back to Bunyi Hujan di Atas Genting
click here for the word frequency
Bunyi Hujan di Atas Genting
Experimental Concordance Program
The text:
---60---Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno
Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru
cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali
hujan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya
Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di
atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari,
kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan
yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok
mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda pada
malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang
masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi
kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan
akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar. Mungkin pula
Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur.
Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan
lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena
menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan
berair ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu ia
mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu
kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut gang
itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri cukup
membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk
kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan
terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir
jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di
sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras
setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah
nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok ke kanan
sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun
tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri
selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas
menengok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu
ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah terlanjur
dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan
menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu
berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup
kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu,
apakah kakinya, tangannya atau paling sedikit tatonya. Sawitri pernah membuka
kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak ingin melakukannya lagi.
Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah
menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup.
Sebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut
berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pertama
yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan belum benar-benar selesai
sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam cahaya lampu merkuri yang
kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu tergeletak betul-betul seperti
bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk
mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun
segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah.
Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri
punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum.
Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di
mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara.
Cahaya lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna
darah pada dada dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam.
Darah itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur. Kadang-kadang
mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan
setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga
sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih
hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata
itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri
bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah
orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun
segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja
pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau ke neraka. Sawitri
seolah-olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun ia merasa
begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu
ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri
dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang bertanya-tanya. Mata
yang menuntut. Mata yang menolak takdir. Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap itu
tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah
dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga
berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti
dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi
atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila
hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu
kemasukan air hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan
mayat-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira
setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali hujan
reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari
dalam rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar apa saja yang
mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil mengerumuni mayat yang
tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan
anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa
dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” Kadang-kadang
mereka juga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya.
Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga
wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung
menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang
bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan
menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah melihat
sesosok mayat bertato. Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat
itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan
bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan
reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat
bertato itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak
di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri
merasa nasib mereka lebih buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu
tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya
kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kadang
kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak terikat sama sekali.
Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih banyak lubang pelurunya.
Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga
lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak
orang bertato itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa
menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di
tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak di tempat-tempat yang
tidak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di
tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang
rusak karena lubang peluru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang
tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri
mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkuri
cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di punggungnya yang sudah
berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di lengan kiri.
Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu.
Jangkar, jantung hati, bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan,
huruf-huruf besar… Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato.
Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang
lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung hati tanda
cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit
Pamuji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji.
Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar
itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas
ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada tulisan Asih.
Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian.
Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena
Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah
berlalu! Maka hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-tahun
terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup
bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu
rimbanya. Dulu mayat-mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang
sore malam mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di kali,
terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat
potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung,
atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan
pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera
menghilang. Mayat-mayat itu jatuh di tengah keramaian menggemparkan orang banyak.
Orang-orang mengerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga jalanan jadi
macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada
suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu
mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Potret
mayat-mayat itu kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato
itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat.
Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru
lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak
mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi
dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggeletak di suatu
tempat seperti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari
Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin
Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak itu
memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tahu,
Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesai selalu
ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan
mengalami nasib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali
bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut
gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke arah Sawitri,
seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah
pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada
juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab
Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985
pre- text |
WORD |
post- text |
% |
| ina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: |
“aku |
belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 99 % |
| ar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” |
“anjing!” |
“Anjing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat | 53 % |
| tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke kanan… |
“apakah |
pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuj | 98 % |
| Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma |
“ceritakanlah |
padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. | 0 % |
| belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. |
“lihat! |
Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya | 52 % |
| lesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” |
“mampus!” |
“Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekara | 52 % |
| anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” |
“modar!” |
“Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anj | 52 % |
| berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” |
“tahu |
rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” | 52 % |
| a sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya |
15 |
watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup mata | 10 % |
| isa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, |
15 |
Juli 1985 | 100 % |
| awab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli |
1985 |
100 % | |
| ang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih |
ada |
di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, | 39 % |
| li kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan |
ada |
juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang | 63 % |
| ng bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya |
ada |
lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nun | 76 % |
| gan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu |
ada |
tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang perta | 76 % |
| ngki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas |
ada |
lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada t | 77 % |
| s ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu |
ada |
tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta pad | 77 % |
| ikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih |
ada |
lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Ka | 90 % |
| andai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesai selalu |
ada |
mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamu | 95 % |
| ekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia lihat |
adalah |
wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis | 24 % |
| ngkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa |
air |
hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahn | 15 % |
| erdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa |
air |
hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saj | 16 % |
| esai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan |
air |
hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa de | 47 % |
| Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira |
ajidarma |
“Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada jur | 0 % |
| ukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan |
akan |
remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar. Mun | 7 % |
| in melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya |
akan |
terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya | 14 % |
| fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia |
akan |
langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil mem | 19 % |
| ia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya |
akan |
melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaim | 28 % |
| upnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato. Sawitri |
akan |
menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. | 57 % |
| m, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak |
akan |
tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak it | 93 % |
| rgeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak |
akan |
mengalami nasib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu ge | 96 % |
| eka selalu menatap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri |
akan |
membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir | 98 % |
| lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri |
akan |
berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerit | 98 % |
| setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti |
akhir |
sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu | 16 % |
| awitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada |
akhir |
hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sa | 36 % |
| mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada |
akhir |
pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri | 37 % |
| akan membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada |
akhir |
cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya A | 98 % |
| mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa |
alamat |
pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pam | 93 % |
| umira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata |
alina |
pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita ten | 1 % |
| r cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya |
alina |
pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Ak | 99 % |
| u meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan |
anak-anak |
berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” | 52 % |
| pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di |
antara |
kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berha | 21 % |
| an. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun di |
antara |
tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pertama yan | 26 % |
| Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di |
antara |
mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan | 58 % |
| ngan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di |
antara |
kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilempark | 84 % |
| m rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar |
apa |
saja yang mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil | 50 % |
| ujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar |
apa-apa |
karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau t | 6 % |
| dak usah terlalu besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar |
apa-apa |
karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin kare | 8 % |
| cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, |
apakah |
kakinya, tangannya atau paling sedikit tatonya. Sawitri pern | 23 % |
| dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti |
apakah |
orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas | 38 % |
| ti, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, |
apakah |
nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, | 39 % |
| mereka juga menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan. |
apakah |
mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya | 66 % |
| tin Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu. |
apakah |
Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat | 92 % |
| as. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. |
apalagi |
kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bi | 7 % |
| n itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. |
apalagi |
dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah | 91 % |
| u tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke |
arah |
Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lanta | 97 % |
| yeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam |
arak-arakan |
yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela se | 55 % |
| Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena |
asih |
itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa | 79 % |
| Bunyi Hujan di |
atas |
Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tenta | 0 % |
| a gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di |
atas |
genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. P | 3 % |
| itri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik di |
atas |
genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu tergel | 97 % |
| ihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, tangannya |
atau |
paling sedikit tatonya. Sawitri pernah membuka kain penutup | 23 % |
| ri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak |
atau |
orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan t | 31 % |
| tu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidup |
atau |
sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa | 38 % |
| a bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, |
atau |
baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga at | 39 % |
| nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, |
atau |
sudah lama melayang, entah ke surga atau ke neraka. Sawitri | 40 % |
| au baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga |
atau |
ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak | 40 % |
| emen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan |
atau |
ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sese | 45 % |
| ir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi |
atau |
tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut terngang | 46 % |
| tak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got, |
atau |
terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret | 83 % |
| rtato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, |
atau |
di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu | 84 % |
| lam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak |
bagaikan |
layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri y | 32 % |
| ak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup |
bagaikan |
mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang | 81 % |
| a akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat |
bagaimana |
darah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun sege | 29 % |
| o bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk |
bagi |
Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbany | 81 % |
| ngan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. |
bahkan |
ada juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat y | 63 % |
| jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang |
bahkan |
mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jala | 84 % |
| membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa |
bahwa |
ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih | 36 % |
| bali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak |
bahwa |
ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri d | 42 % |
| ul… Mayat-mayat itu menggeletak di sana, betul-betul seperti |
bangkai |
tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mer | 60 % |
| sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan |
bangunan |
yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk ji | 7 % |
| gerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, |
banyak |
bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon y | 7 % |
| bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu |
banyak |
bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sos | 37 % |
| ga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu |
banyak |
cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritak | 40 % |
| ali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih |
banyak |
lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah gari | 63 % |
| a merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau |
baru |
saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau ke | 39 % |
| as untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang |
basah |
dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok da | 29 % |
| embercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi |
basah |
dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah. | 30 % |
| r. Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah. |
basah |
oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan | 44 % |
| dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang |
basah |
itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berki | 44 % |
| embuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan |
basah |
hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terku | 44 % |
| tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, |
batin |
Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apa | 91 % |
| alu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di |
bawah |
mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasih | 76 % |
| Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya |
begitu |
banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan so | 37 % |
| pa mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. |
begitu |
sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, se | 37 % |
| ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat |
begitu |
banyak cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit men | 40 % |
| a melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun ia merasa |
begitu |
sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa | 41 % |
| -orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda. |
begitulah |
caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya terte | 69 % |
| a berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke |
belakang |
seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala | 45 % |
| g pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan |
belum |
benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berki | 27 % |
| t dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan |
belum |
betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang mengang | 47 % |
| umuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan |
belum |
benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Liha | 51 % |
| enembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia |
belum |
tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkela | 94 % |
| ada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku |
belum |
bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 99 % |
| un menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih |
belum |
selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 100 % |
| ama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan belum |
benar-benar |
selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam ca | 27 % |
| mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan belum |
benar-benar |
selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi | 51 % |
| jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan |
berair |
ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu | 10 % |
| cet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia sedang |
berbelanja |
pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu | 87 % |
| ,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun |
bercerita |
tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang i | 1 % |
| di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya |
berdegup-degup |
keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang se | 16 % |
| k di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu |
berdesir |
dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesa | 15 % |
| enjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato |
bergelimpangan |
di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Se | 80 % |
| h Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu |
bergelimpangan |
hampir setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat mengge | 81 % |
| ayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu |
bergembira |
setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang s | 48 % |
| ntara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu |
berhasil |
melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlan | 21 % |
| as menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan |
berjumpa |
kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Ma | 98 % |
| ama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri |
berkenalan |
dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka hujan | 79 % |
| yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut |
berkerumun |
di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang p | 26 % |
| belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang |
berkilat |
dalam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tub | 27 % |
| dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu |
berkilat |
dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala o | 44 % |
| a Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah |
berlalu! |
Maka hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak ta | 79 % |
| epanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu |
berlepotan |
dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan mem | 54 % |
| ghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih |
bermunculan |
dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Merek | 89 % |
| gang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang |
bersorak-sorai |
gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda | 55 % |
| pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri |
bertatapan |
dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti | 38 % |
| jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat |
bertato |
tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda | 5 % |
| ut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat |
bertato |
itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan mene | 13 % |
| merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat |
bertato |
itu. Jika mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga | 20 % |
| hampir selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat |
bertato |
itu. Ketika hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak | 27 % |
| na kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat |
bertato |
itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bert | 30 % |
| tato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat |
bertato |
itu seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang- | 31 % |
| eperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang |
bertato |
itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di | 31 % |
| na merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat |
bertato |
itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu | 34 % |
| yat bertato itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat |
bertato |
itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan s | 35 % |
| rcerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok |
bertato |
itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidu | 38 % |
| ta yang menuntut. Mata yang menolak takdir. Tapi tubuh-tubuh |
bertato |
yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan | 43 % |
| erasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat |
bertato |
itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira s | 48 % |
| etangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melihat mayat |
bertato |
tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat it | 49 % |
| seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang |
bertato |
itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung meny | 54 % |
| g bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga |
bertato |
seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat y | 57 % |
| t kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat |
bertato |
itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu | 59 % |
| indah itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang |
bertato |
itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa | 65 % |
| yang tidak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang |
bertato |
itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kad | 67 % |
| lit Pamuji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang |
bertato |
di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisa | 75 % |
| ruk. Semenjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat |
bertato |
bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk b | 80 % |
| jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat |
bertato |
dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau | 83 % |
| ntung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat |
bertato |
itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari da | 84 % |
| t itu kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat |
bertato |
itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki | 89 % |
| ereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika |
bertemu |
dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata it | 37 % |
| kannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin |
berteriak |
bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya i | 41 % |
| kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak |
berteriak |
hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa | 52 % |
| u Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka |
berteriak-teriak |
sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang | 51 % |
| arkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat itu sambil |
berteriak-teriak |
sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kep | 86 % |
| g membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak |
berwarna |
merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat be | 34 % |
| r, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-huruf |
besar… |
Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato | 72 % |
| ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, |
betapa |
mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Be | 37 % |
| i yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu tergeletak |
betul-betul |
seperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tap | 28 % |
| an mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum |
betul-betul |
selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasu | 47 % |
| eng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak di sana, |
betul-betul |
seperti bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri | 60 % |
| erikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu |
biasanya |
lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentu | 63 % |
| ng daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan |
bibir |
jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutny | 15 % |
| ah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada |
bidang |
lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jan | 74 % |
| bil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur |
bila |
hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupak | 18 % |
| ah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan |
bila |
hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut | 46 % |
| at sesosok mayat bertato. Sawitri akan menarik napas panjang |
bila |
ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertat | 57 % |
| i tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari |
binatang |
yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan t | 61 % |
| k di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia |
bisa |
mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan ya | 4 % |
| an yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali |
bisa |
mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kok | 6 % |
| gi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, |
bisa |
kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak us | 7 % |
| masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri |
bisa |
merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu banya | 37 % |
| atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera |
bisa |
merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau b | 39 % |
| tato itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka |
bisa |
menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka ju | 65 % |
| ulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri |
bisa |
mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. | 71 % |
| selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa |
bisa |
menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama? Itulah | 95 % |
| ru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum |
bisa |
menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 99 % |
| -kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari |
bolong |
di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang | 84 % |
| ang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan |
brewok |
dan celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah may | 30 % |
| m. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam |
buaian |
gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan l | 32 % |
| tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita |
bukan |
bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan | 7 % |
| . Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat itu |
bukan |
Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu | 57 % |
| a hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun |
bukan |
hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu in | 75 % |
| menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. |
bukankah |
Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di | 57 % |
| ji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan |
bukankah |
di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap k | 58 % |
| takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium |
bumi |
atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ter | 46 % |
| lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, |
bunga |
mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-h | 72 % |
|
bunyi |
Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanl | 0 % | |
| sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar |
bunyi |
hujan mulai menitik di atas genting. Rumahnya memang terleta | 3 % |
| t gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar |
bunyi |
semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namu | 4 % |
| i, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan |
bunyi |
mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak m | 4 % |
| malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena |
bunyi |
hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering k | 6 % |
| antungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan |
bunyi |
sisa air hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri | 16 % |
| ang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali |
bunyi |
hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan seles | 96 % |
| g dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih |
buruk |
dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di | 61 % |
| bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi |
buruk |
bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu ri | 81 % |
| Matanya sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam |
cahaya |
15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup m | 10 % |
| ar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam |
cahaya |
lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia it | 27 % |
| kadang tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. |
cahaya |
lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang mem | 33 % |
| di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot |
cahaya |
lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya ya | 49 % |
| i mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun |
cahaya |
lampu merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali t | 70 % |
| g tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah |
caranya |
Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, | 69 % |
| an sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan |
celana |
kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat be | 30 % |
| Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru |
cerita |
itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Set | 1 % |
| ntang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru |
cerita |
itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, | 1 % |
| ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak |
cerita |
pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritakannya k | 40 % |
| membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir |
cerita |
Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pa | 98 % |
| akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru |
cerita |
itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menj | 99 % |
| dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru |
cerita |
itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 99 % |
| uru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, |
ceritanya |
masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 100 % |
| g itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh |
cinta |
pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asih. Mer | 78 % |
| koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan dengan |
ciri |
yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka tertembak | 89 % |
| klah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri |
cukup |
membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia h | 13 % |
| -kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri |
cukup |
lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apaka | 22 % |
| dup. Sebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri |
cukup |
jarang ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir | 26 % |
| eperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi |
cukup |
jelas untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen y | 29 % |
| h ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia |
cukup |
membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke kanan | 56 % |
| inongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkuri |
cukup |
terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di punggungnya y | 70 % |
| cat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna darah pada |
dada |
dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. | 33 % |
| ena Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di |
dada |
Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulis | 73 % |
| pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di |
dada |
bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gam | 73 % |
| dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di |
dada |
Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar | 75 % |
| sihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. Di |
dada |
wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, | 77 % |
| an menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. |
dadanya |
selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap k | 15 % |
| jahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lubang jarum |
dalam |
cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia me | 10 % |
| ar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat |
dalam |
cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh man | 27 % |
| rsenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum |
dalam |
buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bag | 32 % |
| disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari |
dalam |
rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar a | 50 % |
| ng menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut |
dalam |
arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuk | 55 % |
| to itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari |
dalam |
sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh d | 85 % |
| hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan |
dan |
bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia | 4 % |
| ta bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, |
dan |
akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar | 7 % |
| kin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk |
dan |
kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya | 8 % |
| bang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas |
dan |
berair ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya seje | 10 % |
| atanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. |
dan |
saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tap | 11 % |
| bertato itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya |
dan |
menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat m | 13 % |
| a. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela |
dan |
tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga d | 15 % |
| endela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya |
dan |
juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantu | 15 % |
| utnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir |
dan |
jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai da | 16 % |
| an jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai |
dan |
bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sa | 16 % |
| sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu |
dan |
menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. | 17 % |
| ayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah malam |
dan |
iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri s | 18 % |
| dunia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda |
dan |
ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sa | 19 % |
| tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah |
dan |
menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. I | 21 % |
| yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak |
dan |
giginya meringis seperti masih hidup. Sebuah wajah yang meny | 25 % |
| uk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang basah |
dan |
sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan ce | 29 % |
| ak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi basah |
dan |
rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah. Tid | 30 % |
| en yang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut |
dan |
brewok dan celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wa | 30 % |
| ah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok |
dan |
celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-m | 30 % |
| atau orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak |
dan |
tersenyum dalam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-k | 32 % |
| ekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna darah pada dada |
dan |
punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. Dar | 33 % |
| Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setelah membuka jendela |
dan |
membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa | 35 % |
| ya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. |
dan |
Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya | 37 % |
| ang merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati |
dan |
masih ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-k | 42 % |
| ngin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup |
dan |
ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga mel | 42 % |
| a ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri |
dan |
anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang bert | 42 % |
