click here for the word frequency
Grhhh!
Experimental Concordance Program
The text:
---60---Grhhh! oleh Seno Gumira Ajidarma
Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi
HT yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis
bertabur membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke
Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Reserse
Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung itu mesti dilepasnya
kembali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatinya harus dilupakan
sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari
saat ke saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera terbenam dalam
persoalan kembali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia
meraba pistol di balik jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia melompat ke luar
mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di balik
punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Dan segera saja
matanya merekam pemandangan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok itu
berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutnya
mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak berani mendekat. Di
tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat ditimpa
lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, betapa
sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya menginjak korban
yang sudah setengah mati. Grhhh! Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat
betapa dari mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti
lengket dan hanya bisa dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair.
Mata kirinya bolong dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget.
Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya busuk sekali. Reserse
Sarman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai dari yang mengalami kecelakaan sampai
yang teraniaya. Mayat-mayat itu sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan
hati Reserse Sarman sama sekali. Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang belum
pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terlihat lubang-lubang
yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat berjatuhan dan kruget-kruget
di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk itu dan kruget-kruget
lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh! Gerakan sosok itu
seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman segera bertindak.
Ia mengeluarkan pistol. Dibidiknya kepala orang itu. Ia menembak. Terdengar
letusan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang karena
peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru itu seperti menembus
gedebok pisang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung
ber-kruget-kruget berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali
lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. Dan dari
setiap lubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehingga sosok itu semakin
lama makin menjijikkan. Dan malah bergerak mendekati Reserse Sarman. Langkahnya
lambat tapi pasti. Kaku tapi meyakinkan. Kedua tangannya terangkat ke atas,
seperti melambai-lambai dengan berat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat
meraih HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak
monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!”
“Monster? Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini
yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena jalanan sudah sepi,
kiriman rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat
itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal
seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya
ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di
mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Seorang wartawan yang
sejak tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi. “Palmerah!
Cepat!” Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI
IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota
melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk sekali.
Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan.
Bahkan senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup
itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan
dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya
berkembang biak dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melaporkan
kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu
berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang,
atau menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban,
mereka tak bisa menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan
hasil jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul
begitu saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum ada
laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para dokter sedang memeriksa
serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang
berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Memang,
dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak
masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu ini, kita harap saja segera
berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah kenyataan yang terlalu mengerikan.
Reserse Sarman membaca berita itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terlalu.
Masak namaku secuil pun tidak disebut-sebut. Pers sekarang terlalu
membesar-besarkan persoalan yang tidak penting, sambil menutup-nutupi masalah
sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah bekerja siang
malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang dimuat. Mending kalau
cakep! Masyarakat juga brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi
di film Barat. Maknyadirodog!” Di warung Markonah ia terus saja nerocos, sambil
mengunyah sekerat tempe. “Sekarang koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup
dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-paling nanti yang disalahkan
polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi
yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua
diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok
tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap
ia meloncat. “Siap Pak!” Dan segera Reserse Sarman menghilang. “Lho, mana
uangnya?” teriak Markonah, bersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu,
Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak
empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan dengan
mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri di
perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya mencair tapi masih
mengeluarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil itu
ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas atap mobil.
Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mulai mencair. Reserse Sarman
memperhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan,
yang lain akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini
bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa
urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa hidupnya mereka dulu kriminal, pikir
Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-penjahat kasar kelas teri.
Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse
Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa
tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu
meruyak ke luar dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat
sesuatu tapi lupa lagi. Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati
lagi, sosok itu juga bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita
telanjang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di
tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang
berderet-deret dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak
banyak. Lagi-lagi Reserse Sarman seperti ingat sesuatu. Namun suara itu
terdengar lagi. Grhhh! Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling ampuh untuk
melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu
jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk
tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok hidup lagi. Setan
mana yang merasukinya? Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup
bermunculan di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati
memantaunya. Setiak kali mesti digunakan rudal TOW untuk memusnahkannya.
Celakanya rudal TOW ini bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup.
Lingkungannya pun ikut hancur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah
marah-marah. “Kenapa sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang
membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak bisa menjeratnya dengan jala?
Menebasnya dengan golok? Atau menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi.
Namun sementara terjadi polemik, mayat-mayat hidup terus nongol di mana-mana.
Para petugas ingin membereskan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling
tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal
kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok
menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain.
Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya
mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya.
“Periksa kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kuburan siapa
saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah. Saat itu juga kiriman rudal tiba.
Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di atap sebuah
mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan wajahnya yang setengah mencair.
Rasa-rasanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan
dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang biak
dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para wanita cantik yang
tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas.
“Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat.
Blgggrrr! Ibu kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana.
Inilah akibat rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat
merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di atas meja, kursi, jendela, WC,
kamar mandi, kantong baju, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. Orang-orang
setiap hari sibuk menjetikkan ulat-ulat yang merayap di bajunya, rambutnya,
lubang hidungnya, maupun yang bergantungan di kacamatanya. Zombi makin
merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar
benda-benda murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya
adalah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini biasanya
tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus
berperang melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap
Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman
tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya
terkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran. Dengan malas
diraihnya sejumlah laporan yang masuk. …para informan di segenap penjuru tanah
air melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah
terbuka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang
kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan bertanda
tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu datang
dari Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. Belum lagi
mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kaca, yang terletak di
belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya berdegup keras. Wajah
buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun
telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya. “Ngadul!” Ia berteriak. Namun Ngadul
yang telah jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi itu merayap masuk. Grhhh!
Grhhh! Reserse Sarman melompat ke atas meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan
menemukan sesuatu. “Komandan! Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban
pembantaian misterius di Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di
markas!” “Tembak segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan
masalah!” Zombi itu mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse
keburu meloncat dan lari ke ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi
dinding. “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak!
Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara
Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!” Zombi menendang pintu sampai jebol.
Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat?
Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih
ingat Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang
Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara
mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang
sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada
yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa terbunuh
secara misterius Pak!” Grhhh! Zombi melompat dari jendela. Reserse Sarman
memanjat pagar tembok. “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian
itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela
mati Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan
mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratus!
Tidak cukup untuk membasmi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya
santai!” “Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua
omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu dengar itu?
Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan dibantai!” Zombi
menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas. “Tolong!
Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak ngeri. Zombi mulai
mencaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk
selokan. Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat,
dan makin ganas. Mereka merayat seperti ulat. Memenuhi jalanan, menyeruduk di
supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan di segala pelosok.
Memanjati gedung-gedung bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh!
Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor dari neraka.
Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh! Di sela-sela paduan
suara kengerian yang membuat seluruh kota gemetar ketakutan itu, terdengar
lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, “Tolongngngngng! Pak Komandaaaaaaann!
Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember 1986
pre- text |
WORD |
post- text |
% |
| ng! Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta |
- |
Yogya, Desember 1986 | 100 % |
| ur di Lubang Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” |
“ada |
laporan, banyak di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! | 88 % |
| “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!” |
“aku |
tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara mereka | 88 % |
| Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” |
“apa |
maksudmu Bintara Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!” Zo | 85 % |
| rang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!” |
“apa |
yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! Harus d | 91 % |
| ampai jebol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya. |
“apakah |
Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas t | 86 % |
| ah larut. Sisa gerimis bertabur membiaskan cahaya petromaks. |
“bintara |
Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “ | 1 % |
| pi harus berperang melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. |
“bintara |
Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” | 74 % |
| uang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding. |
“bintara |
Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak | 84 % |
| dinding. “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” |
“bukan |
begitu Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh | 85 % |
| r membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” |
“cepat |
ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih ber | 2 % |
| bi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” |
“cepat |
ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sar | 74 % |
| ibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?” |
“dasar |
goblok! Rudal antitank!” Karena jalanan sudah sepi, kiriman | 23 % |
| smi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!” |
“kamu |
bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong- | 93 % |
| secara misterius! Masih ingat Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?” |
“kebanyakan |
mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! | 87 % |
