ReadingBar

back to Bunyi Hujan di Atas Genting

click here for the word frequency

 

Bunyi Hujan di Atas Genting

Experimental Concordance Program

The text:

---60---Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, tangannya atau paling sedikit tatonya. Sawitri pernah membuka kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup. Sebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang bertanya-tanya. Mata yang menuntut. Mata yang menolak takdir. Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan air hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato. Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat bertato itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang bertato itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak karena lubang peluru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di punggungnya yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-huruf besar… Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh di tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985
 

pre- text

WORD

post- text

%
ina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab:

“aku

belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
ar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!”

“anjing!”

“Anjing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat 53 %
tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke kanan…

“apakah

pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuj 98 %
Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma

“ceritakanlah

padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. 0 %
belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore.

“lihat!

Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya 52 %
lesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!”

“mampus!”

“Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekara 52 %
anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!”

“modar!”

“Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anj 52 %
berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!”

“tahu

rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” 52 %
a sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya

15

watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup mata 10 %
isa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta,

15

Juli 1985 100 %
awab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli

1985

  100 %
ang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih

ada

di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, 39 %
li kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan

ada

juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang 63 %
ng bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya

ada

lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nun 76 %
gan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu

ada

tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang perta 76 %
ngki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas

ada

lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada t 77 %
s ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu

ada

tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta pad 77 %
ikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih

ada

lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Ka 90 %
andai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesai selalu

ada

mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamu 95 %
ekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia lihat

adalah

wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis 24 %
ngkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa

air

hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahn 15 %
erdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa

air

hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saj 16 %
esai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan

air

hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa de 47 %
Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira

ajidarma

“Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada jur 0 %
ukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan

akan

remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar. Mun 7 %
in melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya

akan

terhalang daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya 14 %
fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia

akan

langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil mem 19 %
ia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya

akan

melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaim 28 %
upnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato. Sawitri

akan

menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. 57 %
m, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak

akan

tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak it 93 %
rgeletak di ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak

akan

mengalami nasib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu ge 96 %
eka selalu menatap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri

akan

membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir 98 %
lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri

akan

berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerit 98 %
setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti

akhir

sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu 16 %
awitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada

akhir

hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sa 36 %
mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada

akhir

pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri 37 %
akan membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada

akhir

cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya A 98 %
mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa

alamat

pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pam 93 %
umira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata

alina

pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita ten 1 %
r cerita Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya

alina

pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Ak 99 %
u meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan

anak-anak

berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” 52 %
pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di

antara

kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berha 21 %
an. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun di

antara

tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pertama yan 26 %
Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di

antara

mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan 58 %
ngan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di

antara

kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilempark 84 %
m rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar

apa

saja yang mereka percakapkan. Mereka berteriak-teriak sambil 50 %
ujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar

apa-apa

karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau t 6 %
dak usah terlalu besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar

apa-apa

karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin kare 8 %
cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu,

apakah

kakinya, tangannya atau paling sedikit tatonya. Sawitri pern 23 %
dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti

apakah

orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas 38 %
ti, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa,

apakah

nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, 39 %
mereka juga menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan.

apakah

mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya 66 %
tin Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu.

apakah

Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat 92 %
as. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan.

apalagi

kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bi 7 %
n itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri.

apalagi

dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah 91 %
u tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke

arah

Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lanta 97 %
yeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam

arak-arakan

yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela se 55 %
Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena

asih

itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa 79 %
Bunyi Hujan di

atas

Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tenta 0 %
a gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di

atas

genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. P 3 %
itri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik di

atas

genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu tergel 97 %
ihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, tangannya

atau

paling sedikit tatonya. Sawitri pernah membuka kain penutup 23 %
ri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak

atau

orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan t 31 %
tu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidup

atau

sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa 38 %
a bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya,

atau

baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga at 39 %
nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi,

atau

sudah lama melayang, entah ke surga atau ke neraka. Sawitri 40 %
au baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga

atau

ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak 40 %
emen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan

atau

ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sese 45 %
ir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi

atau

tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut terngang 46 %
tak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got,

atau

terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret 83 %
rtato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung,

atau

di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu 84 %
lam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak

bagaikan

layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri y 32 %
ak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup

bagaikan

mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang 81 %
a akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat

bagaimana

darah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun sege 29 %
o bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk

bagi

Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbany 81 %
ngan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat.

