ReadingBar

back to Bunyi Hujan di Atas Genting

click here for the word frequency

 

Bunyi Hujan di Atas Genting

Experimental Concordance Program

The text:

---60---Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, tangannya atau paling sedikit tatonya. Sawitri pernah membuka kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup. Sebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang bertanya-tanya. Mata yang menuntut. Mata yang menolak takdir. Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan air hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato. Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat bertato itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang bertato itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak karena lubang peluru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di punggungnya yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-huruf besar… Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh di tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985
 

pre- text

WORD

post- text

%
ina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab:

“aku

belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
ar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!”

“anjing!”

“Anjing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat 53 %
tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke kanan…

“apakah

pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuj 98 %
Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma

“ceritakanlah

padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. 0 %
belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore.

“lihat!

Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya 52 %
lesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!”

“mampus!”

“Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekara 52 %
anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!”

“modar!”

“Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anj 52 %
berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!”

“tahu

rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” 52 %
a sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya

15

watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup mata 10 %
isa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta,

15

Juli 1985 100 %
awab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli

1985

  100 %
ang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih

ada

di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, 39 %
li kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan

ada

juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang 63 %
ng bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya

ada

lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nun 76 %
gan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu

ada

tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang perta 76 %
ngki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas

ada

lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada t 77 %
s ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu

ada

tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta pad 77 %
ikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih

ada

lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Ka 90 %
andai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesai selalu

ada

mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamu 95 %
ekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia lihat

adalah

wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis 24 %
ngkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa

air

hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahn 15 %
erdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa

air

hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saj 16 %
esai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan

air

hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa de 47 %
Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira

ajidarma

“Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada jur 0 %
ukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan

akan

remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar. Mun 7 %
in melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya

akan

terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya 14 %
fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia

akan

langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil mem 19 %
ia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya

akan

melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaim 28 %
upnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato. Sawitri

akan

menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. 57 %
m, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak

akan

tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak it 93 %
rgeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak

akan

mengalami nasib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu ge 96 %
eka selalu menatap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri

akan

membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir 98 %
lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri

akan

berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerit 98 %
setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti

akhir

sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu 16 %
awitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada

akhir

hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sa 36 %
mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada

akhir

pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri 37 %
akan membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada

akhir

cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya A 98 %
mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa

alamat

pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pam 93 %
umira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata

alina

pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita ten 1 %
r cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya

alina

pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Ak 99 %
u meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan

anak-anak

berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” 52 %
pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di

antara

kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berha 21 %
an. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun di

antara

tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pertama yan 26 %
Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di

antara

mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan 58 %
ngan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di

antara

kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilempark 84 %
m rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar

apa

saja yang mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil 50 %
ujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar

apa-apa

karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau t 6 %
dak usah terlalu besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar

apa-apa

karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin kare 8 %
cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu,

apakah

kakinya, tangannya atau paling sedikit tatonya. Sawitri pern 23 %
dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti

apakah

orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas 38 %
ti, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa,

apakah

nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, 39 %
mereka juga menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan.

apakah

mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya 66 %
tin Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu.

apakah

Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat 92 %
as. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan.

apalagi

kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bi 7 %
n itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri.

apalagi

dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah 91 %
u tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke

arah

Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lanta 97 %
yeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam

arak-arakan

yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela se 55 %
Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena

asih

itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa 79 %
Bunyi Hujan di

atas

Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tenta 0 %
a gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di

atas

genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. P 3 %
itri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik di

atas

genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu tergel 97 %
ihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, tangannya

atau

paling sedikit tatonya. Sawitri pernah membuka kain penutup 23 %
ri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak

atau

orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan t 31 %
tu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidup

atau

sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa 38 %
a bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya,

atau

baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga at 39 %
nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi,

atau

sudah lama melayang, entah ke surga atau ke neraka. Sawitri 40 %
au baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga

atau

ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak 40 %
emen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan

atau

ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sese 45 %
ir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi

atau

tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut terngang 46 %
tak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got,

atau

terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret 83 %
rtato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung,

atau

di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu 84 %
lam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak

bagaikan

layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri y 32 %
ak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup

bagaikan

mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang 81 %
a akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat

bagaimana

darah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun sege 29 %
o bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk

bagi

Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbany 81 %
ngan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat.

bahkan

ada juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat y 63 %
jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang

bahkan

mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jala 84 %
membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa

bahwa

ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih 36 %
bali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak

bahwa

ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri d 42 %
ul… Mayat-mayat itu menggeletak di sana, betul-betul seperti

bangkai

tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mer 60 %
sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan

bangunan

yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk ji 7 %
gerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh,

banyak

bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon y 7 %
bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu

banyak

bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sos 37 %
ga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu

banyak

cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritak 40 %
ali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih

banyak

lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah gari 63 %
a merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau

baru

saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau ke 39 %
as untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang

basah

dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok da 29 %
embercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi

basah

dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah. 30 %
r. Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah.

