ReadingBar

back to Grhhh!

click here for the word frequency

 

Grhhh!


Experimental Concordance Program

The text:

---60---Grhhh! oleh Seno Gumira Ajidarma Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang menjengkelkan itu memanggil-manggil. Malam sudah larut. Sisa gerimis bertabur membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Reserse Sarman telah melesat pergi. Kenikmatan sejenak di warung itu mesti dilepasnya kembali. Senyuman Markonah yang telah lama menghunjam hatinya harus dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup, batin Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat ke saat, setiap kali menarik napas di permukaan segera terbenam dalam persoalan kembali. Di dalam mikrolet yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pistol di balik jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Dan segera saja matanya merekam pemandangan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok itu berdiri di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutnya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak berani mendekat. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas. Berkilat-kilat ditimpa lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini makin jelas terlihat, betapa sosok itu sangat mengerikan. Tubuhnya tinggi besar. Kakinya menginjak korban yang sudah setengah mati. Grhhh! Ia menggeram lagi. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut itu meluncur air liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya bisa dibuka dengan paksa. Sebelah sisi wajahnya sudah mencair. Mata kirinya bolong dan dari bolongan itu ulat-ulat mengeruyak kruget-kruget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan baunya busuk sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. Mulai dari yang mengalami kecelakaan sampai yang teraniaya. Mayat-mayat itu sering kali mengerikan, tapi tak menggiriskan hati Reserse Sarman sama sekali. Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang belum pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terlihat lubang-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat berjatuhan dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dalam tubuh busuk itu dan kruget-kruget lagi kruget-kruget lagi dan kruget-kruget lagi. Grhhh! Gerakan sosok itu seolah-olah mengancam korban yang diinjaknya. Reserse Sarman segera bertindak. Ia mengeluarkan pistol. Dibidiknya kepala orang itu. Ia menembak. Terdengar letusan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak lubang-lubang. Dan dari setiap lubang muncul ulat-ulat yang ber-kruget-kruget sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah bergerak mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. Kaku tapi meyakinkan. Kedua tangannya terangkat ke atas, seperti melambai-lambai dengan berat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!” “Monster? Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki berat itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal seberat 40 pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Seorang wartawan yang sejak tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi. “Palmerah! Cepat!” Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul mayat hidup. Tubuhnya busuk sekali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak berarti ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya berkembang biak dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melaporkan kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang, atau menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakannya yang lamban, mereka tak bisa menghilang seperti penjahat. Mereka hanya mengacung-acungkan hasil jarahannya sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul begitu saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para dokter sedang memeriksa serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita berharap pihak yang berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh aneh ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu banyak hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi yang satu ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan adalah kenyataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca berita itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terlalu. Masak namaku secuil pun tidak disebut-sebut. Pers sekarang terlalu membesar-besarkan persoalan yang tidak penting, sambil menutup-nutupi masalah sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang dimuat. Mending kalau cakep! Masyarakat juga brengsek selalu menghina polisi. Malah memuja-muja polisi di film Barat. Maknyadirodog!” Di warung Markonah ia terus saja nerocos, sambil mengunyah sekerat tempe. “Sekarang koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-paling nanti yang disalahkan polisi lagi! Polisi lagi! Atasan mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana gaji cuma cukup untuk seminggu! Busyet! Coba kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat. “Siap Pak!” Dan segera Reserse Sarman menghilang. “Lho, mana uangnya?” teriak Markonah, bersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapan dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia berdiri di perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya mencair tapi masih mengeluarkan suara serak. Grhhh! Grhhh! Jalanan macet. Mobil-mobil itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mulai mencair. Reserse Sarman memperhatikan dengan lebih tenang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa hidupnya mereka dulu kriminal, pikir Reserse Sarman. Tampaknya mereka penjahat-penjahat kasar kelas teri. Penjahat-penjahat yang mengandalkan senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan bahwa di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan pada sosok-sosok itu selalu terdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar dan berjatuhan kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat sesuatu tapi lupa lagi. Grhhh! Suara itu menyadarkan lamunannya. Ia mengamati lagi, sosok itu juga bertato. Lamat-lamat masih terlihat sebentuk wanita telanjang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sarman seperti ingat sesuatu. Namun suara itu terdengar lagi. Grhhh! Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling ampuh untuk melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, mayat kok hidup lagi. Setan mana yang merasukinya? Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermunculan di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati memantaunya. Setiak kali mesti digunakan rudal TOW untuk memusnahkannya. Celakanya rudal TOW ini bukan hanya menghancurleburkan si mayat hidup. Lingkungannya pun ikut hancur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah marah-marah. “Kenapa sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? Atau menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi. Namun sementara terjadi polemik, mayat-mayat hidup terus nongol di mana-mana. Para petugas ingin membereskan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya. “Periksa kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kuburan siapa saja yang jebol!” Reserse Sarman memerintah. Saat itu juga kiriman rudal tiba. Para petugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di atap sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan wajahnya yang setengah mencair. Rasa-rasanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan. Berkembang biak dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga para wanita cantik yang tidak sempat lari menjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr! Ibu kota seperti terlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana. Inilah akibat rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, piring, gelas dan botol-botol. Orang-orang setiap hari sibuk menjetikkan ulat-ulat yang merayap di bajunya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang bergantungan di kacamatanya. Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar benda-benda murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya adalah teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini biasanya tenteram dan damai, subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus berperang melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke atas meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus menguik-nguik. Percakapan berseliweran. Dengan malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk. …para informan di segenap penjuru tanah air melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka dan isinya tidak ada lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan bernama dan bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunjukkan, sebagian mayat itu datang dari Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu. Belum lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kaca, yang terletak di belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya. “Ngadul!” Ia berteriak. Namun Ngadul yang telah jadi zombi tidak mengenalinya lagi. Zombi itu merayap masuk. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman melompat ke atas meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu. “Komandan! Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius di Lubang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!” “Tembak segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!” Zombi itu mendekat dan membalikkan meja Reserse Sarman. Sang Reserse keburu meloncat dan lari ke ruang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding. “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!” Zombi menendang pintu sampai jebol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terbantai secara misterius! Masih ingat Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa terbunuh secara misterius Pak!” Grhhh! Zombi melompat dari jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok. “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Rudal kita cuma seratus! Tidak cukup untuk membasmi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!” “Kamu bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! Kita sedang mengimpor rudal dari luar negeri! Kamu dengar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka akan dibantai!” Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas. “Tolong! Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak ngeri. Zombi mulai mencaplok kaki itu. Jeritan Reserse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan. Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat, dan makin ganas. Mereka merayat seperti ulat. Memenuhi jalanan, menyeruduk di supermarket dan memasuki kampus-kampus. Mereka gentayangan di segala pelosok. Memanjati gedung-gedung bertingkat dan berteriak-teriak dengan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara berbarengan seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! Dhendham khesumath! Grhhh! Di sela-sela paduan suara kengerian yang membuat seluruh kota gemetar ketakutan itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang menyayat, “Tolongngngngng! Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember 1986

