click here for the word frequency
Grhhh!
Experimental Concordance Program
The text:
---60---Grhhh! oleh Seno Gumira Ajidarma
Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi
HT yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis
bertabur membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke
Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Reserse
Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung itu mesti dilepasnya
kembali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatinya harus dilupakan
sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari
saat ke saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera terbenam dalam
persoalan kembali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia
meraba pistol di balik jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia melompat ke luar
mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di balik
punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Dan segera saja
matanya merekam pemandangan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok itu
berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutnya
mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak berani mendekat. Di
tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat ditimpa
lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, betapa
sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya menginjak korban
yang sudah setengah mati. Grhhh! Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat
betapa dari mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti
lengket dan hanya bisa dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair.
Mata kirinya bolong dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget.
Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya busuk sekali. Reserse
Sarman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai dari yang mengalami kecelakaan sampai
yang teraniaya. Mayat-mayat itu sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan
hati Reserse Sarman sama sekali. Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang belum
pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terlihat lubang-lubang
yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat berjatuhan dan kruget-kruget
di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk itu dan kruget-kruget
lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh! Gerakan sosok itu
seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman segera bertindak.
Ia mengeluarkan pistol. Dibidiknya kepala orang itu. Ia menembak. Terdengar
letusan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang karena
peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru itu seperti menembus
gedebok pisang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung
ber-kruget-kruget berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali
lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. Dan dari
setiap lubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehingga sosok itu semakin
lama makin menjijikkan. Dan malah bergerak mendekati Reserse Sarman. Langkahnya
lambat tapi pasti. Kaku tapi meyakinkan. Kedua tangannya terangkat ke atas,
seperti melambai-lambai dengan berat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat
meraih HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak
monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!”
“Monster? Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini
yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena jalanan sudah sepi,
kiriman rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat
itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal
seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya
ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di
mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Seorang wartawan yang
sejak tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi. “Palmerah!
Cepat!” Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI
IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota
melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk sekali.
Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan.
Bahkan senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup
itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan
dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya
berkembang biak dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melaporkan
kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu
berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang,
atau menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban,
mereka tak bisa menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan
hasil jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul
begitu saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum ada
laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para dokter sedang memeriksa
serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang
berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Memang,
dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak
masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu ini, kita harap saja segera
berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah kenyataan yang terlalu mengerikan.
Reserse Sarman membaca berita itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terlalu.
Masak namaku secuil pun tidak disebut-sebut. Pers sekarang terlalu
membesar-besarkan persoalan yang tidak penting, sambil menutup-nutupi masalah
sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah bekerja siang
malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang dimuat. Mending kalau
cakep! Masyarakat juga brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi
di film Barat. Maknyadirodog!” Di warung Markonah ia terus saja nerocos, sambil
mengunyah sekerat tempe. “Sekarang koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup
dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-paling nanti yang disalahkan
polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi
yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua
diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok
tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap
ia meloncat. “Siap Pak!” Dan segera Reserse Sarman menghilang. “Lho, mana
uangnya?” teriak Markonah, bersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu,
Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak
empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan dengan
mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri di
perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya mencair tapi masih
mengeluarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil itu
ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas atap mobil.
Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mulai mencair. Reserse Sarman
memperhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan,
yang lain akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini
bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa
urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa hidupnya mereka dulu kriminal, pikir
Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-penjahat kasar kelas teri.
Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse
Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa
tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu
meruyak ke luar dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat
sesuatu tapi lupa lagi. Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati
lagi, sosok itu juga bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita
telanjang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di
tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang
berderet-deret dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak
banyak. Lagi-lagi Reserse Sarman seperti ingat sesuatu. Namun suara itu
terdengar lagi. Grhhh! Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling ampuh untuk
melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu
jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk
tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok hidup lagi. Setan
mana yang merasukinya? Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup
bermunculan di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati
memantaunya. Setiak kali mesti digunakan rudal TOW untuk memusnahkannya.
Celakanya rudal TOW ini bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup.