| ncur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah marah-marah. |
“kenapa |
sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang membuang-buang | 59 % |
| as meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu. |
“komandan! |
Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban pembantaia | 82 % |
| nya Pak! Ia muncul di markas!” “Tembak segera dengan rudal!” |
“maaf |
Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!” Zombi itu mendek | 83 % |
| hat kelas teri terbantai secara misterius! Masih ingat Pak?” |
“masih! |
Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besa | 87 % |
| HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” |
“menembak |
monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu | 21 % |
| ki wajah itu pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya. |
“ngadul!” |
Ia berteriak. Namun Ngadul yang telah jadi zombi tidak menge | 81 % |
| itu kini lebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. |
“oke |
Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr! Ibu kota sepert | 68 % |
| tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi. |
“palmerah! |
Cepat!” Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT H | 26 % |
| njat pagar tembok. “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?” |
“pembantaian |
itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang- | 90 % |
| ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya. |
“periksa |
kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kubur | 64 % |
| nster? Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” |
“rudal |
apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karen | 22 % |
| erat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya. |
“rudal! |
Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monste | 21 % |
| konah ia terus saja nerocos, sambil mengunyah sekerat tempe. |
“sekarang |
koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup dibesar-besarkan. Masy | 40 % |
| Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang harus kita lakukan?” |
“sembahyangkan |
mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Ruda | 91 % |
| imis bertabur membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” |
“siap |
Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopi | 2 % |
| a Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” |
“siap |
Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Reserse Sarman telah mel | 2 % |
| , ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat. |
“siap |
Pak!” Dan segera Reserse Sarman menghilang. “Lho, mana uangn | 43 % |
| melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” |
“siap |
Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tap | 74 % |
| Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” |
“siap |
Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua | 75 % |
| ! Monster itu mengejar saya! Cepat!” “Monster? Monster apa?” |
“sudah! |
Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta? | 22 % |
| enjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas. |
“tembak |
cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW mele | 68 % |
| ang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!” |
“tembak |
segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaika | 83 % |
| kap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas. |
“tolong! |
Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak nge | 94 % |
| utan itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, |
“tolongngngngng! |
Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember 1986 | 99 % |
| cepat meraih HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” |
“untuk |
apa?” “Menembak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cep | 21 % |
| liweran. Dengan malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk. |
…para |
informan di segenap penjuru tanah air melaporkan adanya seju | 76 % |
| aaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember |
1986 |
100 % | |
| udal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monster! Cepat! Kaliber |
22 |
tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!” “Mon | 22 % |
| Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal seberat |
40 |
pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa | 24 % |
| tromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! |
ada |
kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Resers | 2 % |
| eming. Keningnya berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak |
ada |
darah mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. | 17 % |
| , entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum |
ada |
laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para dokter | 33 % |
| atu ini bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu |
ada |
sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam | 48 % |
| tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu |
ada |
sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya mereka mengacau? | 48 % |
| di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. |
ada |
juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. Atau | 54 % |
| enjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus |
ada |
cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan men | 63 % |
| menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! |
ada |
zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. | 74 % |
| yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka dan isinya tidak |
ada |
lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum | 77 % |
| ! Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah |
ada |
di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun telah mencair | 80 % |
| Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak |
ada |
yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siap | 89 % |
| ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan |
adalah |
kenyataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca be | 36 % |
| n, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya |
adalah |
teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini | 73 % |
| ia merasakan menemukan sesuatu. “Komandan! Salah satu zombi |
adalah |
Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius di Lubang Be | 82 % |
| asuk. …para informan di segenap penjuru tanah air melaporkan |
adanya |
sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka | 76 % |
| i. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut itu meluncur |
air |
liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya | 10 % |
| laporan yang masuk. …para informan di segenap penjuru tanah |
air |
melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalam | 76 % |
| Grhhh! oleh Seno Gumira |
ajidarma |
Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Mark | 0 % |
| ersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman |
akan |
selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak e | 44 % |
| u kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak empat. |
akan |
selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapa | 44 % |
| ang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, yang lain |
akan |
segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini | 48 % |
| arus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup |
akan |
meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Rese | 63 % |
| ntah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak! Rudal kita tidak |
akan |
cukup melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara Sarm | 85 % |
| engar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka |
akan |
dibantai!” Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih se | 94 % |
| erlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana. Inilah |
akibat |
rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat | 69 % |
| s kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara mereka sudah tidak |
aktif |
lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah ins | 88 % |
| masalah sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? |
aku |
sudah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, potret si may | 38 % |
| ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari |
alam |
kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya | 48 % |
| kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup |
alias |
zombi itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, | 30 % |
| au rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. |
amerika |
Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama deng | 62 % |
| ngar lagi. Grhhh! Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling |
ampuh |
untuk melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, | 55 % |
| erwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh |
aneh |
ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah te | 35 % |
| omandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di |
antara |
mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius | 88 % |
| ! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal |
antitank!” |
Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datan | 23 % |
| Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal |
apa |
ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena ja | 22 % |
| ma Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau |
apa |
sih? Sok tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu mema | 42 % |
| ali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, |
apa |
urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa hidupnya mereka du | 49 % |
| idup sudah marah-marah. “Kenapa sih mesti menggunakan rudal? |
apa |
tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak | 59 % |
| rudal? Apa tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? |
apa |
tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? | 60 % |
| t dari jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok. “Jadi, |
apa |
kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan be | 90 % |
| eluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata |
api |
yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup | 28 % |
| Grhhh! oleh Seno Gumira Ajidarma Reserse Sarman masih |
asyik |
menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang | 0 % |
| ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas |
atap |
mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mul | 47 % |
| ugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di |
atap |
sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan waj | 66 % |
| itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di |
atas |
atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pu | 47 % |
| rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpeleset di |
atas |
mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sampai | 56 % |
| . Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di |
atas |
meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, | 70 % |
| api Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke |
atas |
meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus menguik-ngu | 75 % |
| itu merayap masuk. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman melompat ke |
atas |
meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu. “K | 82 % |
| aling-paling nanti yang disalahkan polisi lagi! Polisi lagi! |
atasan |
mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana | 41 % |
| hnya busuk sekali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol |
atau |
senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah di | 28 % |
| ahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang, |
atau |
menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakanny | 31 % |
| lalu berada di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, |
atau |
dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai p | 53 % |
| Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. |
atau |
sepanjang punggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sar | 54 % |
| tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? |
atau |
menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi. Namun semen | 60 % |
| ing tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. |
bagaimana |
kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berput | 62 % |
| gian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. |
bahkan |
senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. | 28 % |
| senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan |
bahwa |
di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan | 50 % |
| Coba kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih |
baik |
sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok tau!” Ia masih memaki-mak | 42 % |
| let yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pistol di |
balik |
jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia melompat ke luar mikrole | 5 % |
| npa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di |
balik |
punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Da | 6 % |
| segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini |
bangkit |
kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau ti | 48 % |
| menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu jatuh |
bangun |
terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang bu | 56 % |
| suk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin |
banyak |
saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di mana-mana. K | 25 % |
| Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu |
banyak |
hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi y | 35 % |
| esar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, |
banyak |
di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai | 88 % |
| eka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu |
banyak |
yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan | 88 % |
| suk selokan. Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin |
banyak |
dan makin cepat, dan makin ganas. Mereka merayat seperti ula | 96 % |
| bol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah |
bapak |
tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri te | 86 % |
| kan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi |
baru |
beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau ruda | 62 % |
| bis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat |
baru |
kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat | 62 % |
| hatinya harus dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup, |
batin |
Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat ke saat, setiap k | 3 % |
| uget-kruget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan |
baunya |
busuk sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. M | 12 % |
| u jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. |
baunya |
yang busuk tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, | 56 % |
| r-kruget-kruget berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak |
beberapa |
kali lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak l | 18 % |
| engan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi baru |
beberapa |
hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal kita ha | 62 % |
| udal memang paling tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah |
begini |
banyak. Bagaimana kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarm | 62 % |
| sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul |
begitu |
saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi b | 33 % |
| . “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan |
begitu |
Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” | 85 % |
| ebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah |
bekerja |
siang malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang | 38 % |
| lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di tempat yang sama. |
belakang |
kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet- | 53 % |
| Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal. |
beli |
dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kit | 63 % |
| Sarman sama sekali. Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang |
belum |
pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terl | 13 % |
| u saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi |
belum |
ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para do | 33 % |
| Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. |
belum |
lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kac | 79 % |
| hidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar |
benda-benda |
murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberada | 72 % |
| jang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu |
berada |
di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. | 53 % |
| rman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan |
beranak |
empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarm | 44 % |
| ya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak |
berani |
mendekat. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalun | 8 % |
| ka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada yang |
berani! |
Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa t | 89 % |
| ama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu, |
berapa |
lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat | 63 % |
| t hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak |
berarti |
ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat- | 29 % |
| TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki |
berat |
itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam | 23 % |
| GAN DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di |
berbagai |
sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul | 27 % |
| ung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermunculan di |
berbagai |
sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati memantaunya. | 57 % |
| rse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan. Di |
berbagai |
sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat, | 96 % |
| gan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara |
berbarengan |
seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! D | 98 % |
| di belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya |
berdegup |
keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam | 80 % |
| Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang |
berderet-deret |
dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak | 54 % |
| m pemandangan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok itu |
berdiri |
di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutn | 7 % |
| up. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia |
berdiri |
di perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya | 45 % |
| merayap di bajunya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang |
bergantungan |
di kacamatanya. Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-har | 71 % |
| sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah |
bergerak |
mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. Kaku | 20 % |
| pat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman |
berhadapan |
dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dik | 45 % |
| riksa serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita |
berharap |
pihak yang berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sun | 34 % |
| u, Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah |
beristri |
dan beranak empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi | 44 % |
| ah kenyataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca |
berita |
itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terlalu. Masak nama | 36 % |
| sambil mengunyah sekerat tempe. “Sekarang koran ikut-ikutan. |
berita |
mayat hidup dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-p | 40 % |
| i buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan |
berita: |
. . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporka | 27 % |
| ng-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat |
berjatuhan |
dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dal | 14 % |
| bang itu muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget |
berjatuhan |
di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi dengan | 18 % |
| Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang |
berjatuhan |
dari tubuhnya berkembang biak dengan dahsyat. Pada umumnya p | 29 % |
| rdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar dan |
berjatuhan |
kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat sesuatu ta | 51 % |
| sanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat |
berjatuhan |
dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijik | 67 % |
| meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya |
berkembang |
biak dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melapor | 30 % |
| mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. |
berkembang |
biak dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga | 67 % |
| melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih |
berkerumun |
di tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, kepala Res | 6 % |
| t. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. |
berkilat-kilat |
ditimpa lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini m | 8 % |
| ang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung |
ber-kruget-kruget |
berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali l | 18 % |
| lubang-lubang. Dan dari setiap lubang muncul ulat-ulat yang |
ber-kruget-kruget |
sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah | 19 % |
| ur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja |
ber-kruget-kruget |
dan ber-kruget-kruget di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kr | 25 % |
| anya ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan |
ber-kruget-kruget |
di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget. S | 25 % |
| rhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. Dan seperti biasa, |
ber-kruget-kruget |
menjijikkan. Berkembang biak dengan cepat. Merambati jendela | 67 % |
| mbi terus bermunculan. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat |
ber-kruget-kruget |
di atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, | 70 % |
| ampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu |
berlaku |
sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, m | 31 % |
| usan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya |
berlubang |
karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru | 17 % |
| reka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!” “Kamu |
bermimpi |
ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! K | 93 % |
| ya? Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup |
bermunculan |
di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati | 57 % |
| kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan |
bernama |
dan bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunj | 78 % |
| subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus |
berperang |
melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” | 74 % |
| meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat? |
bersama |
Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terbantai secara mister | 86 % |
| eriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka |
bersuara |
berbarengan seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham | 98 % |
| elkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis |
bertabur |
membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “ | 1 % |
| m penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan |
bertanda |
tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagi | 78 % |
| kas. “Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman |
berteriak |
ngeri. Zombi mulai mencaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarma | 95 % |
| an di segala pelosok. Memanjati gedung-gedung bertingkat dan |
berteriak-teriak |
dengan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersu | 97 % |
| ereka gentayangan di segala pelosok. Memanjati gedung-gedung |
bertingkat |
dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! D | 97 % |
| g yang masih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang |
berwajib |
bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh in | 34 % |
| sih! Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang |
besar |
Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, bany | 87 % |
| pa kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan |
besar |
Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela | 91 % |
| ah Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius di Lubang |
besar! |
Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!” “Tembak se | 83 % |
| tara juga menunjukkan, sebagian mayat itu datang dari Lubang |
besar… |
Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. Belum lagi me | 78 % |
| n. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, |
betapa |
sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya | 9 % |
| h mati. Grhhh! Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat |
betapa |
dari mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. Bibirny | 10 % |
| ari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman |
betul-betul |
penasaran. Ia meraih HT-nya. “Periksa kuburan-kuburan di seg | 64 % |
| ncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya berkembang |
biak |
dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melaporkan k | 30 % |
| Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang |
biak |
dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para | 67 % |
| kali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol atau senapan |
biasa |
tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah dijampi-jampi du | 28 % |
| teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini |
biasanya |
tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet | 73 % |
| betapa dari mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. |
bibirnya |
seperti lengket dan hanya bisa dibuka dengan paksa. Sebelah | 10 % |
| a tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu |
bintara |
Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!” Zombi menendang pin | 85 % |
| serse Sarman memanjat pagar tembok. “Jadi, apa kesimpulannya |
bintara |
Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Generasi kita | 90 % |
| yangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!” “Kamu bermimpi ya |
bintara |
Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! Kita sedang | 93 % |
| liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya |
bisa |
dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Ma | 10 % |
| h dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya |
bisa |
dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpi | 29 % |
| uh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban, mereka tak |
bisa |
menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan | 32 % |
| sih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang berwajib |
bisa |
segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Me | 34 % |
| perhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu ini |
bisa |
dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu ada sebab ke | 48 % |
| tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak |
bisa |
menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? Atau menyi | 60 % |
| alah satu korban pembantaian misterius di Lubang Besar! Saya |
bisa |
mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!” “Tembak segera denga | 83 % |
| erani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja |
bisa |
terbunuh secara misterius Pak!” Grhhh! Zombi melompat dari j | 89 % |
| riak Reserse Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. |
blgggrrr! |
Ibu kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di | 69 % |
| gan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya |
bolong |
dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Da | 11 % |
| ah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong dan dari |
bolongan |
itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging di seluruh tu | 11 % |
| kini lebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke |
bos!” |
Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr! Ibu kota seperti terl | 69 % |
| ayat hidup yang dimuat. Mending kalau cakep! Masyarakat juga |
brengsek |
selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi di film Bar | 39 % |
| eri. Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan tenaga, |
bukan |
otak. Reserse Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai | 50 % |
| akan rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW ini |
bukan |
hanya menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya pun i | 58 % |
| i makin merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka kini |
bukan |
hanya menyambar benda-benda murahan, tetapi mulai melahap se | 72 % |
| salahkan polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan |
buntutnya |
kita-kita lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk semingg | 41 % |
| an masih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika |
bunyi |
HT yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah lar | 1 % |
| anya mengacung-acungkan hasil jarahannya sambil mengeluarkan |
bunyi |
serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul begitu saja, entah dari m | 32 % |
| oleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya berdegup keras. Wajah |
buruk |
itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski waj | 80 % |
| uget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya |
busuk |
sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai d | 12 % |
| et-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh |
busuk |
itu dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kru | 15 % |
| alanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datang. Sosok |
busuk |
yang melangkah dengan kaki berat itu masih jauh dari Reserse | 23 % |
| am sekejap mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh |
busuk |
itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin ban | 24 % |
| kan, di setiap tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya |
busuk |
sekali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol atau senap | 27 % |
| anan macet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok |
busuk |
itu melangkah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset kar | 46 % |
| lain akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh |
busuk |
ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sa | 48 % |
| un terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang |
busuk |
tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok h | 56 % |
| ayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat |
busuk |
ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya. | 64 % |
| ta-kita lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! |
busyet! |
Coba kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih | 41 % |
| manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis bertabur membiaskan |
cahaya |
petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Sat | 1 % |
| gera saja matanya merekam pemandangan yang mengerikan. Dalam |
cahaya |
bulan, sosok itu berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepal | 7 % |
| irahat, eh, potret si mayat hidup yang dimuat. Mending kalau |
cakep! |
Masyarakat juga brengsek selalu menghina polisi. Malah memuj | 39 % |
| cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para wanita |
cantik |
yang tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zo | 68 % |
| al rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada |
cara |
lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. | 63 % |
| Setiak kali mesti digunakan rudal TOW untuk memusnahkannya. |
celakanya |
rudal TOW ini bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup. | 58 % |
| ambai-lambai dengan berat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman |
cepat |
meraih HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk | 21 % |
| antitank!” Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu |
cepat |
datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat itu mas | 23 % |
| dal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monster! |
cepat! |
Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! C | 21 % |
| tuk apa?” “Menembak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! |
cepat! |
Monster itu mengejar saya! Cepat!” “Monster? Monster apa?” “ | 22 % |
| ! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! |
cepat!” |