 

 

pre- text

WORD

post- text

%
ng! Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta

-

Yogya, Desember 1986 100 %
ur di Lubang Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?”

“ada

laporan, banyak di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! 88 %
“Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!”

“aku

tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara mereka 88 %
Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!”

“apa

maksudmu Bintara Sarman? Zombi itu mengganggu kehidupan!” Zo 85 %
rang-orang itu tidak rela mati Pak! Mereka membalas dendam!”

“apa

yang harus kita lakukan?” “Sembahyangkan mereka Pak! Harus d 91 %
ampai jebol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya.

“apakah

Bapak tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas t 86 %
ah larut. Sisa gerimis bertabur membiaskan cahaya petromaks.

“bintara

Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “ 1 %
pi harus berperang melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik.

“bintara

Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” 74 %
uang lain. Zombi terus mengejar. Ulat-ulat merayapi dinding.

“bintara

Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak 84 %
dinding. “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?”

“bukan

begitu Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh 85 %
r membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!”

“cepat

ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih ber 2 %
bi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!”

“cepat

ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sar 74 %
ibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?”

“dasar

goblok! Rudal antitank!” Karena jalanan sudah sepi, kiriman 23 %
smi mereka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!”

“kamu

bermimpi ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong- 93 %
secara misterius! Masih ingat Pak?” “Masih! Masih! Kenapa?”

“kebanyakan

mayatnya terkubur di Lubang Besar Pak Komandan!” “Aku tahu! 87 %
ncur. Menteri Pengawasan Lingkungan Hidup sudah marah-marah.

“kenapa

sih mesti menggunakan rudal? Apa tidak sayang membuang-buang 59 %
as meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu.

“komandan!

Salah satu zombi adalah Ngadul! Salah satu korban pembantaia 82 %
nya Pak! Ia muncul di markas!” “Tembak segera dengan rudal!”

“maaf

Komandan! Itu tidak menyelesaikan masalah!” Zombi itu mendek 83 %
hat kelas teri terbantai secara misterius! Masih ingat Pak?”

“masih!

Masih! Kenapa?” “Kebanyakan mayatnya terkubur di Lubang Besa 87 %
HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?”

“menembak

monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cepat! Monster itu 21 %
ki wajah itu pun telah mencair, Reserse Sarman mengenalinya.

“ngadul!”

Ia berteriak. Namun Ngadul yang telah jadi zombi tidak menge 81 %
itu kini lebih buas. “Tembak cepat!” teriak Reserse Sarman.

“oke

Bos!” Dan rudal TOW melesat cepat. Blgggrrr! Ibu kota sepert 68 %
tadi diam-diam memotret kejadian ini segera melambai taksi.

“palmerah!

Cepat!” Koran pagi muncul seperti mimpi buruk. MAYAT-MAYAT H 26 %
njat pagar tembok. “Jadi, apa kesimpulannya Bintara Sarman?”

“pembantaian

itu kesalahan besar Pak! Generasi kita kena getahnya! Orang- 90 %
ini? Reserse Sarman betul-betul penasaran. Ia meraih HT-nya.

“periksa

kuburan-kuburan di segenap penjuru tanah air. Laporkan kubur 64 %
nster? Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!”

“rudal

apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karen 22 %
erat. Orang-orang buyar. Reserse Sarman cepat meraih HT-nya.

“rudal!

Rudal! Kirimkan rudal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monste 21 %
konah ia terus saja nerocos, sambil mengunyah sekerat tempe.

“sekarang

koran ikut-ikutan. Berita mayat hidup dibesar-besarkan. Masy 40 %
Pak! Mereka membalas dendam!” “Apa yang harus kita lakukan?”

“sembahyangkan

mereka Pak! Harus dilakukan penyembahyangan massal Pak! Ruda 91 %
imis bertabur membiaskan cahaya petromaks. “Bintara Sarman?”

“siap

Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopi 2 %
a Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu! Ada kerusuhan!”

“siap

Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Reserse Sarman telah mel 2 %
, ketika HT itu memanggilnya lagi. Dengan sigap ia meloncat.

“siap

Pak!” Dan segera Reserse Sarman menghilang. “Lho, mana uangn 43 %
melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?”

“siap

Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!” “Siap Pak!” Tap 74 %
Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima! Ada zombi lagi!”

“siap

Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua 75 %
! Monster itu mengejar saya! Cepat!” “Monster? Monster apa?”

“sudah!

Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta? 22 %
enjerit-jerit seperti orang gila. Zombi itu kini lebih buas.

“tembak

cepat!” teriak Reserse Sarman. “Oke Bos!” Dan rudal TOW mele 68 %
ang Besar! Saya bisa mengenalinya Pak! Ia muncul di markas!”

“tembak

segera dengan rudal!” “Maaf Komandan! Itu tidak menyelesaika 83 %
kap kaki Reserse Sarman yang masih separo di halaman markas.

“tolong!

Mereka menangkap saya! Tolong!” Reserse Sarman berteriak nge 94 %
utan itu, terdengar lengkingan Reserse Sarman yang menyayat,

“tolongngngngng!