Lingkungannya pun ikut hancur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah
marah-marah. “Kenapa sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang
membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak bisa menjeratnya dengan jala?
Menebasnya dengan golok? Atau menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi.
Namun sementara terjadi polemik, mayat-mayat hidup terus nongol di mana-mana.
Para petugas ingin membereskan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling
tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal
kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok
menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain.
Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya
mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya.
“Periksa kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kuburan siapa
saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah. Saat itu juga kiriman rudal tiba.
Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di atap sebuah
mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan wajahnya yang setengah mencair.
Rasa-rasanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan
dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang biak
dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para wanita cantik yang
tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas.
“Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat.
Blgggrrr! Ibu kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana.
Inilah akibat rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat
merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di atas meja, kursi, jendela, WC,
kamar mandi, kantong baju, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. Orang-orang
setiap hari sibuk menjetikkan ulat-ulat yang merayap di bajunya, rambutnya,
lubang hidungnya, maupun yang bergantungan di kacamatanya. Zombi makin
merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar
benda-benda murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya
adalah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini biasanya
tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus
berperang melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap
Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman
tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya
terkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran. Dengan malas
diraihnya sejumlah laporan yang masuk. …para informan di segenap penjuru tanah
air melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah
terbuka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang
kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan bertanda
tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu datang
dari Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. Belum lagi
mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kaca, yang terletak di
belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya berdegup keras. Wajah
buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun
telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya. “Ngadul!” Ia berteriak. Namun Ngadul
yang telah jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi itu merayap masuk. Grhhh!
Grhhh! Reserse Sarman melompat ke atas meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan
menemukan sesuatu. “Komandan! Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban
pembantaian misterius di Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di
markas!” “Tembak segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan
masalah!” Zombi itu mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse
keburu meloncat dan lari ke ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi
dinding. “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak!
Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara
Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!” Zombi menendang pintu sampai jebol.
Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat?
Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih
ingat Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang
Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara
mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang
sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada
yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa terbunuh
secara misterius Pak!” Grhhh! Zombi melompat dari jendela. Reserse Sarman
memanjat pagar tembok. “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian
itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela
mati Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan
mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratus!
Tidak cukup untuk membasmi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya
santai!” “Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua
omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu dengar itu?
Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan dibantai!” Zombi
menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas. “Tolong!
Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak ngeri. Zombi mulai
mencaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk
selokan. Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat,
dan makin ganas. Mereka merayat seperti ulat. Memenuhi jalanan, menyeruduk di
supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan di segala pelosok.
Memanjati gedung-gedung bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh!
Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor dari neraka.
Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh! Di sela-sela paduan
suara kengerian yang membuat seluruh kota gemetar ketakutan itu, terdengar
lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, “Tolongngngngng! Pak Komandaaaaaaann!
Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember 1986
pre- text |
WORD |
post- text |
% |
| ng! Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta |
- |
Yogya, Desember 1986 | 100 % |
| ur di Lubang Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” |
“ada |
laporan, banyak di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! | 88 % |
| “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!” |
“aku |
tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara mereka | 88 % |
| Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” |
“apa |
maksudmu Bintara Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!” Zo | 85 % |
| rang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!” |
“apa |
yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! Harus d | 91 % |
| ampai jebol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya. |
“apakah |
Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas t | 86 % |
| ah larut. Sisa gerimis bertabur membiaskan cahaya petromaks. |
“bintara |
Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “ | 1 % |
| pi harus berperang melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. |
“bintara |
Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” | 74 % |
| uang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding. |
“bintara |
Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak | 84 % |
| dinding. “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” |
“bukan |
begitu Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh | 85 % |
| r membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” |
“cepat |
ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih ber | 2 % |
| bi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” |
“cepat |
ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sar | 74 % |
| ibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?” |
“dasar |
goblok! Rudal antitank!” Karena jalanan sudah sepi, kiriman | 23 % |
| smi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!” |
“kamu |
bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong- | 93 % |