“Monster? Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepa | 22 % |
| at!” “Monster? Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! |
cepat!” |
“Rudal apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank! | 22 % |
| diam memotret kejadian ini segera melambai taksi. “Palmerah! |
cepat!” |
Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GEN | 26 % |
| jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas. “Tembak |
cepat!” |
teriak Reserse Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepa | 68 % |
| lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! |
coba |
kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik | 41 % |
| ncak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana gaji cuma |
cukup |
untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua diterima Sipenma | 41 % |
| perintah komandan?” “Bukan begitu Pak! Rudal kita tidak akan |
cukup |
melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara Sarman? Zo | 85 % |
| n penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratus! Tidak |
cukup |
untuk membasmi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohn | 92 % |
| ak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana gaji |
cuma |
cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua diterima S | 41 % |
| “Lho, mana uangnya?” teriak Markonah, bersungut-sungut. Tapi |
cuma |
sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman akan selalu kembali kepada | 43 % |
| Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal kita |
cuma |
seratus! Tidak cukup untuk membasmi mereka! Sembahyangkan me | 92 % |
| g-lubang selalu berada di tempat yang sama. Belakang kepala, |
dada |
kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari da | 53 % |
| da kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari |
dada |
sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak banyak. La | 54 % |
| ng dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. |
daging |
di seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya busuk sekali | 11 % |
| buran yang jebol. Kini para dokter sedang memeriksa serpihan |
daging |
yang masih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang b | 34 % |
| tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk sekali. |
dagingnya |
sebagian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mem | 28 % |
| usnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan |
dagingnya |
masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tu | 29 % |
| saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera terbenam |
dalam |
persoalan kembali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat keja | 4 % |
| pas di permukaan segera terbenam dalam persoalan kembali. Di |
dalam |
mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pist | 4 % |
| Dan segera saja matanya merekam pemandangan yang mengerikan. |
dalam |
cahaya bulan, sosok itu berdiri di perempatan jalan. Sesekal | 7 % |
| han dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari |
dalam |
tubuh busuk itu dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi da | 15 % |
| berat itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. |
dalam |
sekejap mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh bu | 24 % |
| a mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Memang, |
dalam |
kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak hal-ha | 35 % |
| degup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. |
dalam |
sekilas, meski wajah itu pun telah mencair, Reserse Sarman m | 80 % |
| h air melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di |
dalamnya |
telah terbuka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukk | 77 % |
| ik punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. |
dan |
segera saja matanya merekam pemandangan yang mengerikan. Dal | 6 % |
| tu berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak |
dan |
mulutnya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-ora | 7 % |
| k korban yang sudah setengah mati. Grhhh! Ia menggeram lagi. |
dan |
Reserse Sarman melihat betapa dari mulut itu meluncur air li | 10 % |
| luncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket |
dan |
hanya bisa dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah | 10 % |
| sa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong |
dan |
dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging | 11 % |
| k kruget-kruget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair |
dan |
baunya busuk sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat m | 12 % |
| ang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat berjatuhan |
dan |
kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam t | 14 % |
| di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk itu |
dan |
kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi | 15 % |
| am tubuh busuk itu dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi |
dan |
kruget-kruget lagi. Grhhh! Gerakan sosok itu seolah-olah men | 15 % |
| gan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. |
dan |
dari setiap lubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget s | 19 % |
| et-kruget sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. |
dan |
malah bergerak mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat t | 20 % |
| a. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget |
dan |
ber-kruget-kruget di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget | 25 % |
| -MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . |
dan |
reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporkan, di seti | 27 % |
| k berarti ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. |
dan |
ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya berkembang biak deng | 29 % |
| ta uang, atau menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, |
dan |
gerakannya yang lamban, mereka tak bisa menghilang seperti p | 31 % |
| geri ini sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal, |
dan |
toh diterima juga. Tapi yang satu ini, kita harap saja seger | 35 % |
| g disalahkan polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, |
dan |
buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup unt | 41 % |
| itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat. “Siap Pak!” |
dan |
segera Reserse Sarman menghilang. “Lho, mana uangnya?” teria | 43 % |
| e Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri |
dan |
beranak empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Rese | 44 % |
| hadapan dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, |
dan |
dikerumuni ulat. Ia berdiri di perempatan jalan sambil menga | 45 % |
| asar kelas teri. Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata |
dan |
tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan bahwa di tu | 50 % |
| hwa di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. |
dan |
pada sosok-sosok itu selalu terdapat lubang dari mana ulat-u | 51 % |
| u terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar |
dan |
berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat | 51 % |
| t-lamat masih terlihat sebentuk wanita telanjang di dadanya. |
dan |
lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di tempat yan | 53 % |
| Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. |
dan |
seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang bia | 67 % |
| ebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke Bos!” |
dan |
rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr! Ibu kota seperti terlanda | 69 % |
| endela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, piring, gelas |
dan |
botol-botol. Orang-orang setiap hari sibuk menjetikkan ulat- | 71 % |
| rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini biasanya tenteram |
dan |
damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi | 73 % |
| is. Maklumlah, negeri ini biasanya tenteram dan damai, subur |
dan |
gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus berperang | 73 % |
| sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka |
dan |
isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu me | 77 % |
| kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama |
dan |
bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunjukka | 78 % |
| n di jendela kaca, yang terletak di belakangnya. Ia menoleh, |
dan |
terhentak, zombi! Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk itu | 79 % |
| mandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!” Zombi itu mendekat |
dan |
membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse keburu melonca | 84 % |
| embalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse keburu meloncat |
dan |
lari ke ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi | 84 % |
| k! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah insaf Pak! |
dan |
mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada | 89 % |
| okan. Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin banyak |
dan |
makin cepat, dan makin ganas. Mereka merayat seperti ulat. M | 96 % |
| sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat, |
dan |
makin ganas. Mereka merayat seperti ulat. Memenuhi jalanan, | 96 % |
| at seperti ulat. Memenuhi jalanan, menyeruduk di supermarket |
dan |
memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan di segala pelosok | 97 % |
| yangan di segala pelosok. Memanjati gedung-gedung bertingkat |
dan |
berteriak-teriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhend | 97 % |
| g. Keningnya berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak ada |
darah |
mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. Malah | 17 % |
| demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa |
dari |
saat ke saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera | 4 % |
| Grhhh! Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa |
dari |
mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya sep | 10 % |
| Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong dan |
dari |
bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging di s | 11 % |
| k sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai |
dari |
yang mengalami kecelakaan sampai yang teraniaya. Mayat-mayat | 12 % |
| rjatuhan dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat |
dari |
dalam tubuh busuk itu dan kruget-kruget lagi kruget-kruget l | 15 % |
| mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. Malah |
dari |
lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-krug | 18 % |
| penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. Dan |
dari |
setiap lubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehing | 19 % |
| Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat itu masih jauh |
dari |
Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal | 24 % |
| gingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan |
dari |
tubuhnya berkembang biak dengan dahsyat. Pada umumnya para r | 30 % |
| bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul begitu saja, entah |
dari |
mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum ada laporan | 33 % |
| Mereka muncul begitu saja, entah dari mana. Mungkin langsung |
dari |
kuburan. Tapi belum ada laporan tentang kuburan-kuburan yang | 33 % |
| Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali |
dari |
alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa urus | 48 % |
| a-sisa tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu terdapat lubang |
dari |
mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar dan berjatuhan kruget- | 51 % |
| a, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet-deret |
dari |
dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak banya | 54 % |
| nya berputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal. Beli |
dari |
Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tid | 63 % |
| lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. |
dari |
mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman bet | 63 % |
| pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan |
dari |
mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. | 67 % |
| idikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu datang |
dari |
Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. | 78 % |
| a bisa terbunuh secara misterius Pak!” Grhhh! Zombi melompat |
dari |
jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok. “Jadi, apa ke | 90 % |
| elindur! Itu semua omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal |
dari |
luar negeri! Kamu dengar itu? Enam ribu rudal sedang dikapal | 93 % |
| Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor |
dari |
neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath | 98 % |
| l. Peti di dalamnya telah terbuka dan isinya tidak ada lagi. |
data-data |
menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum penjahat kelas | 77 % |
| penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu |
datang |
dari Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat ses | 78 % |
| ak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih |
datangnya |
mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. | 63 % |
| telah lama menghunjam hatinya harus dilupakan sementara. Eh, |
demikian |
nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat | 3 % |
| tahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas |
dendam!” |
“Apa yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! Ha | 91 % |
| ejadian perkara, ia meraba pistol di balik jaket. Masih ada. |
dengan |
lincah, ia melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-o | 5 % |
| angat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya bisa dibuka |
dengan |
paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya bol | 10 % |
| jatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi |
dengan |
penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. Dan | 18 % |
| . Kedua tangannya terangkat ke atas, seperti melambai-lambai |
dengan |
berat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya | 21 % |
| riman rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah |
dengan |
kaki berat itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dih | 23 % |
| ukun pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahkan |
dengan |
rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan dagingnya masih | 29 % |
| Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya berkembang biak |
dengan |
dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melaporkan kejadian | 30 % |
| Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. |
dengan |
sigap ia meloncat. “Siap Pak!” Dan segera Reserse Sarman men | 43 % |
| elalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan |
dengan |
mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni | 45 % |
| apak kakinya pun mulai mencair. Reserse Sarman memperhatikan |
dengan |
lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, | 47 % |
| buang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak bisa menjeratnya |
dengan |
jala? Menebasnya dengan golok? Atau menyiramnya dengan bensi | 60 % |
| ahal itu? Apa tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya |
dengan |
golok? Atau menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi. | 60 % |
| atnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? Atau menyiramnya |
dengan |
bensin?” ujarnya di televisi. Namun sementara terjadi polemi | 60 % |
| up terus nongol di mana-mana. Para petugas ingin membereskan |
dengan |
cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi baru beber | 61 % |
| rika Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama |
dengan |
berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lag | 63 % |
| Saat itu juga kiriman rudal tiba. Para petugas membopongnya |
dengan |
hati-hati. Zombi itu telah tegak di atap sebuah mobil. Grhhh | 65 % |
| eperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang biak |
dengan |
cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para wanita | 67 % |
| rkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran. |
dengan |
malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk. …para informan | 76 % |
| bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!” “Tembak segera |
dengan |
rudal!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!” Zo | 83 % |
| nendang pintu sampai jebol. Reserse Sarman meloncati jendela |
dengan |
HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu | 86 % |