Pak Komandaaaaaaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember 1986 99 %
cepat meraih HT-nya. “Rudal! Rudal! Kirimkan rudal segera!”

“untuk

apa?” “Menembak monster! Cepat! Kaliber 22 tidak mempan! Cep 21 %
liweran. Dengan malas diraihnya sejumlah laporan yang masuk.

…para

informan di segenap penjuru tanah air melaporkan adanya seju 76 %
aaann! Tolongngngngngngngngng!!!!” Jakarta - Yogya, Desember

1986

  100 %
udal segera!” “Untuk apa?” “Menembak monster! Cepat! Kaliber

22

tidak mempan! Cepat! Monster itu mengejar saya! Cepat!” “Mon 22 %
Sarman. Ia segera dihajar. Dalam sekejap mata, rudal seberat

40

pon melesat dahsyat. Tubuh busuk itu hancur lebur tanpa sisa 24 %
tromaks. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Satu!

ada

kerusuhan!” “Siap Pak!” Kopinya masih berkepul, namun Resers 2 %
eming. Keningnya berlubang karena peluru Reserse Sarman. Tak

ada

darah mengucur. Peluru itu seperti menembus gedebok pisang. 17 %
, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi belum

ada

laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para dokter 33 %
atu ini bisa dibereskan, yang lain akan segera muncul. Tentu

ada

sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam 48 %
tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari alam kubur. Tentu

ada

sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya mereka mengacau? 48 %
di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi.

ada

juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut. Atau 54 %
enjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat. Harus

ada

cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup akan men 63 %
menguik. “Bintara Sarman?” “Siap Pak!” “Cepat ke Jalan Lima!

ada

zombi lagi!” “Siap Pak!” Tapi Reserse Sarman tidak beranjak. 74 %
yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka dan isinya tidak

ada

lagi. Data-data menunjukkan, kuburan itu memang kuburan kaum 77 %
! Jantungnya berdegup keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah

ada

di jendela. Dalam sekilas, meski wajah itu pun telah mencair 80 %
Dan mereka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak

ada

yang berani! Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siap 89 %
ini, kita harap saja segera berlalu. Mayat hidup gentayangan

adalah

kenyataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca be 36 %
n, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberadaaannya

adalah

teror. Persediaan rudal makin menipis. Maklumlah, negeri ini 73 %
ia merasakan menemukan sesuatu. “Komandan! Salah satu zombi

adalah

Ngadul! Salah satu korban pembantaian misterius di Lubang Be 82 %
asuk. …para informan di segenap penjuru tanah air melaporkan

adanya

sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalamnya telah terbuka 76 %
i. Dan Reserse Sarman melihat betapa dari mulut itu meluncur

air

liur yang sangat kental. Bibirnya seperti lengket dan hanya 10 %
laporan yang masuk. …para informan di segenap penjuru tanah

air

melaporkan adanya sejumlah kuburan yang jebol. Peti di dalam 76 %
Grhhh! oleh Seno Gumira

ajidarma

Reserse Sarman masih asyik menyeruput kopinya di warung Mark 0 %
ersungut-sungut. Tapi cuma sebentar. Ia tahu, Reserse Sarman

akan

selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak e 44 %
u kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan beranak empat.

akan

selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman berhadapa 44 %
ang. Ia tahu, meski yang satu ini bisa dibereskan, yang lain

akan

segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini 48 %
arus ada cara lain. Kita tidak tahu, berapa lagi mayat hidup

akan

meneror. Dari mana sih datangnya mayat-mayat busuk ini? Rese 63 %
ntah perintah komandan?” “Bukan begitu Pak! Rudal kita tidak

akan

cukup melenyapkan seluruh zombi!” “Apa maksudmu Bintara Sarm 85 %
engar itu? Enam ribu rudal sedang dikapalkan ke mari! Mereka

akan

dibantai!” Zombi menangkap kaki Reserse Sarman yang masih se 94 %
erlanda perang. Reruntuhan puing merata di mana-mana. Inilah

akibat

rudal yang diobral. Namun Zombi terus bermunculan. Ulat-ulat 69 %
s kenapa?” “Ada laporan, banyak di antara mereka sudah tidak

aktif

lagi Pak! Yang terbantai misterius itu banyak yang sudah ins 88 %
masalah sebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas?

