yang menghimpitny | 3 % |
| ra menguber. Ia minta tolong pada Anoman untuk dibenamkan ke | dalam | bumi, menuju akhirat, mengikuti arwah Rahwana. Berikut ini p | 11 % |
| sudah digariskan. Tapi anda harus yakin. Saya tidaklah mati | dalam | pengertian yang biasa. Sebab pada dasarnya saya tetap hidup. | 25 % |
| dan sanak keluarga saya, agaknya memang penting diungkapkan | dalam | laporan anda nanti. Tulislah apa pandangan anda tentang semu | 38 % |
| diganyang. Saya tidak akan sedih. Sebab saya akan berada di | dalam | jiwa |