basah

oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan 44 %
dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang

basah

itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berki 44 %
embuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan

basah

hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terku 44 %
tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali,

batin

Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apa 91 %
alu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di

bawah

mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasih 76 %
Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya

begitu

banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan so 37 %
pa mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita.

begitu

sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, se 37 %
ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat

begitu

banyak cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit men 40 %
a melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun ia merasa

begitu

sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa 41 %
-orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda.

begitulah

caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya terte 69 %
a berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke

belakang

seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala 45 %
g pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan

belum

benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berki 27 %
t dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan

belum

betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang mengang 47 %
umuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan

belum

benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Liha 51 %
enembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia

belum

tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkela 94 %
ada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku

belum

bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
un menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih

belum

selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 100 %
ama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan belum

benar-benar

selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam ca 27 %
mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan belum

benar-benar

selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi 51 %
jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan

berair

ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu 10 %
cet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia sedang

berbelanja

pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu 87 %
,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun

bercerita

tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang i 1 %
di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya

berdegup-degup

keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang se 16 %
k di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu

berdesir

dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesa 15 %
enjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato

bergelimpangan

di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Se 80 %
h Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu

bergelimpangan

hampir setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat mengge 81 %
ayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu

bergembira

setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang s 48 %
ntara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu

berhasil

melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlan 21 %
as menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan

berjumpa

kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Ma 98 %
ama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri

berkenalan

dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka hujan 79 %
yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut

berkerumun

di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang p 26 %
belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang

berkilat

dalam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tub 27 %
dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu

berkilat

dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala o 44 %
a Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah

berlalu!

Maka hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak ta 79 %
epanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu

berlepotan

dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan mem 54 %
ghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih

bermunculan

dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Merek 89 %
gang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang

bersorak-sorai

gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda 55 %
pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri

bertatapan

dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti 38 %
jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat

bertato

tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda 5 %
ut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat

bertato

itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan mene 13 %
merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat

bertato

itu. Jika mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga 20 %
hampir selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat

bertato

itu. Ketika hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak 27 %
na kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat

bertato

itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bert 30 %
tato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat

bertato

itu seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang- 31 %
eperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang

bertato

itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di 31 %
na merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat

bertato

itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu 34 %
yat bertato itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat

bertato

itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan s 35 %
rcerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok

bertato

itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidu 38 %
ta yang menuntut. Mata yang menolak takdir. Tapi tubuh-tubuh

bertato

yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan 43 %
erasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat

bertato

itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira s 48 %
etangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melihat mayat

bertato

tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat it 49 %
seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang

bertato

itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung meny 54 %
g bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga

bertato

seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat y 57 %
t kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat

bertato

itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu 59 %
indah itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang

bertato

itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa 65 %
yang tidak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang

bertato

itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kad 67 %
lit Pamuji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang

bertato

di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisa 75 %
ruk. Semenjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat

bertato

bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk b 80 %
jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat

bertato

dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau 83 %
ntung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat

bertato

itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari da 84 %
t itu kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat

bertato

itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki 89 %
ereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika

bertemu

dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata it 37 %
kannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin

berteriak

bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya i 41 %
kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak

berteriak

hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa 52 %
u Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka

berteriak-teriak

sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang 51 %
arkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat itu sambil

berteriak-teriak

sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kep 86 %
g membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak

berwarna

merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat be 34 %
r, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-huruf

besar…

Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato 72 %
ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa,

betapa

mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Be 37 %
i yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu tergeletak

betul-betul

seperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tap 28 %
an mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum

betul-betul

selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasu 47 %
eng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak di sana,

betul-betul

seperti bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri 60 %
erikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu

biasanya

lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentu 63 %
ng daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan

bibir

jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutny 15 %
ah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada

bidang

lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jan 74 %
bil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur

bila

hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupak 18 %
ah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan

bila

hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut 46 %
at sesosok mayat bertato. Sawitri akan menarik napas panjang

bila

ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertat 57 %
i tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari

binatang

yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan t 61 %
k di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia

bisa

mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan ya 4 %
an yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali

bisa

mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kok 6 %
gi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor,

bisa

kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak us 7 %
masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri

bisa

merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu banya 37 %
atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera

bisa

merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau b 39 %
tato itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka

bisa

menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka ju 65 %
ulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri

bisa

mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. 71 %
selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa

bisa

menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama? Itulah 95 %
ru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum

bisa

menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari

bolong

di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang 84 %
ang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan

brewok

dan celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah may 30 %
m. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam

buaian

gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan l 32 %
tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita

bukan