aku

sudah bekerja siang malam tanpa istirahat, eh, potret si may 38 %
ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini bangkit kembali dari

alam

kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak, apa urusannya 48 %
kejadian yang hampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup

alias

zombi itu berlaku sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, 30 %
au rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar.

amerika

Serikat baru kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama deng 62 %
ngar lagi. Grhhh! Ia sudah memesan rudal TOW. Senjata paling

ampuh

untuk melumpuhkan zombi. Sambil menunggu ia menyulut rokok, 55 %
erwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sungguh-sungguh

aneh

ini. Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah te 35 %
omandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan, banyak di

antara

mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius 88 %
! Cepat!” “Rudal apa ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal

antitank!”

Karena jalanan sudah sepi, kiriman rudal TOW itu cepat datan 23 %
Monster apa?” “Sudah! Dibicarakan nanti saja! Cepat!” “Rudal

apa

ini yang diminta?” “Dasar goblok! Rudal antitank!” Karena ja 22 %
ma Sipenmaru, mungkin nasib lebih baik sedikit. Wartawan tau

apa

sih? Sok tau!” Ia masih memaki-maki lagi, ketika HT itu mema 42 %
ali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau tidak,

apa

urusannya mereka mengacau? Mungkin semasa hidupnya mereka du 49 %
idup sudah marah-marah. “Kenapa sih mesti menggunakan rudal?

apa

tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu? Apa tidak 59 %
rudal? Apa tidak sayang membuang-buang rudal yang mahal itu?

apa

tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok? 60 %
t dari jendela. Reserse Sarman memanjat pagar tembok. “Jadi,

apa

kesimpulannya Bintara Sarman?” “Pembantaian itu kesalahan be 90 %
eluru pistol atau senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata

api

yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. Mayat hidup 28 %
Grhhh! oleh Seno Gumira Ajidarma Reserse Sarman masih

asyik

menyeruput kopinya di warung Markonah, ketika bunyi HT yang 0 %
ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di atas

atap

mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pun mul 47 %
ugas membopongnya dengan hati-hati. Zombi itu telah tegak di

atap

sebuah mobil. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman memperhatikan waj 66 %
itu ditinggalkan penumpangnya. Sosok busuk itu melangkah di

atas

atap mobil. Sesekali ia terpeleset karena telapak kakinya pu 47 %
rokok, memperhatikan monster itu jatuh bangun terpeleset di

atas

mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang busuk tercium sampai 56 %
. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat ber-kruget-kruget di

atas

meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, sepatu, 70 %
api Reserse Sarman tidak beranjak. Diangkatnya kedua kaki ke

atas

meja di kantor. Kepalanya terkulai. HT-nya terus menguik-ngu 75 %
itu merayap masuk. Grhhh! Grhhh! Reserse Sarman melompat ke

atas

meja, meraih HT. Sekarang ia merasakan menemukan sesuatu. “K 82 %
aling-paling nanti yang disalahkan polisi lagi! Polisi lagi!

atasan

mencak-mencak, dan buntutnya kita-kita lagi yang kena. Mana 41 %
hnya busuk sekali. Dagingnya sebagian mencair, peluru pistol

atau

senapan biasa tidak mempan. Bahkan senjata api yang sudah di 28 %
ahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, meminta uang,

atau

menodong. Tapi karena tubuh mereka yang busuk, dan gerakanny 31 %
lalu berada di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri,

atau

dahi. Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai p 53 %
Ada juga memang yang berderet-deret dari dada sampai perut.

atau

sepanjang punggung. Tapi tidak banyak. Lagi-lagi Reserse Sar 54 %
tidak bisa menjeratnya dengan jala? Menebasnya dengan golok?

atau

menyiramnya dengan bensin?” ujarnya di televisi. Namun semen 60 %
ing tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah begini banyak.

bagaimana

kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berput 62 %
gian mencair, peluru pistol atau senapan biasa tidak mempan.