| uh bertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah |
dan |
hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang bas | 44 % |
| yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan |
dan |
kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu ber | 44 % |
| sah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah |
dan |
tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada | 44 % |
| p halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat |
dan |
darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang | 44 % |
| ar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah |
dan |
basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu | 44 % |
| mencium bumi atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak |
dan |
mulut ternganga. Dan bila hujan belum betul-betul selesai, m | 46 % |
| ngadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. |
dan |
bila hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat m | 46 % |
| ayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda |
dan |
mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kunin | 49 % |
| k itu meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai |
dan |
anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” | 51 % |
| jing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat itu |
dan |
menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka ser | 53 % |
| gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda |
dan |
menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembal | 56 % |
| Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu |
dan |
bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang | 58 % |
| disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan |
dan |
kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari t | 61 % |
| nya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di punggung |
dan |
dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak. Sa | 64 % |
| nya yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, |
dan |
gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan j | 71 % |
| at debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu mengepul |
dan |
membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Po | 87 % |
| bertato itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan |
dan |
kaki mereka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematik | 89 % |
| lnya yakin Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik. |
dan |
kalau para penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk | 93 % |
| ihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaimana |
darah |
membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jad | 29 % |
| uri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna |
darah |
pada dada dan punggung orang itu tidak berwarna merah melain | 33 % |
| dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. |
darah |
itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur. | 34 % |
| uh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh |
darah |
dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang | 44 % |
| ah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat |
darah |
dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan | 44 % |
| lilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan |
darah |
dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang | 44 % |
| at menutup matanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong lagu |
dari |
radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia te | 11 % |
| n. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja |
dari |
mayat itu, apakah kakinya, tangannya atau paling sedikit tat | 23 % |
| t itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. |
dari |
dalam rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mende | 50 % |
| ang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk |
dari |
binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana | 61 % |
| bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya |
dari |
dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu j | 85 % |
| di manakah kamu? Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang |
dari |
koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan | 88 % |
| rti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pernah menerima surat |
dari |
Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri | 92 % |
| t itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang |
daun |
jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir j | 14 % |
| sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat |
debu |
mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu mengepul dan mem | 87 % |
| iang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting. |
debu |
mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di man | 87 % |
| ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu |
dengan |
jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela | 14 % |
| a kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai |
dengan |
mata terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup. Seb | 25 % |
| ainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat bertato itu |
dengan |
orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu menatap te | 34 % |
| pat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu |
dengan |
mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada | 37 % |
| ya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan |
dengan |
sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah | 38 % |
| mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya |
dengan |
sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa ora | 39 % |
| kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit |
dengan |
mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum be | 46 % |
| ir hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa |
dengan |
mayat-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangga | 48 % |
| lan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan |
dengan |
lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan memegang k | 54 % |
| berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret |
dengan |
memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan | 55 % |
| binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana |
dengan |
tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua | 61 % |
| ng-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan |
dengan |
tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahk | 62 % |
| AMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat |
dengan |
jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung | 71 % |
| membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji |
dengan |
jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada P | 75 % |
| di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan |
dengan |
Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka hujan pun tur | 79 % |
| l. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato |
dengan |
luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di anta | 83 % |
| erteriak-teriak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat |
dengan |
mata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang | 86 % |
| koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan |
dengan |
ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka terte | 89 % |
| bih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi |
dengan |
kaki tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggel | 91 % |
| nan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali |
dengan |
Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita | 99 % |
| pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke |
depan |
atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. | 45 % |
| Bunyi Hujan |
di |
Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku | 0 % |
| rasa gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik |
di |
atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang i | 3 % |
| ujan mulai menitik di atas genting. Rumahnya memang terletak |
di |
sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa | 3 % |
| a-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak |
di |
mulut gang setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin i | 5 % |
| -kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, |
di |
mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat ma | 12 % |
| nekan bibir jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik |
di |
rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berd | 15 % |
| n tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga |
di |
sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya be | 15 % |
| tri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak |
di |
antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selal | 21 % |
| amkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun |
di |
antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pert | 26 % |
| to itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang |
di |
mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pada sebuah | 32 % |
| Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada |
di |
tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, en | 39 % |
| itu bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak |
di |
mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot ca | 49 % |
| ri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak |
di |
sudut gang itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percak | 50 % |
| kah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah |
di |
antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali | 58 % |
| mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak |
di |
mulut gang setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan | 58 % |
| g Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak |
di |
sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang di teng | 60 % |
| etak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang |
di |
tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari b | 60 % |
| uk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak |
di |
sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang | 61 % |
| ubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis |
di |
punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah | 64 % |
| aja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa menembak hanya |
di |
tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di tem | 66 % |
| nya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak |
di |
tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak d | 66 % |
| i tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak |
di |
tempat-tempat yang tidak mematikan hanya karena ingin membua | 66 % |
| anya karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? |
di |
tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapa | 67 % |
| ru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak |
di |
mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri | 69 % |
| pu merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato |
di |
punggungnya yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYA | 70 % |
| rlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib |
di |
lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-luk | 71 % |
| karena Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri |
di |
dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. | 73 % |
| Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis |
di |
dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkar | 73 % |
| ji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato |
di |
dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan m | 75 % |
| ya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat |
di |
lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar | 76 % |
| selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. |
di |
bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah k | 76 % |
| ekasihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. |
di |
dada wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji p | 77 % |
| mpaian. Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur |
di |
Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan den | 78 % |
| un terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan |
di |
segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semen | 80 % |
| r setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat menggeletak |
di |
sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau t | 82 % |
| malam mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung |
di |
kali, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap ha | 82 % |
| menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam |
di |
got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran mem | 82 % |
| udut pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau terkapar |
di |
jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat | 83 % |
| koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan |
di |
tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Ka | 83 % |
| potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk, |
di |
jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang | 83 % |
| yat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, |
di |
jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan may | 84 % |
| dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau |
di |
antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu di | 84 % |
| bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong |
di |
jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. M | 84 % |
| m sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh |
di |
tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang-orang men | 85 % |
| . Debu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, |
di |
manakah kamu? Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang dar | 88 % |
| yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka tertembak |
di |
tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru | 89 % |
| at yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru lain |
di |
tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tempat | 90 % |
| u lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak |
di |
tempat yang tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sa | 90 % |
| tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggeletak |
di |
suatu tempat seperti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pern | 92 % |
| Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat |
di |
mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa | 92 % |
| , jika setiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak |
di |
ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengal | 95 % |
| Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik |
di |
atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu t | 96 % |
| an mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, |
di |
mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka sela | 97 % |
| hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa |
dia |
sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” | 52 % |
| “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa |
dia |
sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” Kadang-kadang mereka juga men | 52 % |
| menggeletak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang |
dibuang |
di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dar | 60 % |
| ajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah terlanjur |
dikerumuni |
para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar | 20 % |
| di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu |
dilemparkan |
pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil | 84 % |
| enulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih |
dilingkari |
gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhk | 74 % |
| a orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti |
dipaksakan |
oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup men | 45 % |
| ur dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan |
diri |
ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai i | 21 % |
| satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang |
disatukan |
dengan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terika | 62 % |
| ergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu |
disemprot |
cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam ruma | 49 % |
| ihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur |
ditutup |
kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian s | 22 % |
| antung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu |
dua |
hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun b | 75 % |
| a Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asih. Mereka |
dulu |
sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka S | 78 % |
| witri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. |
dulu |
mayat-mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi sian | 81 % |
| jan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan |
dunia |
fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia | 18 % |
| di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, |
entah |
ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat | 40 % |
| run tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dunia |
fana |
namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan | 18 % |
| empat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapat |
gambar |
tato yang rusak karena lubang peluru. Ia selalu memperhatika | 68 % |
| yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan |
gambar |
salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lu | 71 % |
| ada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari |
gambar |
jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan wakt | 74 % |
| cerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut |
gang |
itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri sel | 2 % |
| tik di atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut |
gang |
itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi | 3 % |
| skipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut |
gang |
setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang ti | 5 % |
| a tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut |
gang |
itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato | 12 % |
| embira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut |
gang |
setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu | 49 % |
| ekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut |
gang |
itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mere | 50 % |
| dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut |
gang |
setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Ses | 58 % |
| lalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut |
gang |
setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali | 69 % |
| tiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung |
gang |
itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib y | 95 % |
| menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut |
gang |
itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap | 97 % |
| cerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut |
gang |
itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri sel | 2 % |
| tik di atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut |
gang |
itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi | 3 % |
| skipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut |
gang |
setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang ti | 5 % |
| a tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut |
gang |
itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato | 12 % |
| embira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut |
gang |
setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu | 49 % |
| ekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut |
gang |
itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mere | 50 % |
| dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut |
gang |
setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Ses | 58 % |
| lalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut |
gang |
setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali | 69 % |
| tiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung |
gang |
itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib y | 95 % |
| menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut |
gang |
itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap | 97 % |
| nyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah |
garis |
di punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang ind | 64 % |
| awitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai |
gembira |
itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan men | 55 % |
| etaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa |
gemetar |
setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas gent | 2 % |
| an mengalami nasib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu |
gemetar |
setiap kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setia | 96 % |
| Bunyi Hujan di Atas |
genting |
oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketak | 0 % |
| g-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian |
gerimis |
yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pad | 32 % |
| ia lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan |
giginya |
meringis seperti masih hidup. Sebuah wajah yang menyeramkan. | 25 % |
| Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno |
gumira |
Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina | 0 % |
| itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap |
halilintar |
membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah da | 44 % |
| cukup jarang ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri |
hampir |
selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat bertat | 26 % |
| lang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu bergelimpangan |
hampir |
setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat menggeletak d | 82 % |
| manusia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri |
hanya |
akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat b | 28 % |
| erasa mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, |
hanya |
dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah ny | 39 % |
| sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang |
hanya |
kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kaw | 62 % |
| g sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa menembak |
hanya |
di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di | 65 % |
| Apakah mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan |
hanya |
karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di t | 67 % |
| untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun bukan |
hanya |
nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di | 75 % |
| ernah menerima surat dari Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi |
hanya |
satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak akan tertangk | 93 % |
| ng hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua |
hari |
untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun bukan | 75 % |
| di kali, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap |
hari |
koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka te | 83 % |
| adang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang |
hari |
bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera men | 84 % |
| p membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia |
harus |
membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau | 13 % |
| s. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia |
harus |
membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias | 14 % |
| ki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung |
hati |
tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari un | 74 % |
| ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih |
hidup |
ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, | 36 % |
| tato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih |
hidup |
atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera | 38 % |
| itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin |
hidup |
dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga | 42 % |
| semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, |
hidup |
bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji me | 80 % |
| Bunyi |
hujan |
di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah pada | 0 % |
| a juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali |
hujan |
mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Itu | 2 % |
| ya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar bunyi |
hujan |
mulai menitik di atas genting. Rumahnya memang terletak di s | 3 % |
| yat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali |
hujan |
reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa- | 5 % |
| hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi |
hujan |
yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bi | 6 % |
| tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang masih deras. |
hujan |
yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi k | 6 % |
| u itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali |
hujan |
reda, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk m | 12 % |
| k sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa air |
hujan |
menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Da | 15 % |
| alu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali |
hujan |
selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah nyany | 16 % |
| embungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila |
hujan |
turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dun | 18 % |
| g melupakan dunia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika |
hujan |
reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke | 18 % |
| i orang pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika |
hujan |
belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang | 27 % |
| leh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah |
hujan |
mereda. Sawitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka t | 36 % |
| ertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan |
hujan |
dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu | 44 % |
| darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah |
hujan |
pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke | 44 % |
| langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila |
hujan |
belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang m | 47 % |
| i melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali |
hujan |
reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekun | 49 % |
| mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang |
hujan |
belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. | 51 % |
| orak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali |
hujan |
reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupn | 56 % |
| antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali |
hujan |
reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri meng | 58 % |
| n tato orang-orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali |
hujan |
reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng | 69 % |
| enalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka |
hujan |
pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-tahun t | 79 % |
| Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali |
hujan |
selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa | 95 % |
| ma? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi |
hujan |
mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di | 96 % |
| kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali |
hujan |
selesai, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata | 97 % |
| gup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air |
hujang |
seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membu | 16 % |
| , bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, |
huruf-huruf |
besar… Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga | 72 % |
| etak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang |
ia |
bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendara | 4 % |
| an bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula |
ia |
tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap | 4 % |
| i mulut gang setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin |
ia |
memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang masih | 6 % |
| u besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena |
ia |
mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia meny | 8 % |
| rena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena |
ia |
menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lagu-l | 9 % |
| tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras. |
ia |
suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. M | 9 % |
| dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair |
ia |
menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu ia | 10 % |
| ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu |
ia |
mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengar | 11 % |
| jenak itu ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat |
ia |
mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap | 11 % |
| dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang |
ia |
tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut g | 12 % |
| ukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. |
ia |
harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. | 13 % |
| elas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. |
ia |
harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan t | 14 % |
| ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun |
ia |
tertidur bila hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak | 17 % |
| ia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan |
ia |
akan langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambi | 19 % |
| membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil membungkuk. |
ia |
selalu merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah maya | 19 % |
| gok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi |
ia |
selalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika may | 19 % |
| i ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai |
ia |
melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya kar | 21 % |
| n menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. |
ia |
tidak selalu berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang | 21 % |
| ernah membuka kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi |
ia |
tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kai | 24 % |
| jahnya tapi ia tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya |
ia |
membuka kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menye | 24 % |
| a lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang |
ia |
lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan gig | 24 % |
| ng mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika |
ia |
menoleh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, set | 35 % |
| gkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa bahwa |
ia |
menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hid | 36 % |
| Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga |
ia |
merasa mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati | 38 % |
| u masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. |
ia |
pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di | 39 % |
| olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun |
ia |
merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang- | 41 % |
| Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak bahwa |
ia |
tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri dan | 42 % |
| berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan |
ia |
punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga meliha | 42 % |
| ganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu. Malahan |
ia |
merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melih | 48 % |
| rnah ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. |
ia |
cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke | 55 % |
| kadang terdapat gambar tato yang rusak karena lubang peluru. |
ia |
selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mul | 68 % |
| awitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato. |
ia |
pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di | 73 % |
| ga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. |
ia |
menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masi | 73 % |
| h dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, |
ia |
membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji | 74 % |
| Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. |
ia |
selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. | 75 % |
| wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, |
ia |
pernah jatuh cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri | 78 % |
| ata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. |
ia |
melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu men | 87 % |
| a penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, |
ia |
belum tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai b | 94 % |
| tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua |
ibu |
jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang | 62 % |
| ajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang |
ikut |
berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menj | 26 % |
| kampung menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah |
ikut |
dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup | 55 % |
| ris di punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang |
indah |
itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang berta | 64 % |
| l radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lagu-lagu pop |
indonesia |
sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lu | 9 % |
| an hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu |
ingat |
di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah maw | 76 % |
| ng rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau |
ingin |
melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya ak | 13 % |
| an sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu |
ingin |
menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah | 20 % |
| embuka kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak |
ingin |
melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup | 24 % |
| ceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu |
ingin |
berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan | 41 % |
| orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih |
ingin |
hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitr | 42 % |
| menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya karena |
ingin |
membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di tempat-tempat | 67 % |
| itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah malam dan |
iramanya |
mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri selalu ter | 18 % |
| k bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya |
istri |
dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang | 42 % |
| etakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita |
itu |
pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pad | 1 % |
| a tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang |
itu |
tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu | 2 % |
| air ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak |
itu |
ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia menden | 11 % |
| rkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu |
itu |
kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan | 11 % |
| tidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut gang |
itu |
tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato itu | 12 % |
| ngok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat |
itu |
dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun | 14 % |
| hir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela |
itu |
dan menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat | 17 % |
| lalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat |
itu |
sudah terlanjur dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu | 20 % |
| mpatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan |
itu |
sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wa | 21 % |
| selalu berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat |
itu |
sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau | 22 % |
| ya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia |
itu |
tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya akan m | 28 % |
| at bagaimana darah membercak pada semen yang basah dan sosok |
itu |
pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor | 29 % |
| gera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang |
itu |
juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu menger | 30 % |
| orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato |
itu |
mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bertato | 30 % |
| mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bertato |
itu |
seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-oran | 31 % |
| rang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang bertato |
itu |
tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di mat | 32 % |
| dang-kadang membuat warna darah pada dada dan punggung orang |
itu |
tidak berwarna merah melainkan hitam. Darah itulah yang memb | 34 % |
| melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat bertato |
itu |
dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu men | 34 % |
| ato itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato |
itu |
menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setel | 35 % |
| rasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata |
itu |
masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri | 36 % |
| mu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata |
itu |
pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu seri | 37 % |
| -sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang |
itu |
masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. I | 38 % |
| kilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang |
itu |
masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama | 39 % |
| ri seolah-olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata |
itu |
namun ia merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitr | 41 % |
| menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang |
itu |
ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidu | 41 % |
| ata yang menolak takdir. Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap |
itu |
tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap hali | 43 % |
| jan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah |
itu |
berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. | 44 % |
| dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang |
itu |
terkulai ke depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh t | 45 % |
| lai ke depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir |
itu |
sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau t | 45 % |
| seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala |
itu |
menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit dengan mata | 46 % |
| etul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga |
itu |
kemasukan air hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sud | 47 % |
| at-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya |
itu |
bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di m | 48 % |
| to tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat |
itu |
disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari | 49 % |
| ng-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut gang |
itu |
Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka b | 50 % |
| ka berteriak-teriak sambil mengerumuni mayat yang tergeletak |
itu |
meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan a | 51 % |
| “Anjing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat |
itu |
dan menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka | 53 % |
| mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat |
itu |
mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga waja | 54 % |
| ja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato |
itu |
berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret | 54 % |
| tato. Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat |
itu |
bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-may | 57 % |
| kan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat |
itu |
dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut | 58 % |
| tato itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat |
itu |
menggeletak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang | 60 % |
| ereka lebih buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat |
itu |
tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. | 61 % |
| ak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat |
itu |
biasanya lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru | 63 % |
| punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah |
itu |
rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang bertato i | 64 % |
| u rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang bertato |
itu |
memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa men | 65 % |
| dak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang bertato |
itu |
kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang- | 67 % |
| bertato itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan |
itu |
kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak karena lubang | 68 % |
| muji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan |
itu |
masih dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri in | 74 % |
| lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar |
itu |
ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang p | 76 % |
| antas ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang |
itu |
ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta | 77 % |
| tulah Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat |
itu |
bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang sore malam may | 81 % |
| tau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato |
itu |
dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam | 84 % |
| dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat |
itu |
jatuh di tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang- | 85 % |
| an menggemparkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat |
itu |
sambil berteriak-teriak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri | 86 % |
| nja pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat |
itu |
terbanting. Debu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji | 87 % |
| napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Potret mayat-mayat |
itu |
kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat berta | 88 % |
| mudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato |
itu |
masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mer | 89 % |
| atikan. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak mematikan |
itu |
lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apala | 91 % |
| an tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak |
itu |
memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu | 94 % |
| ik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang |
itu |
tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke a | 97 % |
| Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita |
itu |
pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 99 % |
| nya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki |
itu: |
SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung hati ta | 74 % |
| jan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. |
itulah |
sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar | 2 % |
| nggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. Darah |
itulah |
yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur. Kadang | 34 % |
| agus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, |
itulah |
kekasihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang | 76 % |
| . Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih |
itulah |
maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang te | 79 % |
| ala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak |
itulah |
Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu b | 81 % |
| a bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama? |
itulah |
sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mula | 96 % |
| rah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera |
jadi |
basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga | 30 % |
| -mayat itu tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat |
jadi |
satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang | 61 % |
| ngerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga jalanan |
jadi |
macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia seda | 86 % |
| ajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang |
jalan |
ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan den | 54 % |
| t pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau terkapar di |
jalan |
tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat berta | 83 % |
| hkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di |
jalan |
raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-m | 84 % |
| orang mengerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga |
jalanan |
jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia | 86 % |
| dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, |
jantung |
hati, bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tuli | 72 % |
| ang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar |
jantung |
hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua ha | 74 % |
| a dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan |
jantungnya |
berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sis | 16 % |
| am letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak |
jarang |
pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertat | 4 % |
| ebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup |
jarang |
ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu | 26 % |
| an dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu |
jari |
tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kada | 62 % |
| il menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lubang |
jarum |
dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair | 10 % |
| lanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah |
jatuh |
cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asi | 78 % |
| i dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu |
jatuh |
di tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang-orang | 85 % |
| bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi cukup |
jelas |
untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang ba | 29 % |
| n gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan |
jelas |
lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, | 71 % |
| tato. Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri cukup membuka |
jendela |
samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk | 13 % |
| n jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir |
jendela |
dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan ju | 15 % |
| perti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka |
jendela |
itu dan menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat ma | 17 % |
| alu terbangun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka |
jendela |
lantas menengok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa | 19 % |
| pat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setelah membuka |
jendela |
dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering me | 35 % |
| rak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka |
jendela |
setiap kali hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungk | 56 % |
| natap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka |
jendela |
lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri | 98 % |
| an yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk |
jika |
tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar. Mungkin pula S | 7 % |
| tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. |
jika |
mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga, Sawitri | 20 % |
| ah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, |
jika |
setiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di uju | 95 % |
| la dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan |
juga |
di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya | 15 % |
| jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu |
juga |
basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan. | 30 % |
| embuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri |
juga |
sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidup | 36 % |
| idup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri |
juga |
melihat mata yang bertanya-tanya. Mata yang menuntut. Mata y | 42 % |
| yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen |
juga |
berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke b | 45 % |
| rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” Kadang-kadang mereka |
juga |
menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. Ka | 53 % |
| anjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji |
juga |
bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat | 57 % |
| t-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda |
juga |
terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali maya | 58 % |
| awat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada |
juga |
yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak | 63 % |
| sa menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka |
juga |
menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah merek | 66 % |
| huruf besar… Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji |
juga |
bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia | 73 % |
| ji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji |
juga |
sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesa | 94 % |
| menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 |
juli |
1985 | 100 % |
| rma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada |
juru |
cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawit | 1 % |
| ku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka |
juru |
cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan | 1 % |
| witri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada |
juru |
cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bi | 99 % |
| mbali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka |
juru |
cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 99 % |
| ya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, |
kadang-kadang |
ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kend | 3 % |
| pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk dan |
kadang-kadang |
tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras. | 8 % |
| sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu |
kadang-kadang |
ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulu | 11 % |
| ihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya karena |
kadang-kadang |
mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup l | 22 % |
| basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan. |
kadang-kadang |
Sawitri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur ny | 31 % |
| nyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di mata Sawitri |
kadang-kadang |
tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya | 32 % |
| sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan |
kadang-kadang |
membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak b | 33 % |
| itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur. |
kadang-kadang |
mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia | 34 % |
| amun ia merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri |
kadang-kadang |
merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan | 41 % |
| mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. |
kadang-kadang |
Sawitri juga melihat mata yang bertanya-tanya. Mata yang men | 42 % |
| teriak sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun |
kadang-kadang |
hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore | 51 % |
| sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” |
kadang-kadang |
mereka juga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak | 53 % |
| ga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. |
kadang-kadang |
mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan seh | 53 % |
| tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. |
kadang-kadang |
hanya kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan ta | 61 % |
| ua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. |
kadang-kadang |
kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak ter | 62 % |
| sehingga lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak. Sawitri |
kadang-kadang |
merasa penembak orang bertato itu memang sengaja merusak gam | 65 % |
| ato itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu |
kadang-kadang |
terdapat gambar tato yang rusak karena lubang peluru. Ia sel | 68 % |
| di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. |
kadang-kadang |
bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong | 84 % |
| angannya atau paling sedikit tatonya. Sawitri pernah membuka |
kain |
penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak ingin melak | 23 % |
| ia tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka |
kain |
penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan | 24 % |
| mbelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan dan |
kaki |
terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangan | 61 % |
| tato itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan |
kaki |
mereka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, n | 89 % |
| u, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi dengan |
kaki |
tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggeletak | 91 % |
| ngannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kadang |
kakinya |
memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak terikat sam | 62 % |
| n yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi |
kalau |
rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa keb | 7 % |
| kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. |
kalau |
matanya menjadi pedas dan berair ia menutup matanya sejenak. | 10 % |
| samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk |
kalau |
ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangan | 13 % |
| harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. |
kalau |
tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia harus me | 14 % |
| at itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup lega |
kalau |
sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, | 22 % |
| da lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan. |
kalau |
mereka menembak di tempat yang tidak mematikan itu lebih dul | 90 % |
| yakin Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan |
kalau |
para penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melaw | 94 % |
| . Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap |
kali |
hujan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertat | 1 % |
| ertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap |
kali |
mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Rumahny | 2 % |
| ok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap |
kali |
hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendenga | 5 % |
| i hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering |
kali |
bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yan | 6 % |
| rkan lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering |
kali |
pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kala | 10 % |
| n lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap |
kali |
hujan reda, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. U | 12 % |
| a selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap |
kali |
hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah | 16 % |
| Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap |
kali |
melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali h | 48 % |
| p kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap |
kali |
hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang | 49 % |
| bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap |
kali |
hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas me | 56 % |
| h di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap |
kali |
hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitr | 58 % |
| atikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut gang setiap |
kali |
hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali Kandang Jino | 69 % |
| tahu, Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap |
kali |
hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, | 95 % |
| sib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap |
kali |
bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan | 96 % |
| etiap kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap |
kali |
hujan selesai, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato | 97 % |
| rang bertato itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang |
kampung |
menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut da | 55 % |
| Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok ke |
kanan |
sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia terti | 17 % |
| reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke |
kanan |
sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu in | 19 % |
| bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke |
kanan |
setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda | 35 % |
| cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke |
kanan |
sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah melihat | 56 % |
| ah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke |
kanan… |
“Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali deng | 98 % |
| Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat bertato itu, |
kandang |
Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak d | 59 % |
| setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali |
kandang |
Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkur | 69 % |
| a pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa |
karena |
bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, se | 6 % |
| terlalu besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa |
karena |
ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia m | 8 % |
| -apa karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin |
karena |
ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lag | 9 % |
| agu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas |
karena |
menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya men | 10 % |
| ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya |
karena |
kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi S | 22 % |
| an sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur |
karena |
orang-orang kampung menyeret dengan memegang kakinya. Sawitr | 54 % |
| mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya |
karena |
ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di tempat-t | 67 % |
| mematikan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak |
karena |
lubang peluru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang | 68 % |
| ulisan, huruf-huruf besar… Sawitri selalu memperhatikan tato |
karena |
Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dad | 73 % |
| engenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. |
karena |
Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa- | 79 % |
| eno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” |
kata |
Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun berceri | 1 % |
| a-apa karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, |
kau |
tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita | 6 % |
| ergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda juga terdapat |
kawan-kawan |
Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat bertato itu, | 59 % |
| Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok |
ke |
kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu den | 13 % |
| an. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok |
ke |
kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia | 17 % |
| an reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok |
ke |
kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia sel | 19 % |
| kerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri |
ke |
luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia m | 21 % |
| at bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh |
ke |
kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan | 35 % |
| uhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah |
ke |
surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat beg | 40 % |
| ru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau |
ke |
neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak cer | 40 % |
| an pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai |
ke |
depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu se | 45 % |
| juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau |
ke |
belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekal | 45 % |
| . Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah |
ke |
langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila | 46 % |
| a. Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan |
ke |
kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan | 54 % |
| Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok |
ke |
kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah me | 56 % |
| itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap |
ke |
arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela | 97 % |
| eolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok |
ke |
kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kemba | 98 % |
| engan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya |
kedua |
ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Ka | 62 % |
| ka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara |
kedua |
mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pad | 84 % |
| i bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah |
kekasihnya |
yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. Di dada w | 76 % |
| a sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pucat |
kekuning-kuningan |
kadang-kadang membuat warna darah pada dada dan punggung ora | 33 % |
| Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke |
kelurahan |
sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur ka | 54 % |
| -betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu |
kemasukan |
air hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbias | 47 % |
| da dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya |
kembali |
setelah melihat sesosok mayat bertato. Sawitri akan menarik | 56 % |
| ok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa |
kembali |
dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru | 99 % |
| as. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Potret mayat-mayat itu |
kemudian |
menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu ma | 88 % |
| dang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin |
kendaraan |
yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak mendengar apa-apa | 4 % |
| berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. |
kepala |
orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti d | 45 % |
| elakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali |
kepala |
itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit dengan | 46 % |
| iak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata |
kepala |
sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat | 86 % |
| obil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh di tengah |
keramaian |
menggemparkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat it | 85 % |
| ahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup |
keras |
setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti | 16 % |
| g tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan |
kerjap |
halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat d | 44 % |
| lalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di antara |
kerumunan |
itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil meliha | 21 % |
| at-mayat bertato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya |
kesan |
mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak atau orang ter | 31 % |
| p. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak itu memberi |
kesempatan |
pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tah | 94 % |
| lanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri |
ketia |
sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul | 87 % |
| ak orang melupakan dunia fana namun Sawitri selalu terbangun |
ketika |
hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menen | 18 % |
| menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. |
ketika |
hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabi | 27 % |
| ng-kadang mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, |
ketika |
ia menoleh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, | 35 % |
| natap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup |
ketika |
bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa | 36 % |
| witri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan |
kirinya |
ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan | 76 % |
| , kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah |
kita |
bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, da | 7 % |
| k itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana |
kolor |
orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato | 30 % |
| li, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari |
koran-koran |
memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di te | 83 % |
| ri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok |
kulit |
Pamuji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang ber | 75 % |
| enar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu |
lagi!” |
“Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa | 52 % |
| k. Saat menutup matanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong |
lagu |
dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang | 11 % |
| dengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan |
lagu |
itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali h | 11 % |
| ena ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan |
lagu-lagu |
pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas kar | 9 % |
| tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru |
lain |
di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tem | 90 % |
| itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah |
lama |
melayang, entah ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah | 40 % |
| sai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam cahaya |
lampu |
merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu terg | 28 % |
| tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya |
lampu |
merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat w | 33 % |
| t gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya |
lampu |
merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang ter | 49 % |
| nali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya |
lampu |
merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di | 70 % |
| esekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke |
langit |
dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan b | 46 % |
| namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan |
langsung |
membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil membungkuk. | 19 % |
| angun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela |
lantas |
menengok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, | 19 % |
| tiap kali hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk |
lantas |
menutupnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato. Sa | 56 % |
| isan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. |
lantas |
ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu a | 77 % |
| arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela |
lantas |
menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan be | 98 % |
| n gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan |
layar |
pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pu | 32 % |
| us yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka |
lebih |
buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergele | 61 % |
| ma sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya |
lebih |
banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebu | 63 % |
| an. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak mematikan itu |
lebih |
dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi den | 91 % |
| g mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup |
lega |
kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kak | 22 % |
| to namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang |
lelaki |
itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung ha | 74 % |
| bang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di |
lengan |
kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pa | 71 % |
| nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di |
lengan |
kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada | 76 % |
| da malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam |
letupan |
dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pul | 4 % |
| agi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia |
lihat |
adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya m | 24 % |
| umuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke |
luar |
rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia meliha | 21 % |
| ia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap |
lubang |
jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan | 10 % |
| mun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih banyak |
lubang |
pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di pu | 63 % |
| kan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak karena |
lubang |
peluru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergel | 68 % |
| ng tidak terikat itu biasanya lebih banyak lubang pelurunya. |
lubang-lubang |
peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga | 64 % |
| . Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih ada |
lubang-lubang |
peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka men | 90 % |
| ap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan |
luka |
tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara ke | 83 % |
| ertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada |
lukisan |
mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Men | 76 % |
| . Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas ada |
lukisan |
wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada tulisan A | 77 % |
| peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga |
lukisan-lukisan |
tato yang indah itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa pene | 64 % |
| ar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas |
lukisan-lukisan |
pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, bunga mawar, te | 71 % |
| kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan |
lumpur |
karena orang-orang kampung menyeret dengan memegang kakinya. | 54 % |
| padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. |
maka |
juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali h | 1 % |
| n mulut ternganga. Dan bila hujan belum betul-betul selesai, |
maka |
Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan air hujan. | 47 % |
| a dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah |
maka |
Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah b | 79 % |
| berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! |
maka |
hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-t | 79 % |
| pa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. |
maka |
juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina | 99 % |
| a-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu. |
malahan |
ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap kali me | 48 % |
| ting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada |
malam |
hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan | 3 % |
| p saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda pada |
malam |
hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi | 5 % |
| ihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah |
malam |
dan iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawit | 18 % |
| mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang sore |
malam |
mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di ka | 82 % |
| ebu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di |
manakah |
kamu? Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang dari koran- | 88 % |
| ian. Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di |
mangga |
Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pam | 78 % |
| lam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh |
manusia |
itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya ak | 28 % |
| arena Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, |
masa-masa |
yang telah berlalu! Maka hujan pun turun seperti sebuah mimp | 79 % |
| in ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang |
masih |
deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerik | 6 % |
| nyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis seperti |
masih |
hidup. Sebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawit | 25 % |
| bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu |
masih |
hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa m | 36 % |
| ok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu |
masih |
hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun | 38 % |
| s pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu |
masih |
ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melay | 39 % |
| merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan |
masih |
ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang | 42 % |
| . Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu |
masih |
dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, i | 74 % |
| an menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu |
masih |
bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka te | 89 % |
| ka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun |
masih |
ada lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan | 90 % |
| itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya |
masih |
belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 | 100 % |
| penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan |
mata |
terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup. Sebuah w |