| sok. Memanjati gedung-gedung bertingkat dan berteriak-teriak |
dengan |
serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara ber | 97 % |
| g-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu |
dengar |
itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan | 93 % |
| omandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, |
desember |
1986 | 100 % |
| bersuara berbarengan seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! |
dhendham |
khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh! Di sela-sela paduan su | 98 % |
| n seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! |
dhendham |
khesumath! Grhhh! Di sela-sela paduan suara kengerian yang m | 98 % |
| bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! |
dhendham! |
Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor dari nerak | 98 % |
| umira Ajidarma Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya |
di |
warung Markonah, ketika bunyi HT yang menjengkelkan itu mema | 1 % |
| namun Reserse Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak |
di |
warung itu mesti dilepasnya kembali. Senyuman Markonah yang | 3 % |
| iburu peristiwa dari saat ke saat, setiap kali menarik napas |
di |
permukaan segera terbenam dalam persoalan kembali. Di dalam | 4 % |
| napas di permukaan segera terbenam dalam persoalan kembali. |
di |
dalam mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia merab | 4 % |
| krolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pistol |
di |
balik jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia melompat ke luar m | 5 % |
| e luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun |
di |
tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, kepala Resers | 6 % |
| tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. |
di |
balik punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjul | 6 % |
| angan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok itu berdiri |
di |
perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutnya | 7 % |
| uara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak berani mendekat. |
di |
tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. Berki | 8 % |
| dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging |
di |
seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya busuk sekali. R | 11 % |
| lat-ulat. Setiap kali ulat-ulat berjatuhan dan kruget-kruget |
di |
jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk itu da | 14 % |
| ncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget berjatuhan |
di |
aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi dengan pen | 18 % |
| ng makin banyak saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget |
di |
mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Seor | 25 % |
| gi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN |
di |
IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di berbag | 27 % |
| YANGAN DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami |
di |
berbagai sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat keramai | 27 % |
| . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporkan, |
di |
setiap tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk s | 27 % |
| ga brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi |
di |
film Barat. Maknyadirodog!” Di warung Markonah ia terus saja | 39 % |
| isi. Malah memuja-muja polisi di film Barat. Maknyadirodog!” |
di |
warung Markonah ia terus saja nerocos, sambil mengunyah seke | 39 % |
| lanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri |
di |
perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya me | 45 % |
| bil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah |
di |
atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakin | 46 % |
| a dan tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan bahwa |
di |
tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan pa | 50 % |
| ertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita telanjang |
di |
dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada | 53 % |
| dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada |
di |
tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada | 53 % |
| lut rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpeleset |
di |
atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sa | 56 % |
| hitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermunculan |
di |
berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati mem | 57 % |
| asnya dengan golok? Atau menyiramnya dengan bensin?” ujarnya |
di |
televisi. Namun sementara terjadi polemik, mayat-mayat hidup | 60 % |
| un sementara terjadi polemik, mayat-mayat hidup terus nongol |
di |
mana-mana. Para petugas ingin membereskan dengan cepat. Untu | 61 % |
| -betul penasaran. Ia meraih HT-nya. “Periksa kuburan-kuburan |
di |
segenap penjuru tanah air. Laporkan kuburan siapa saja yang | 64 % |
| petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak |
di |
atap sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatika | 66 % |
| r! Ibu kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata |
di |
mana-mana. Inilah akibat rudal yang diobral. Namun Zombi ter | 69 % |
| lan. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget |
di |
atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, se | 70 % |
| g-orang setiap hari sibuk menjetikkan ulat-ulat yang merayap |
di |
bajunya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang bergantung | 71 % |
| junya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang bergantungan |
di |
kacamatanya. Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-hari k | 72 % |
| e Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke atas meja |
di |
kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Perc | 75 % |
| malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk. …para informan |
di |
segenap penjuru tanah air melaporkan adanya sejumlah kuburan | 76 % |
| anah air melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti |
di |
dalamnya telah terbuka dan isinya tidak ada lagi. Data-data | 77 % |
| sesuatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan |
di |
jendela kaca, yang terletak di belakangnya. Ia menoleh, dan | 79 % |
| wab, terdengar sebuah ketukan di jendela kaca, yang terletak |
di |
belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya be | 79 % |
| ntungnya berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada |
di |
jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun telah mencair, R | 80 % |
| zombi adalah Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius |
di |
Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di marka | 83 % |
| erius di Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul |
di |
markas!” “Tembak segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! Itu t | 83 % |
| Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur |
di |
Lubang Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada | 87 % |
| k Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak |
di |
antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai mis | 88 % |
| ntai!” Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo |
di |
halaman markas. “Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Res | 94 % |
| eserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan. |
di |
berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan maki | 96 % |
| s. Mereka merayat seperti ulat. Memenuhi jalanan, menyeruduk |
di |
supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan d | 97 % |
| i supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan |
di |
segala pelosok. Memanjati gedung-gedung bertingkat dan berte | 97 % |
| Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh! |
di |
sela-sela paduan suara kengerian yang membuat seluruh kota g | 98 % |
| uget-kruget. Kruget-kruget. Seorang wartawan yang sejak tadi |
diam-diam |
memotret kejadian ini segera melambai taksi. “Palmerah! Cepa | 26 % |
| zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. |
diangkatnya |
kedua kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-ny | 75 % |
| itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan |
dibantai!” |
Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo di hal | 94 % |
| r itu mengejar saya! Cepat!” “Monster? Monster apa?” “Sudah! |
dibicarakan |
nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?” “Dasar gob | 22 % |
| ya. Reserse Sarman segera bertindak. Ia mengeluarkan pistol. |
dibidiknya |
kepala orang itu. Ia menembak. Terdengar letusan. Sosok itu | 16 % |
| yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya bisa |
dibuka |
dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kiri | 10 % |
| an sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. |
diburu |
peristiwa dari saat ke saat, setiap kali menarik napas di pe | 4 % |
| Reserse Sarman setengah mati memantaunya. Setiak kali mesti |
digunakan |
rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW ini buka | 58 % |
| au senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah |
dijampi-jampi |
dukun pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahka | 28 % |
| al dari luar negeri! Kamu dengar itu? Enam ribu rudal sedang |
dikapalkan |
ke mari! Mereka akan dibantai!” Zombi menangkap kaki Reserse | 94 % |
| pan dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan |
dikerumuni |
ulat. Ia berdiri di perempatan jalan sambil mengangkat kedua | 45 % |
| a yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! Harus |
dilakukan |
penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratus! Tidak c | 92 % |
| telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung itu mesti |
dilepasnya |
kembali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatiny | 3 % |
| ekali. Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang belum pernah |
dilihatnya |
seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terlihat lubang-lubang | 13 % |
| . Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatinya harus |
dilupakan |
sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. Di | 3 % |
| ampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya bisa |
dimusnahkan |
dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan dagingny | 29 % |
| a terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran. Dengan malas |
diraihnya |
sejumlah laporan yang masuk. …para informan di segenap penju | 76 % |
| sar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-paling nanti yang |
disalahkan |
polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan buntutny | 41 % |
| enting, sambil menutup-nutupi masalah sebenarnya. Coba, mana |
disebut |
kerja keras petugas? Aku sudah bekerja siang malam tanpa ist | 38 % |
| rius itu banyak yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak |
disembahyangkan |
Pak! Waktu itu tidak ada yang berani! Takut ikut terbantai P | 89 % |
| sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh |
diterima |
juga. Tapi yang satu ini, kita harap saja segera berlalu. Ma | 35 % |
| gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua |
diterima |
Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau ap | 42 % |
| sok seperti orang itu tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat |
ditimpa |
lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin jel | 8 % |
| an suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil itu |
ditinggalkan |
penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas atap mobil. | 46 % |
| um ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para |
dokter |
sedang memeriksa serpihan daging yang masih menggeliat-gelia | 33 % |
| i. Setan mana yang merasukinya? Kalau dihitung-hitung, sudah |
dua |
puluh lebih mayat hidup bermunculan di berbagai sudut. Rekan | 57 % |
| sa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah dijampi-jampi |
dukun |
pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahkan deng | 28 % |
| ena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau |
dulu |
gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wa | 42 % |
| pa urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa hidupnya mereka |
dulu |
kriminal, pikir Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-pe | 49 % |
| ela dengan HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul |
enam |
ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih i | 87 % |
| ta sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu dengar itu? |
enam |
ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan dibantai!” | 94 % |
| uarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul begitu saja, |
entah |
dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum ada lap | 33 % |
| brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi di |
film |
Barat. Maknyadirodog!” Di warung Markonah ia terus saja nero | 39 % |
| mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana |
gaji |
cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua diter | 41 % |
| Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru itu seperti menembus |
gedebok |
pisang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langs | 17 % |
| mpus-kampus. Mereka gentayangan di segala pelosok. Memanjati |
gedung-gedung |
bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! | 97 % |
| rsi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, piring, |
gelas |
dan botol-botol. Orang-orang setiap hari sibuk menjetikkan u | 71 % |
| Maklumlah, negeri ini biasanya tenteram dan damai, subur dan |
gemah |
ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus berperang melawa | 73 % |
| i sela-sela paduan suara kengerian yang membuat seluruh kota |
gemetar |
ketakutan itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang meny | 99 % |
| annya Bintara Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan besar Pak! |
generasi |
kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mer | 91 % |
| t!” Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP |
gentayangan |
DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di ber | 26 % |
| i yang satu ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat hidup |
gentayangan |
adalah kenyataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman mem | 36 % |
| menyeruduk di supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka |
gentayangan |
di segala pelosok. Memanjati gedung-gedung bertingkat dan be | 97 % |
| ruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh! |
gerakan |
sosok itu seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Rese | 15 % |
| ang, atau menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan |
gerakannya |
yang lamban, mereka tak bisa menghilang seperti penjahat. Me | 31 % |
| menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa |
gerimis |
bertabur membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Sia | 1 % |
| n?” “Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena |
getahnya! |
Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam! | 91 % |
| kan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?” “Dasar |
goblok! |
Rudal antitank!” Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TO | 23 % |
|
grhhh! |
oleh Seno Gumira Ajidarma Reserse Sarman masih asyik menyer | 0 % | |
| gi besar. Kakinya menginjak korban yang sudah setengah mati. |
grhhh! |
Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mu | 9 % |
| ruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. |
grhhh! |
Gerakan sosok itu seolah-olah mengancam korban yang diinjakn | 15 % |
| g-acungkan hasil jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: |
grhhh! |
Grhhh! Mereka muncul begitu saja, entah dari mana. Mungkin l | 32 % |
| angan. Mulutnya mencair tapi masih mengeluarkan suara serak. |
grhhh! |
Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpang | 46 % |
| -kruget. Reserse Sarman merasa ingat sesuatu tapi lupa lagi. |
grhhh! |
Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok i | 52 % |
| arman seperti ingat sesuatu. Namun suara itu terdengar lagi. |
grhhh! |
Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling ampuh untuk melum | 55 % |
| engan hati-hati. Zombi itu telah tegak di atap sebuah mobil. |
grhhh! |
Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan wajahnya yang setengah m | 66 % |
| etengah mencair. Rasa-rasanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? |
grhhh! |
Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. Dan seperti biasa | 66 % |
| jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi itu merayap masuk. |