bahkan

senjata api yang sudah dijampi-jampi dukun pun tak berguna. 28 %
senjata dan tenaga, bukan otak. Reserse Sarman memperhatikan

bahwa

di tubuh yang mulai mencair itu terlihat sisa-sisa tato. Dan 50 %
Coba kalau dulu gua diterima Sipenmaru, mungkin nasib lebih

baik

sedikit. Wartawan tau apa sih? Sok tau!” Ia masih memaki-mak 42 %
let yang menuju tempat kejadian perkara, ia meraba pistol di

balik

jaket. Masih ada. Dengan lincah, ia melompat ke luar mikrole 5 %
npa membayar. Orang-orang masih berkerumun di tepi jalan. Di

balik

punggung orang-orang itu, kepala Reserse Sarman menjulur. Da 6 %
segera muncul. Tentu ada sebab kenapa tubuh-tubuh busuk ini

bangkit

kembali dari alam kubur. Tentu ada sebab yang sama. Kalau ti 48 %
menunggu ia menyulut rokok, memperhatikan monster itu jatuh

bangun

terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan. Baunya yang bu 56 %
suk itu hancur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin

banyak

saja ber-kruget-kruget dan ber-kruget-kruget di mana-mana. K 25 %
Memang, dalam kehidupan sehari-hari negeri ini sudah terlalu

banyak

hal-hal yang tidak masuk akal, dan toh diterima juga. Tapi y 35 %
esar Pak Komandan!” “Aku tahu! Lantas kenapa?” “Ada laporan,

banyak

di antara mereka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai 88 %
eka sudah tidak aktif lagi Pak! Yang terbantai misterius itu

banyak

yang sudah insaf Pak! Dan mereka semua tidak disembahyangkan 88 %
suk selokan. Di berbagai sudut kota zombi bermunculan, makin

banyak

dan makin cepat, dan makin ganas. Mereka merayat seperti ula 96 %
bol. Reserse Sarman meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah

bapak

tidak ingat? Bersama Ngadul enam ribu penjahat kelas teri te 86 %
kan dengan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi

baru

beberapa hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau ruda 62 %
bis? Pikir Reserse Sarman. Otaknya berputar. Amerika Serikat

baru

kapok menjual rudal. Beli dari Israel sama dengan berkhianat 62 %
hatinya harus dilupakan sementara. Eh, demikian nian hidup,

batin

Reserse Sarman. Diburu peristiwa dari saat ke saat, setiap k 3 %
uget-kruget. Daging di seluruh tubuhnya setengah mencair dan

baunya

busuk sekali. Reserse Sarman sudah terbiasa melihat mayat. M 12 %
u jatuh bangun terpeleset di atas mobil. Memang menjijikkan.

baunya

yang busuk tercium sampai ke tempat Reserse Sarman. Astaga, 56 %
r-kruget-kruget berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak

beberapa

kali lagi dengan penasaran. Namun pelurunya hanya mencetak l 18 %
engan cepat. Untuk itu, rudal memang paling tepat. Tapi baru

beberapa

hari saja sudah begini banyak. Bagaimana kalau rudal kita ha 62 %
udal memang paling tepat. Tapi baru beberapa hari saja sudah

begini

banyak. Bagaimana kalau rudal kita habis? Pikir Reserse Sarm 62 %
sambil mengeluarkan bunyi serak: Grhhh! Grhhh! Mereka muncul

begitu

saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi b 33 %
. “Bintara Sarman! Kamu membantah perintah komandan?” “Bukan

begitu

Pak! Rudal kita tidak akan cukup melenyapkan seluruh zombi!” 85 %
ebenarnya. Coba, mana disebut kerja keras petugas? Aku sudah

bekerja

siang malam tanpa istirahat, eh, potret si mayat hidup yang 38 %
lubang. Ya, lubang-lubang selalu berada di tempat yang sama.

belakang

kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang berderet- 53 %
Otaknya berputar. Amerika Serikat baru kapok menjual rudal.