| secara misterius! Masih ingat Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?” |
“kebanyakan |
mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! | 87 % |
| ncur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah marah-marah. |
“kenapa |
sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang membuang-buang | 59 % |
| as meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu. |
“komandan! |
Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban pembantaia | 82 % |
| nya Pak! Ia muncul di markas!” “Tembak segera dengan rudal!” |
“maaf |
Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!” Zombi itu mendek | 83 % |
| hat kelas teri terbantai secara misterius! Masih ingat Pak?” |
“masih! |
Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besa | 87 % |
| HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” |
“menembak |
monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu | 21 % |
| ki wajah itu pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya. |
“ngadul!” |
Ia berteriak. Namun Ngadul yang telah jadi zombi tidak menge | 81 % |
| itu kini lebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. |
“oke |
Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr! Ibu kota sepert | 68 % |
| tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi. |
“palmerah! |
Cepat!” Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT H | 26 % |
| njat pagar tembok. “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?” |
“pembantaian |
itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang- | 90 % |
| ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya. |
“periksa |
kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kubur | 64 % |
| nster? Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” |
“rudal |
apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karen | 22 % |
| erat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya. |
“rudal! |
Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monste | 21 % |
| konah ia terus saja nerocos, sambil mengunyah sekerat tempe. |
“sekarang |
koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup dibesar-besarkan. Masy | 40 % |
| Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang harus kita lakukan?” |
“sembahyangkan |
mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Ruda | 91 % |
| imis bertabur membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” |
“siap |
Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopi | 2 % |
| a Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” |
“siap |
Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Reserse Sarman telah mel | 2 % |
| , ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat. |
“siap |
Pak!” Dan segera Reserse Sarman menghilang. “Lho, mana uangn | 43 % |
| melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” |
“siap |
Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tap | 74 % |
| Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” |
“siap |
Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua | 75 % |
| ! Monster itu mengejar saya! Cepat!” “Monster? Monster apa?” |
“sudah! |
Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta? | 22 % |
| enjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas. |
“tembak |
cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW mele | 68 % |
| ang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!” |
“tembak |
segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaika | 83 % |
| kap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas. |
“tolong! |
Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak nge | 94 % |
| utan itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, |
“tolongngngngng! |
Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember 1986 | 99 % |
| cepat meraih HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” |
“untuk |
apa?” “Menembak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cep | 21 % |
| liweran. Dengan malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk. |
…para |
informan di segenap penjuru tanah air melaporkan adanya seju | 76 % |
| aaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember |
1986 |
100 % | |
| udal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monster! Cepat! Kaliber |
22 |
tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!” “Mon | 22 % |
| Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal seberat |
40 |
pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa | 24 % |
| tromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! |
ada |
kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Resers | 2 % |
| eming. Keningnya berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak |
ada |
darah mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. | 17 % |
| , entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum |
ada |
laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para dokter | 33 % |
| atu ini bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu |
ada |
sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam | 48 % |
| tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu |
ada |
sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya mereka mengacau? | 48 % |
| di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. |
ada |
juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. Atau | 54 % |
| enjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus |
ada |
cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan men | 63 % |
| menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! |
ada |
zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. | 74 % |
| yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka dan isinya tidak |
ada |
lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum | 77 % |
| ! Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah |
ada |
di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun telah mencair | 80 % |
| Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak |
ada |
yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siap | 89 % |
| ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan |
adalah |
kenyataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca be | 36 % |
| n, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya |
adalah |
teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini | 73 % |
| ia merasakan menemukan sesuatu. “Komandan! Salah satu zombi |
adalah |
Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius di Lubang Be | 82 % |
| asuk. …para informan di segenap penjuru tanah air melaporkan |
adanya |
sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka | 76 % |
| i. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut itu meluncur |
air |
liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya | 10 % |
| laporan yang masuk. …para informan di segenap penjuru tanah |
air |
melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalam | 76 % |
| Grhhh! oleh Seno Gumira |
ajidarma |
Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Mark | 0 % |
| ersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman |
akan |
selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak e | 44 % |
| u kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak empat. |
akan |
selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapa | 44 % |
| ang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, yang lain |
akan |
segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini | 48 % |
| arus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup |
akan |
meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Rese | 63 % |
| ntah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak! Rudal kita tidak |
akan |
cukup melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara Sarm | 85 % |
| engar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka |
akan |
dibantai!” Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih se | 94 % |
| erlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana. Inilah |
akibat |
rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat | 69 % |
| s kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara mereka sudah tidak |
aktif |
lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah ins | 88 % |
| masalah sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? |
aku |
sudah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, potret si may | 38 % |
| ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari |
alam |
kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya | 48 % |
| kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup |
alias |
zombi itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, | 30 % |
| au rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. |
amerika |
Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama deng | 62 % |
| ngar lagi. Grhhh! Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling |
ampuh |
untuk melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, | 55 % |
| erwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh |
aneh |
ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah te | 35 % |
| omandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di |
antara |
mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius | 88 % |
| ! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal |
antitank!” |
Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datan | 23 % |
| Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal |
apa |
ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena ja | 22 % |
| ma Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau |
apa |
sih? Sok tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu mema | 42 % |
| ali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, |
apa |
urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa hidupnya mereka du | 49 % |
| idup sudah marah-marah. “Kenapa sih mesti menggunakan rudal? |
apa |
tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak | 59 % |
| rudal? Apa tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? |
apa |
tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? | 60 % |
| t dari jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok. “Jadi, |
apa |
kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan be | 90 % |
| eluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata |
api |
yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup | 28 % |
| Grhhh! oleh Seno Gumira Ajidarma Reserse Sarman masih |
asyik |
menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang | 0 % |
| ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas |
atap |
mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mul | 47 % |
| ugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di |
atap |
sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan waj | 66 % |
| itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di |
atas |
atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pu | 47 % |
| rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpeleset di |
atas |
mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sampai | 56 % |
| . Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di |
atas |
meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, | 70 % |
| api Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke |
atas |
meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus menguik-ngu | 75 % |
| itu merayap masuk. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman melompat ke |
atas |
meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu. “K | 82 % |
| aling-paling nanti yang disalahkan polisi lagi! Polisi lagi! |
atasan |
mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana | 41 % |
| hnya busuk sekali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol |
atau |
senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah di | 28 % |
| ahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang, |
atau |
menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakanny | 31 % |
| lalu berada di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, |
atau |
dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai p | 53 % |
| Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. |
atau |
sepanjang punggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sar | 54 % |
| tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? |
atau |
menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi. Namun semen | 60 % |
| ing tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. |
bagaimana |
kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berput | 62 % |
| gian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. |
bahkan |
senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. | 28 % |
| senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan |
bahwa |
di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan | 50 % |
| Coba kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih |
baik |
sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok tau!” Ia masih memaki-mak | 42 % |
| let yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pistol di |
balik |
jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia melompat ke luar mikrole | 5 % |
| npa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di |
balik |
punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Da | 6 % |
| segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini |
bangkit |
kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau ti | 48 % |
| menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu jatuh |
bangun |
terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang bu | 56 % |
| suk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin |
banyak |
saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di mana-mana. K | 25 % |
| Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu |
banyak |
hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi y | 35 % |
| esar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, |
banyak |
di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai | 88 % |
| eka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu |
banyak |
yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan | 88 % |
| suk selokan. Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin |
banyak |
dan makin cepat, dan makin ganas. Mereka merayat seperti ula | 96 % |
| bol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah |
bapak |
tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri te | 86 % |
| kan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi |
baru |
beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau ruda | 62 % |
| bis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat |
baru |
kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat | 62 % |
| hatinya harus dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup, |
batin |
Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat ke saat, setiap k | 3 % |
| uget-kruget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan |
baunya |
busuk sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. M | 12 % |
| u jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. |
baunya |
yang busuk tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, | 56 % |
| r-kruget-kruget berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak |
beberapa |
kali lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak l | 18 % |
| engan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi baru |
beberapa |
hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal kita ha | 62 % |
| udal memang paling tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah |
begini |
banyak. Bagaimana kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarm | 62 % |
| sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul |
begitu |
saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi b | 33 % |