grhhh! |
Grhhh! Reserse Sarman melompat ke atas meja, meraih HT. Seka | 81 % |
| s, waktu itu siapa saja bisa terbunuh secara misterius Pak!” |
grhhh! |
Zombi melompat dari jendela. Reserse Sarman memanjat pagar t | 90 % |
| gedung-gedung bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. |
grhhh! |
Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seper | 98 % |
| endham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor dari neraka. |
grhhh! |
Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh! Di sel | 98 % |
| eraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! |
grhhh! |
Di sela-sela paduan suara kengerian yang membuat seluruh kot | 98 % |
| i kepalanya mendongak dan mulutnya mengeluarkan suara serak. |
grhhhh! |
Grhhhh! Orang-orang tak berani mendekat. Di tangan sosok sep | 7 % |
| Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu |
gua |
diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartaw | 42 % |
| Grhhh! oleh Seno |
gumira |
Ajidarma Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di wa | 0 % |
| i!” Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo di |
halaman |
markas. “Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sar | 94 % |
| dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak |
hal-hal |
yang tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu | 35 % |
| at. Pada umumnya para reporter kami melaporkan kejadian yang |
hampir |
mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu berla | 30 % |
| mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu |
hancur |
lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja be | 24 % |
| ur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan |
hanya |
bisa dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencai | 10 % |
| enembak beberapa kali lagi dengan penasaran. Namun pelurunya |
hanya |
mencetak lubang-lubang. Dan dari setiap lubang muncul ulat-u | 19 % |
| on melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa. |
hanya |
ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan ber- | 24 % |
| g sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup itu |
hanya |
bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. | 29 % |
| lamban, mereka tak bisa menghilang seperti penjahat. Mereka |
hanya |
mengacung-acungkan hasil jarahannya sambil mengeluarkan buny | 32 % |
| udal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW ini bukan |
hanya |
menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya pun ikut ha | 58 % |
| n merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan |
hanya |
menyambar benda-benda murahan, tetapi mulai melahap segala j | 72 % |
| masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu ini, kita |
harap |
saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah kenyataa | 36 % |
| at. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi baru beberapa |
hari |
saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal kita habis? | 62 % |
| u, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. Orang-orang setiap |
hari |
sibuk menjetikkan ulat-ulat yang merayap di bajunya, rambutn | 71 % |
| embali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatinya |
harus |
dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse | 3 % |
| apok menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. |
harus |
ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan | 63 % |
| damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi |
harus |
berperang melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara | 74 % |
| itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang |
harus |
kita lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! Harus dilakukan pe | 91 % |
| !” “Apa yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! |
harus |
dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratu | 92 % |
| menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan |
hasil |
jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Me | 32 % |
| teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan bertanda tahun. |
hasil |
penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu | 78 % |
| ayat-mayat itu sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan |
hati |
Reserse Sarman sama sekali. Kini Reserse Sarman menatap sesu | 13 % |
| pasnya kembali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam |
hatinya |
harus dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Re | 3 % |
| ! Cepat!” Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT |
hidup |
GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter | 26 % |
| ta api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat |
hidup |
itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti | 29 % |
| porkan kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat |
hidup |
alias zombi itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet do | 30 % |
| a. Tapi yang satu ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat |
hidup |
gentayangan adalah kenyataan yang terlalu mengerikan. Resers | 36 % |
| dah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat |
hidup |
yang dimuat. Mending kalau cakep! Masyarakat juga brengsek s | 38 % |
| yah sekerat tempe. “Sekarang koran ikut-ikutan. Berita mayat |
hidup |
dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-paling nanti | 40 % |
| k tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok |
hidup |
lagi. Setan mana yang merasukinya? Kalau dihitung-hitung, su | 57 % |
| asukinya? Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat |
hidup |
bermunculan di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman se | 57 % |
| Lingkungannya pun ikut hancur. Menteri Pengawasan Lingkungan |
hidup |
sudah marah-marah. “Kenapa sih mesti menggunakan rudal? Apa | 59 % |
| ya di televisi. Namun sementara terjadi polemik, mayat-mayat |
hidup |
terus nongol di mana-mana. Para petugas ingin membereskan de | 61 % |
| nat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat |
hidup |
akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? | 63 % |
| . Kalau tidak, apa urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa |
hidupnya |
mereka dulu kriminal, pikir Reserse Sarman. Tampaknya mereka | 49 % |
| ih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi |
ht |
yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. | 1 % |
| wan tau apa sih? Sok tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika |
ht |
itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat. “Siap Pak!” | 42 % |
| h jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus berperang melawan zombi? |
ht |
Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat | 74 % |
| atnya kedua kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. |
ht-nya |
terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran. Dengan malas d | 75 % |
| encaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. |
ht-nya |
jatuh masuk selokan. Di berbagai sudut kota zombi bermuncula | 95 % |
| bali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, |
ia |
meraba pistol di balik jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia m | 5 % |
| , ia meraba pistol di balik jaket. Masih ada. Dengan lincah, |
ia |
melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih | 5 % |
| r. Kakinya menginjak korban yang sudah setengah mati. Grhhh! |
ia |
menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut | 9 % |
| cam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman segera bertindak. |
ia |
mengeluarkan pistol. Dibidiknya kepala orang itu. Ia menemba | 16 % |
| tindak. Ia mengeluarkan pistol. Dibidiknya kepala orang itu. |
ia |
menembak. Terdengar letusan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tid | 16 % |
| tu. Ia menembak. Terdengar letusan. Sosok itu tertegun. Tapi |
ia |
tidak bergeming. Keningnya berlubang karena peluru Reserse S | 17 % |
| angkah dengan kaki berat itu masih jauh dari Reserse Sarman. |
ia |
segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal seberat 40 pon mel | 24 % |
| itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti |
ia |
mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ula | 29 % |
| uja polisi di film Barat. Maknyadirodog!” Di warung Markonah |
ia |
terus saja nerocos, sambil mengunyah sekerat tempe. “Sekaran | 39 % |
| in nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok tau!” |
ia |
masih memaki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. Den | 42 % |
| aki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap |
ia |
meloncat. “Siap Pak!” Dan segera Reserse Sarman menghilang. | 43 % |
| nya?” teriak Markonah, bersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. |
ia |
tahu, Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski su | 44 % |
| hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. |
ia |
berdiri di perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. | 45 % |
| gnya. Sosok busuk itu melangkah di atas atap mobil. Sesekali |
ia |
terpeleset karena telapak kakinya pun mulai mencair. Reserse | 47 % |
| i mencair. Reserse Sarman memperhatikan dengan lebih tenang. |
ia |
tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, yang lain akan se | 47 % |
| atu tapi lupa lagi. Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunannya. |
ia |
mengamati lagi, sosok itu juga bertato. Lamat-lamat masih te | 52 % |
| eperti ingat sesuatu. Namun suara itu terdengar lagi. Grhhh! |
ia |
sudah memesan rudal TOW. Senjata paling ampuh untuk melumpuh | 55 % |
| enjata paling ampuh untuk melumpuhkan zombi. Sambil menunggu |
ia |
menyulut rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpe | 55 % |
| mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. |
ia |
meraih HT-nya. “Periksa kuburan-kuburan di segenap penjuru t | 64 % |
| ebuah ketukan di jendela kaca, yang terletak di belakangnya. |
ia |
menoleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya berdegup keras. Wa | 79 % |
| tu pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya. “Ngadul!” |
ia |
berteriak. Namun Ngadul yang telah jadi zombi tidak mengenal | 81 % |
| h! Reserse Sarman melompat ke atas meja, meraih HT. Sekarang |
ia |
merasakan menemukan sesuatu. “Komandan! Salah satu zombi ada | 82 % |
| taian misterius di Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! |
ia |
muncul di markas!” “Tembak segera dengan rudal!” “Maaf Koman | 83 % |
| muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI |
ibu |
KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di berbagai s | 27 % |
| . Potongan berita: . . . dan reporter kami di berbagai sudut |
ibu |
kota melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul mayat hid | 27 % |
| se Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr! |
ibu |
kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di man | 69 % |
| n hanya menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya pun |
ikut |
hancur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah marah-mara | 59 % |
| disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada yang berani! Takut |
ikut |
terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa terbunuh sec | 89 % |
| n. Dengan malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk. …para |
informan |
di segenap penjuru tanah air melaporkan adanya sejumlah kubu | 76 % |
| r dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa |
ingat |
sesuatu tapi lupa lagi. Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunan | 52 % |
| unggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sarman seperti |
ingat |
sesuatu. Namun suara itu terdengar lagi. Grhhh! Ia sudah mem | 54 % |
| tu datang dari Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa |
ingat |
sesuatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan | 79 % |
| m ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih |
ingat |
Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur | 87 % |
| r dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa |
ingat |
sesuatu tapi lupa lagi. Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunan | 52 % |
| unggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sarman seperti |
ingat |
sesuatu. Namun suara itu terdengar lagi. Grhhh! Ia sudah mem | 54 % |
| tu datang dari Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa |
ingat |
sesuatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan | 79 % |
| m ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih |
ingat |
Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur | 87 % |
| k, mayat-mayat hidup terus nongol di mana-mana. Para petugas |
ingin |
membereskan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tep | 61 % |
| ter apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa |
ini |
yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena jalana | 22 % |
| Seorang wartawan yang sejak tadi diam-diam memotret kejadian |
ini |
segera melambai taksi. “Palmerah! Cepat!” Koran pagi muncul | 26 % |
| sungguh aneh ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri |
ini |
sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh | 35 % |
| memperhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu |
ini |
bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu ada seb | 48 % |
| akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk |
ini |
bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. | 48 % |
| igunakan rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW |
ini |
bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya | 58 % |
| lah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri |
ini |
biasanya tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinaw | 73 % |
| ter apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa |
ini |
yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena jalana | 22 % |
| Seorang wartawan yang sejak tadi diam-diam memotret kejadian |
ini |
segera melambai taksi. “Palmerah! Cepat!” Koran pagi muncul | 26 % |
| sungguh aneh ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri |
ini |
sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh | 35 % |
| memperhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu |
ini |
bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu ada seb | 48 % |
| akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk |
ini |
bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. | 48 % |
| igunakan rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW |
ini |
bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya | 58 % |
| lah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri |
ini |
biasanya tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinaw | 73 % |
| perti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana. |
inilah |
akibat rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ul | 69 % |
| tif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah |
insaf |
Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu t | 89 % |
| umlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka dan |
isinya |
tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang ku | 77 % |
| erputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari |
israel |
sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu | 63 % |
| pinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang menjengkelkan |
itu |
memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis bertabur | 1 % |
| rse Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung |
itu |
mesti dilepasnya kembali. Senyuman Markonah yang telah lama | 3 % |
| rekam pemandangan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok |
itu |
berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak da | 7 % |
| ang-orang tak berani mendekat. Di tangan sosok seperti orang |
itu |
tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat ditimpa lampu jalanan | 8 % |
| rman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, betapa sosok |
itu |
sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya menginjak | 9 % |
| menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut |
itu |
meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengk | 10 % |
| ajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong dan dari bolongan |
itu |
ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging di seluruh tubuhn | 11 % |
| yang mengalami kecelakaan sampai yang teraniaya. Mayat-mayat |
itu |
sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan hati Reserse S | 12 % |