beli

dari Israel sama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kit 63 %
Sarman sama sekali. Kini Reserse Sarman menatap sesuatu yang

belum

pernah dilihatnya seumur hidup. Pada sosok membusuk itu terl 13 %
u saja, entah dari mana. Mungkin langsung dari kuburan. Tapi

belum

ada laporan tentang kuburan-kuburan yang jebol. Kini para do 33 %
Lubang Besar… Reserse Sarman lagi-lagi merasa ingat sesuatu.

belum

lagi mendapat jawab, terdengar sebuah ketukan di jendela kac 79 %
hidupan sehari-hari kacau. Mereka kini bukan hanya menyambar

benda-benda

murahan, tetapi mulai melahap segala jenis makanan. Keberada 72 %
jang di dadanya. Dan lubang-lubang. Ya, lubang-lubang selalu

berada

di tempat yang sama. Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. 53 %
rman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah beristri dan

beranak

empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarm 44 %
ya mengeluarkan suara serak. Grhhhh! Grhhhh! Orang-orang tak

berani

mendekat. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalun 8 %
ka semua tidak disembahyangkan Pak! Waktu itu tidak ada yang

berani!

Takut ikut terbantai Pak! Habis, waktu itu siapa saja bisa t 89 %
ama dengan berkhianat. Harus ada cara lain. Kita tidak tahu,

berapa

lagi mayat hidup akan meneror. Dari mana sih datangnya mayat 63 %
t hidup itu hanya bisa dimusnahkan dengan rudal. Itu pun tak

berarti

ia mati. Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat- 29 %
TOW itu cepat datang. Sosok busuk yang melangkah dengan kaki

berat

itu masih jauh dari Reserse Sarman. Ia segera dihajar. Dalam 23 %
GAN DI IBU KOTA. Potongan berita: . . . dan reporter kami di

berbagai

sudut ibu kota melaporkan, di setiap tempat keramaian muncul 27 %
ung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup bermunculan di

berbagai

sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati memantaunya. 57 %
rse Sarman melejit ke langit. HT-nya jatuh masuk selokan. Di

berbagai

sudut kota zombi bermunculan, makin banyak dan makin cepat, 96 %
gan serak. Grhhh! Grhhh! Dhendham! Dhendham! Mereka bersuara

berbarengan

seperti kor dari neraka. Grhhh! Grhhh! Dhendham khesumath! D 98 %
di belakangnya. Ia menoleh, dan terhentak, zombi! Jantungnya

berdegup

keras. Wajah buruk itu tiba-tiba sudah ada di jendela. Dalam 80 %
Belakang kepala, dada kiri, atau dahi. Ada juga memang yang

berderet-deret

dari dada sampai perut. Atau sepanjang punggung. Tapi tidak 54 %
m pemandangan yang mengerikan. Dalam cahaya bulan, sosok itu

berdiri

di perempatan jalan. Sesekali kepalanya mendongak dan mulutn 7 %
up. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dikerumuni ulat. Ia

berdiri

di perempatan jalan sambil mengangkat kedua tangan. Mulutnya 45 %
merayap di bajunya, rambutnya, lubang hidungnya, maupun yang

bergantungan

di kacamatanya. Zombi makin merajalela. Kehidupan sehari-har 71 %
sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah

bergerak

mendekati Reserse Sarman. Langkahnya lambat tapi pasti. Kaku 20 %
pat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi Reserse Sarman

berhadapan

dengan mayat hidup. Kepalanya botak, tubuhnya busuk, dan dik 45 %
riksa serpihan daging yang masih menggeliat-geliat itu. Kita

berharap

pihak yang berwajib bisa segera mengatasi peristiwa yang sun 34 %
u, Reserse Sarman akan selalu kembali kepadanya. Meski sudah

beristri

dan beranak empat. Akan selalu kembali padanya. Sekali lagi 44 %
ah kenyataan yang terlalu mengerikan. Reserse Sarman membaca

berita

itu sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Terlalu. Masak nama 36 %
sambil mengunyah sekerat tempe. “Sekarang koran ikut-ikutan.

berita

mayat hidup dibesar-besarkan. Masyarakat ketakutan. Paling-p 40 %
i buruk. MAYAT-MAYAT HIDUP GENTAYANGAN DI IBU KOTA. Potongan

berita:

. . . dan reporter kami di berbagai sudut ibu kota melaporka 27 %
ng-lubang yang mengeluarkan ulat-ulat. Setiap kali ulat-ulat

berjatuhan

dan kruget-kruget di jalanan, muncul lagi ulat-ulat dari dal 14 %
bang itu muncullah ulat-ulat yang langsung ber-kruget-kruget

berjatuhan

di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali lagi dengan 18 %
Serpihan dagingnya masih meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang

berjatuhan

dari tubuhnya berkembang biak dengan dahsyat. Pada umumnya p 29 %
rdapat lubang dari mana ulat-ulat selalu meruyak ke luar dan

berjatuhan

kruget-kruget-kruget. Reserse Sarman merasa ingat sesuatu ta 51 %
sanya sudah pernah ketemu. Siapa ya? Grhhh! Grhhh! Ulat-ulat

berjatuhan

dari mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijik 67 %
meloncat-loncat. Dan ulat-ulat yang berjatuhan dari tubuhnya

berkembang

biak dengan dahsyat. Pada umumnya para reporter kami melapor 30 %
mulutnya. Dan seperti biasa, ber-kruget-kruget menjijikkan.

berkembang

biak dengan cepat. Merambati jendela-jendela mobil, sehingga 67 %
melompat ke luar mikrolet tanpa membayar. Orang-orang masih

berkerumun

di tepi jalan. Di balik punggung orang-orang itu, kepala Res 6 %
t. Di tangan sosok seperti orang itu tergenggam kalung emas.

berkilat-kilat

ditimpa lampu jalanan. Reserse Sarman menyeruak maju. Kini m 8 %
ang. Malah dari lubang itu muncullah ulat-ulat yang langsung

ber-kruget-kruget

berjatuhan di aspal. Reserse Sarman menembak beberapa kali l 18 %
lubang-lubang. Dan dari setiap lubang muncul ulat-ulat yang

ber-kruget-kruget

sehingga sosok itu semakin lama makin menjijikkan. Dan malah 19 %
ur lebur tanpa sisa. Hanya ulat-ulat, yang makin banyak saja

ber-kruget-kruget

dan ber-kruget-kruget di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kr 25 %
anya ulat-ulat, yang makin banyak saja ber-kruget-kruget dan

ber-kruget-kruget

di mana-mana. Kruget-kruget. Kruget-kruget. Kruget-kruget. S 25 %
rhhh! Ulat-ulat berjatuhan dari mulutnya. Dan seperti biasa,

ber-kruget-kruget

menjijikkan. Berkembang biak dengan cepat. Merambati jendela 67 %
mbi terus bermunculan. Ulat-ulat merayap seperti wabah. Ulat

ber-kruget-kruget

di atas meja, kursi, jendela, WC, kamar mandi, kantong baju, 70 %
ampir mirip satu sama lain. Para mayat hidup alias zombi itu

berlaku

sebagai penjahat. Mereka mencopet dompet, merampas kalung, m 31 %
usan. Sosok itu tertegun. Tapi ia tidak bergeming. Keningnya

berlubang

karena peluru Reserse Sarman. Tak ada darah mengucur. Peluru 17 %
reka! Sembahyangkan mereka Pak! Supaya rohnya santai!” “Kamu

bermimpi

ya Bintara Sarman? Kamu ngelindur! Itu semua omong-kosong! K 93 %
ya? Kalau dihitung-hitung, sudah dua puluh lebih mayat hidup

bermunculan

di berbagai sudut. Rekan-rekan Reserse Sarman setengah mati 57 %
kuburan kaum penjahat kelas teri. Namun tidak semua kuburan

bernama

dan bertanda tahun. Hasil penyelidikan sementara juga menunj 78 %
subur dan gemah ripah loh jinawi. Busyet. Siapa mimpi harus

berperang

melawan zombi? HT Reserse Sarman menguik. “Bintara Sarman?” 74 %
meloncati jendela dengan HT-nya. “Apakah Bapak tidak ingat?

bersama

Ngadul enam ribu penjahat kelas teri terb