| . “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan |
begitu |
Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” | 85 % |
| ebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah |
bekerja |
siang malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang | 38 % |
| lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di tempat yang sama. |
belakang |
kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet- | 53 % |
| Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal. |
beli |
dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kit | 63 % |
| Sarman sama sekali. Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang |
belum |
pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terl | 13 % |
| u saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi |
belum |
ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para do | 33 % |
| Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. |
belum |
lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kac | 79 % |
| hidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar |
benda-benda |
murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberada | 72 % |
| jang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu |
berada |
di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. | 53 % |
| rman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan |
beranak |
empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarm | 44 % |
| ya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak |
berani |
mendekat. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalun | 8 % |
| ka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada yang |
berani! |
Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa t | 89 % |
| ama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu, |
berapa |
lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat | 63 % |
| t hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak |
berarti |
ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat- | 29 % |
| TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki |
berat |
itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam | 23 % |
| GAN DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di |
berbagai |
sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul | 27 % |
| ung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermunculan di |
berbagai |
sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati memantaunya. | 57 % |
| rse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan. Di |
berbagai |
sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat, | 96 % |
| gan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara |
berbarengan |
seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! D | 98 % |
| di belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya |
berdegup |
keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam | 80 % |
| Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang |
berderet-deret |
dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak | 54 % |
| m pemandangan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok itu |
berdiri |
di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutn | 7 % |
| up. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia |
berdiri |
di perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya | 45 % |
| merayap di bajunya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang |
bergantungan |
di kacamatanya. Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-har | 71 % |
| sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah |
bergerak |
mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. Kaku | 20 % |
| pat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman |
berhadapan |
dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dik | 45 % |
| riksa serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita |
berharap |
pihak yang berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sun | 34 % |
| u, Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah |
beristri |
dan beranak empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi | 44 % |
| ah kenyataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca |
berita |
itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terlalu. Masak nama | 36 % |
| sambil mengunyah sekerat tempe. “Sekarang koran ikut-ikutan. |
berita |
mayat hidup dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-p | 40 % |
| i buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan |
berita: |
. . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporka | 27 % |
| ng-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat |
berjatuhan |
dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dal | 14 % |
| bang itu muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget |
berjatuhan |
di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi dengan | 18 % |
| Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang |
berjatuhan |
dari tubuhnya berkembang biak dengan dahsyat. Pada umumnya p | 29 % |
| rdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar dan |
berjatuhan |
kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat sesuatu ta | 51 % |
| sanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat |
berjatuhan |
dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijik | 67 % |
| meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya |
berkembang |
biak dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melapor | 30 % |
| mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. |
berkembang |
biak dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga | 67 % |
| melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih |
berkerumun |
di tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, kepala Res | 6 % |
| t. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. |
berkilat-kilat |
ditimpa lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini m | 8 % |
| ang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung |
ber-kruget-kruget |
berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali l | 18 % |
| lubang-lubang. Dan dari setiap lubang muncul ulat-ulat yang |
ber-kruget-kruget |
sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah | 19 % |
| ur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja |
ber-kruget-kruget |
dan ber-kruget-kruget di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kr | 25 % |
| anya ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan |
ber-kruget-kruget |
di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget. S | 25 % |
| rhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. Dan seperti biasa, |
ber-kruget-kruget |
menjijikkan. Berkembang biak dengan cepat. Merambati jendela | 67 % |
| mbi terus bermunculan. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat |
ber-kruget-kruget |
di atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, | 70 % |
| ampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu |
berlaku |
sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, m | 31 % |
| usan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya |
berlubang |
karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru | 17 % |
| reka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!” “Kamu |
bermimpi |
ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! K | 93 % |
| ya? Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup |
bermunculan |
di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati | 57 % |
| kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan |
bernama |
dan bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunj | 78 % |
| subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus |
berperang |
melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” | 74 % |
| meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat? |
bersama |
Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terb |