| ng belum pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk |
itu |
terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap k | 14 % |
| get di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk |
itu |
dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget | 15 % |
| get-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh! Gerakan sosok |
itu |
seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman | 15 % |
| knya kepala orang itu. Ia menembak. Terdengar letusan. Sosok |
itu |
tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang karen | 16 % |
| karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru |
itu |
seperti menembus gedebok pisang. Malah dari lubang itu muncu | 17 % |
| eluru itu seperti menembus gedebok pisang. Malah dari lubang |
itu |
muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget berjatuh | 18 % |
| ubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehingga sosok |
itu |
semakin lama makin menjijikkan. Dan malah bergerak mendekati | 19 % |
| mbak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster |
itu |
mengejar saya! Cepat!” “Monster? Monster apa?” “Sudah! Dibic | 22 % |
| udal antitank!” Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW |
itu |
cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat i | 23 % |
| u cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat |
itu |
masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sek | 23 % |
| ejap mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk |
itu |
hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak | 24 % |
| yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup |
itu |
hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia | 29 % |
| erguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. |
itu |
pun tak berarti ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-l | 29 % |
| ng hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi |
itu |
berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas k | 31 % |
| ataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca berita |
itu |
sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terlalu. Masak namaku s | 36 % |
| tau apa sih? Sok tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT |
itu |
memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat. “Siap Pak!” Dan | 42 % |
| uarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil |
itu |
ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas | 46 % |
| acet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk |
itu |
melangkah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena | 46 % |
| serse Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair |
itu |
terlihat sisa-sisa tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu ter | 50 % |
| ai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan pada sosok-sosok |
itu |
selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke | 51 % |
| rse Sarman merasa ingat sesuatu tapi lupa lagi. Grhhh! Suara |
itu |
menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok itu juga be | 52 % |
| ! Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok |
itu |
juga bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita tel | 52 % |
| Lagi-lagi Reserse Sarman seperti ingat sesuatu. Namun suara |
itu |
terdengar lagi. Grhhh! Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata p | 55 % |
| bi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster |
itu |
jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. B | 56 % |
| uran siapa saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah. Saat |
itu |
juga kiriman rudal tiba. Para petugas membopongnya dengan ha | 65 % |
| udal tiba. Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi |
itu |
telah tegak di atap sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarm | 65 % |
| g tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi |
itu |
kini lebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke | 68 % |
| ka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan |
itu |
memang kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua k | 77 % |
| asil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat |
itu |
datang dari Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa in | 78 % |
| dan terhentak, zombi! Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk |
itu |
tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah i | 80 % |
| u tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah |
itu |
pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya. “Ngadul!” Ia | 80 % |
| Ngadul yang telah jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi |
itu |
merayap masuk. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman melompat ke atas | 81 % |
| ul di markas!” “Tembak segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! |
itu |
tidak menyelesaikan masalah!” Zombi itu mendekat dan membali | 83 % |
| al!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!” Zombi |
itu |
mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse k | 84 % |
| enyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara Sarman? Zombi |
itu |
mengganggu kehidupan!” Zombi menendang pintu sampai jebol. R | 86 % |
| mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius |
itu |
banyak yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembah | 88 % |
| insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu |
itu |
tidak ada yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, wakt | 89 % |
| idak ada yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu |
itu |
siapa saja bisa terbunuh secara misterius Pak!” Grhhh! Zombi | 89 % |
| mbok. “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian |
itu |
kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-oran | 91 % |
| esalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang |
itu |
tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang haru | 91 % |
| a santai!” “Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! |
itu |
semua omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar ne | 93 % |
| pinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang menjengkelkan |
itu |
memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis bertabur | 1 % |
| rse Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung |
itu |
mesti dilepasnya kembali. Senyuman Markonah yang telah lama | 3 % |
| rekam pemandangan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok |
itu |
berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak da | 7 % |
| ang-orang tak berani mendekat. Di tangan sosok seperti orang |
itu |
tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat ditimpa lampu jalanan | 8 % |
| rman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, betapa sosok |
itu |
sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya menginjak | 9 % |
| menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut |
itu |
meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengk | 10 % |
| ajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong dan dari bolongan |
itu |
ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging di seluruh tubuhn | 11 % |
| yang mengalami kecelakaan sampai yang teraniaya. Mayat-mayat |
itu |
sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan hati Reserse S | 12 % |
| ng belum pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk |
itu |
terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap k | 14 % |
| get di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk |
itu |
dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget | 15 % |
| get-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh! Gerakan sosok |
itu |
seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman | 15 % |
| knya kepala orang itu. Ia menembak. Terdengar letusan. Sosok |
itu |
tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang karen | 16 % |
| karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru |
itu |
seperti menembus gedebok pisang. Malah dari lubang itu muncu | 17 % |
| eluru itu seperti menembus gedebok pisang. Malah dari lubang |
itu |
muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget berjatuh | 18 % |
| ubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehingga sosok |
itu |
semakin lama makin menjijikkan. Dan malah bergerak mendekati | 19 % |
| mbak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster |
itu |
mengejar saya! Cepat!” “Monster? Monster apa?” “Sudah! Dibic | 22 % |
| udal antitank!” Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW |
itu |
cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat i | 23 % |
| u cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat |
itu |
masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sek | 23 % |
| ejap mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk |
itu |
hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak | 24 % |
| yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup |
itu |
hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia | 29 % |
| erguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. |
itu |
pun tak berarti ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-l | 29 % |
| ng hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi |
itu |
berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas k | 31 % |
| ataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca berita |
itu |
sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terlalu. Masak namaku s | 36 % |
| tau apa sih? Sok tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT |
itu |
memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat. “Siap Pak!” Dan | 42 % |
| uarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil |
itu |
ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas | 46 % |
| acet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk |
itu |
melangkah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena | 46 % |
| serse Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair |
itu |
terlihat sisa-sisa tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu ter | 50 % |
| ai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan pada sosok-sosok |
itu |
selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke | 51 % |
| rse Sarman merasa ingat sesuatu tapi lupa lagi. Grhhh! Suara |
itu |
menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok itu juga be | 52 % |
| ! Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok |
itu |
juga bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita tel | 52 % |
| Lagi-lagi Reserse Sarman seperti ingat sesuatu. Namun suara |
itu |
terdengar lagi. Grhhh! Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata p | 55 % |
| bi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster |
itu |
jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. B | 56 % |
| uran siapa saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah. Saat |
itu |
juga kiriman rudal tiba. Para petugas membopongnya dengan ha | 65 % |
| udal tiba. Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi |
itu |
telah tegak di atap sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarm | 65 % |
| g tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi |
itu |
kini lebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke | 68 % |
| ka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan |
itu |
memang kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua k | 77 % |
| asil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat |
itu |
datang dari Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa in | 78 % |
| dan terhentak, zombi! Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk |
itu |
tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah i | 80 % |
| u tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah |
itu |
pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya. “Ngadul!” Ia | 80 % |
| Ngadul yang telah jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi |
itu |
merayap masuk. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman melompat ke atas | 81 % |
| ul di markas!” “Tembak segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! |
itu |
tidak menyelesaikan masalah!” Zombi itu mendekat dan membali | 83 % |
| al!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!” Zombi |
itu |
mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse k | 84 % |
| enyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara Sarman? Zombi |
itu |
mengganggu kehidupan!” Zombi menendang pintu sampai jebol. R | 86 % |
| mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius |
itu |
banyak yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembah | 88 % |
| insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu |
itu |
tidak ada yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, wakt | 89 % |
| idak ada yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu |
itu |
siapa saja bisa terbunuh secara misterius Pak!” Grhhh! Zombi | 89 % |
| mbok. “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian |
itu |
kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-oran | 91 % |
| esalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang |
itu |
tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang haru | 91 % |
| a santai!” “Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! |
itu |
semua omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar ne | 93 % |
| engenalinya. “Ngadul!” Ia berteriak. Namun Ngadul yang telah |
jadi |
zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi itu merayap masuk. Grhh | 81 % |
| ngngngngng! Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” |
jakarta |
- Yogya, Desember 1986 | 100 % |
| an cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke |
jalan |
Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih berkepul, na | 2 % |
| ubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri di perempatan |
jalan |
sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya mencair tapi masih | 45 % |
| erse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke |
jalan |
Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak | 74 % |
| pa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena |
jalanan |
sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk | 23 % |
| a mencair tapi masih mengeluarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! |
jalanan |
macet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busu | 46 % |
| g terletak di belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi! |
jantungnya |
berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jende | 80 % |
| lang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan hasil |
jarahannya |
sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul | 32 % |
| Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu |
jatuh |
bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya | 56 % |
| k kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya |
jatuh |
masuk selokan. Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, mak | 95 % |
| tang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat itu masih |
jauh |
dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, | 24 % |
| segenap penjuru tanah air. Laporkan kuburan siapa saja yang |
jebol!” |
Reserse Sarman memerintah. Saat itu juga kiriman rudal tiba. | 65 % |
| mpa lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin |
jelas |
terlihat, betapa sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tingg | 9 % |
| uatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di |
jendela |
kaca, yang terletak di belakangnya. Ia menoleh, dan terhenta | 79 % |
| Zombi menendang pintu sampai jebol. Reserse Sarman meloncati |
jendela |
dengan HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul ena | 86 % |
| -kruget menjijikkan. Berkembang biak dengan cepat. Merambati |
jendela-jendela |
mobil, sehingga para wanita cantik yang tidak sempat lari me | 67 % |
| a menyambar benda-benda murahan, tetapi mulai melahap segala |
jenis |
makanan. Keberadaaannya adalah teror. Persediaan rudal makin | 73 % |
| erse Sarman berteriak ngeri. Zombi mulai mencaplok kaki itu. |
jeritan |
Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan | 95 % |
| si mayat hidup yang dimuat. Mending kalau cakep! Masyarakat |
juga |
brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi di | 39 % |
| ara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok itu |
juga |
bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita telanjan | 52 % |
| tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada |
juga |
memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. Atau sepa | 54 % |
| siapa saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah. Saat itu |
juga |
kiriman rudal tiba. Para petugas membopongnya dengan hati-ha | 65 % |
| ran bernama dan bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara |
juga |
menunjukkan, sebagian mayat itu datang dari Lubang Besar… Re | 78 % |
| udal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan |
kaki |
berat itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. | 23 % |
| Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua |
kaki |
ke atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus men | 75 % |
| g dikapalkan ke mari! Mereka akan dibantai!” Zombi menangkap |
kaki |
Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas. “Tolong! | 94 % |
| long!” Reserse Sarman berteriak ngeri. Zombi mulai mencaplok |
kaki |
itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh | 95 % |
| , betapa sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. |
kakinya |
menginjak korban yang sudah setengah mati. Grhhh! Ia mengger | 9 % |
| ah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak |
kakinya |
pun mulai mencair. Reserse Sarman memperhatikan dengan lebih | 47 % |
| erak mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. |
kaku |
tapi meyakinkan. Kedua tangannya terangkat ke atas, seperti | 20 % |
| pa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang dimuat. Mending |
kalau |
cakep! Masyarakat juga brengsek selalu menghina polisi. Mala | 39 % |
| yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba |
kalau |
dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sediki | 42 % |
| bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. |
kalau |
tidak, apa urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa hidupny | 49 % |
| . Astaga, mayat kok hidup lagi. Setan mana yang merasukinya? |
kalau |
dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermuncul | 57 % |
| Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana |
kalau |
rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Am | 62 % |
| n Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat ke saat, setiap |
kali |
menarik napas di permukaan segera terbenam dalam persoalan k | 4 % |
| ami kecelakaan sampai yang teraniaya. Mayat-mayat itu sering |
kali |
mengerikan, tapi tak menggiriskan hati Reserse Sarman sama s | 13 % |
| u terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap |
kali |
ulat-ulat berjatuhan dan kruget-kruget di jalanan, muncul la | 14 % |
| kruget berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa |
kali |
lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang | 18 % |
| Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati memantaunya. Setiak |
kali |
mesti digunakan rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya ru | 58 % |
| rimkan rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monster! Cepat! |
kaliber |
22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!” “ | 22 % |
| erani mendekat. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam |
kalung |
emas. Berkilat-kilat ditimpa lampu jalanan. Reserse Sarman m | 8 % |
| ah. Ulat ber-kruget-kruget di atas meja, kursi, jendela, WC, |
kamar |
mandi, kantong baju, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. | 70 % |
| GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter |
kami |
di berbagai sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat kera | 27 % |
| a berkembang biak dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter |
kami |
melaporkan kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para m | 30 % |
| terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding. “Bintara Sarman! |
kamu |
membantah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak! Rudal kita | 85 % |
| ak! Supaya rohnya santai!” “Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? |
kamu |
ngelindur! Itu semua omong-kosong! Kita sedang mengimpor rud | 93 % |
| omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar negeri! |
kamu |
dengar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Merek | 93 % |
| kruget-kruget di atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, |
kantong |
baju, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. Orang-orang set | 70 % |
| Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat baru |
kapok |
menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Haru | 62 % |
| k itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang |
karena |
peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru itu se | 17 % |
| Rudal apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” |
karena |
jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datang. Soso | 23 % |
| t dompet, merampas kalung, meminta uang, atau menodong. Tapi |
karena |
tubuh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban, mereka | 31 % |
| suk itu melangkah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset |
karena |
telapak kakinya pun mulai mencair. Reserse Sarman memperhati | 47 % |
| al, pikir Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-penjahat |
kasar |
kelas teri. Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan | 50 % |
| ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan |
kaum |
penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan b | 77 % |
| askan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat |
ke |
Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih berkep | 2 % |
| nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat |
ke |
saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera terbenam | 4 % |
| pistol di balik jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia melompat |
ke |
luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun d | 5 % |
| tapi pasti. Kaku tapi meyakinkan. Kedua tangannya terangkat |
ke |
atas, seperti melambai-lambai dengan berat. Orang-orang buya | 20 % |
| tu selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak |
ke |
luar dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman mer | 51 % |
| mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sampai |
ke |
tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok hidup lagi. Setan m | 56 % |
| Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat |
ke |
Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman | 74 % |
| ” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki |
ke |
atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus mengui | 75 % |
| mbi itu merayap masuk. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman melompat |
ke |
atas meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuat | 82 % |
| n meja Reserse Sarman. Sang Reserse keburu meloncat dan lari |
ke |
ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding | 84 % |
| r negeri! Kamu dengar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan |
ke |
mari! Mereka akan dibantai!” Zombi menangkap kaki Reserse Sa | 94 % |
| mbi mulai mencaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit |
ke |
langit. HT-nya jatuh masuk selokan. Di berbagai sudut kota z | 95 % |
| da-benda murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. |
keberadaaannya |
adalah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, neg | 73 % |
| u mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse |
keburu |
meloncat dan lari ke ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat- | 84 % |
| rman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai dari yang mengalami |
kecelakaan |
sampai yang teraniaya. Mayat-mayat itu sering kali mengerika | 12 % |
| Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. Kaku tapi meyakinkan. |
kedua |
tangannya terangkat ke atas, seperti melambai-lambai dengan | 20 % |
| umuni ulat. Ia berdiri di perempatan jalan sambil mengangkat |
kedua |
tangan. Mulutnya mencair tapi masih mengeluarkan suara serak | 45 % |
| “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya |
kedua |
kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya teru | 75 % |
| atasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Memang, dalam |
kehidupan |
sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak hal-hal yang tid | 35 % |
| un yang bergantungan di kacamatanya. Zombi makin merajalela. |
kehidupan |
sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar benda-b | 72 % |
| h zombi!” “Apa maksudmu Bintara Sarman? Zombi itu mengganggu |
kehidupan!” |
Zombi menendang pintu sampai jebol. Reserse Sarman meloncati | 86 % |
| alam persoalan kembali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat |
kejadian |
perkara, ia meraba pistol di balik jaket. Masih ada. Dengan | 5 % |
| -kruget. Seorang wartawan yang sejak tadi diam-diam memotret |
kejadian |
ini segera melambai taksi. “Palmerah! Cepat!” Koran pagi mun | 26 % |
| k dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melaporkan |
kejadian |
yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zom | 30 % |
| kir Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-penjahat kasar |
kelas |
teri. Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan tenaga | 50 % |
| a-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum penjahat |
kelas |
teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan bertanda tahun. | 77 % |
| “Apakah Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat |
kelas |
teri terbantai secara misterius! Masih ingat Pak?” “Masih! M | 87 % |
| gut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman akan selalu |
kembali |
kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak empat. Akan sela | 44 % |
| padanya. Meski sudah beristri dan beranak empat. Akan selalu |
kembali |
padanya. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan dengan mayat | 44 % |
| muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit |
kembali |
dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa | 48 % |
| Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Generasi kita |
kena |
getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membal | 91 % |
| sa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu ada sebab |
kenapa |
tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu | 48 % |
| sumath! Dhendham khesumath! Grhhh! Di sela-sela paduan suara |
kengerian |
yang membuat seluruh kota gemetar ketakutan itu, terdengar l | 99 % |
| ya masih berkepul, namun Reserse Sarman telah melesat pergi. |
kenikmatan |
sejenak di warung itu mesti dilepasnya kembali. Senyuman Mar | 2 % |
| dengar letusan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. |
keningnya |
berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah menguc | 17 % |
| ta harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah |
kenyataan |
yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca berita itu s | 36 % |
| berkerumun di tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, |
kepala |
Reserse Sarman menjulur. Dan segera saja matanya merekam pem | 6 % |
| Sarman segera bertindak. Ia mengeluarkan pistol. Dibidiknya |
kepala |
orang itu. Ia menembak. Terdengar letusan. Sosok itu tertegu | 16 % |
| ahaya bulan, sosok itu berdiri di perempatan jalan. Sesekali |
kepalanya |
mendongak dan mulutnya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grh | 7 % |
| a. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan dengan mayat hidup. |
kepalanya |
botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri di pe | 45 % |
| dak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke atas meja di kantor. |
kepalanya |
terkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Percakapan berseliwera | 75 % |
| kami di berbagai sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat |
keramaian |
muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk sekali. Dagingnya sebagia | 27 % |
| menutup-nutupi masalah sebenarnya. Coba, mana disebut kerja |
keras |
petugas? Aku sudah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, | 38 % |
| sambil menutup-nutupi masalah sebenarnya. Coba, mana disebut |
kerja |
keras petugas? Aku sudah bekerja siang malam tanpa istirahat | 38 % |
| aks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada |
kerusuhan!” |
“Siap Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Reserse Sarman tel | 2 % |
| . “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian itu |
kesalahan |
besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tida | 91 % |
| ri jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok. “Jadi, apa |
kesimpulannya |
Bintara Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Gener | 90 % |
| ela paduan suara kengerian yang membuat seluruh kota gemetar |
ketakutan |
itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, “Tol | 99 % |
| se Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, |
ketika |
bunyi HT yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sud | 1 % |
| . Wartawan tau apa sih? Sok tau!” Ia masih memaki-maki lagi, |
ketika |
HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat. “Siap Pa | 42 % |
| a ingat sesuatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah |
ketukan |
di jendela kaca, yang terletak di belakangnya. Ia menoleh, d | 79 % |
| berbarengan seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham |
khesumath! |
Dhendham khesumath! Grhhh! Di sela-sela paduan suara kengeri | 98 % |
| kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham |
khesumath! |
Grhhh! Di sela-sela paduan suara kengerian yang membuat selu | 98 % |
| -kilat ditimpa lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. |
kini |
makin jelas terlihat, betapa sosok itu sangat mengerikan. Tu | 9 % |
| ikan, tapi tak menggiriskan hati Reserse Sarman sama sekali. |
kini |
Reserse Sarman menatap sesuatu yang belum pernah dilihatnya | 13 % |
| . Tapi belum ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. |
kini |
para dokter sedang memeriksa serpihan daging yang masih meng | 33 % |
| dak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu |
kini |
lebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke Bos! | 68 % |
| Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka |
kini |
bukan hanya menyambar benda-benda murahan, tetapi mulai mela | 72 % |
| ” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena jalanan sudah sepi, |
kiriman |
rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah denga | 23 % |
| a saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah. Saat itu juga |
kiriman |
rudal tiba. Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zomb | 65 % |
| ng buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya. “Rudal! Rudal! |
kirimkan |
rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monster! Cepat! Kalibe | 21 % |
| buka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata |
kirinya |
bolong dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kru | 11 % |
| memeriksa serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. |
kita |
berharap pihak yang berwajib bisa segera mengatasi peristiwa | 34 % |
| tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu ini, |
kita |
harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah ke | 36 % |
| eberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal |
kita |
habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serik | 62 % |
| eli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. |
kita |
tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana | 63 % |
| Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak! Rudal |
kita |
tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu B | 85 % |
| tara Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Generasi |
kita |
kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka m | 91 % |
| idak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang harus |
kita |
lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! Harus dilakukan penyemb | 91 % |
| ereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal |
kita |
cuma seratus! Tidak cukup untuk membasmi mereka! Sembahyangk | 92 % |
| i ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! |
kita |
sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu dengar itu? En | 93 % |
| olisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan buntutnya |
kita-kita |
lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! | 41 % |
| busuk tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat |
kok |
hidup lagi. Setan mana yang merasukinya? Kalau dihitung-hitu | 57 % |