bahkan

ada juga yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat y 63 %
jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang

bahkan

mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jala 84 %
membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa

bahwa

ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih 36 %
bali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak

bahwa

ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri d 42 %
ul… Mayat-mayat itu menggeletak di sana, betul-betul seperti

bangkai

tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mer 60 %
sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan

bangunan

yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk ji 7 %
gerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh,

banyak

bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon y 7 %
bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu

banyak

bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sos 37 %
ga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu

banyak

cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritak 40 %
ali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih

banyak

lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah gari 63 %
a merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau

baru

saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau ke 39 %
as untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang

basah

dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok da 29 %
embercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi

basah

dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah. 30 %
r. Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah.

basah

oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan 44 %
dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang

basah

itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berki 44 %
embuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan

basah

hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terku 44 %
tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali,

batin

Sawitri. Apalagi dengan kaki tangan terikat seperti itu. Apa 91 %
alu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di

bawah

mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasih 76 %
Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya

begitu

banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan so 37 %
pa mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita.

begitu

sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, se 37 %
ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat

begitu

banyak cerita pada mata itu namun ia merasa begitu sulit men 40 %
a melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun ia merasa

begitu

sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa 41 %
-orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda.

begitulah

caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya terte 69 %
a berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke

belakang

seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala 45 %
g pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan

belum

benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berki 27 %
t dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan

belum

betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang mengang 47 %
umuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan

belum

benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Liha 51 %
enembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia

belum

tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkela 94 %
ada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku

belum

bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
un menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih

belum

selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 100 %
ama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika hujan belum

benar-benar

selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam ca 27 %
mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang hujan belum

benar-benar

selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi 51 %
jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan

berair

ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu 10 %
cet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia sedang

berbelanja

pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu 87 %
,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun

bercerita

tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang i 1 %
di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya

berdegup-degup

keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang se 16 %
k di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu

berdesir

dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesa 15 %
enjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato

bergelimpangan

di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Se 80 %
h Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu

bergelimpangan

hampir setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat mengge 81 %
ayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu

bergembira

setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang s 48 %
ntara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu

berhasil

melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlan 21 %
as menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan

berjumpa

kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Ma 98 %
ama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri

berkenalan

dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka hujan 79 %
yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut

berkerumun

di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang p 26 %
belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang

berkilat

dalam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tub 27 %
dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu

berkilat

dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala o 44 %
a Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah

berlalu!

Maka hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak ta 79 %
epanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu

berlepotan

dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan mem 54 %
ghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih

bermunculan

dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Merek 89 %
gang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang

bersorak-sorai

gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda 55 %
pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri

bertatapan

dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti 38 %
jarang pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat

bertato

tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda 5 %
ut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat

bertato

itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan mene 13 %
merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat

bertato

itu. Jika mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga 20 %
hampir selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat

bertato

itu. Ketika hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak 27 %
na kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat

bertato

itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bert 30 %
tato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat

bertato

itu seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang- 31 %
eperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang

bertato

itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di 31 %
na merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat

bertato

itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu 34 %
yat bertato itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat

bertato

itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan s 35 %
rcerita. Begitu sering Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok

bertato

itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih hidu 38 %
ta yang menuntut. Mata yang menolak takdir. Tapi tubuh-tubuh

bertato

yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan 43 %
erasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat

bertato

itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira s 48 %
etangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melihat mayat

bertato

tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat it 49 %
seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang

bertato

itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung meny 54 %
g bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga

bertato

seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat y 57 %
t kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat

bertato

itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu 59 %
indah itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang

bertato

itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa 65 %
yang tidak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang

bertato

itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kad 67 %
lit Pamuji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang

bertato

di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisa 75 %
ruk. Semenjak tahun-tahun terakhir ini, semenjak mayat-mayat

bertato

bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk b 80 %
jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat

bertato

dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau 83 %
ntung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat

bertato

itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari da 84 %
t itu kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat

bertato

itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki 89 %
ereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika

bertemu

dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata it 37 %
kannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin

berteriak

bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya i 41 %
kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak

berteriak

hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa 52 %
u Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka

berteriak-teriak

sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang 51 %
arkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat itu sambil

berteriak-teriak

sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kep 86 %
g membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak

berwarna

merah melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat be 34 %
r, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-huruf

besar…

Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato 72 %
ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa,

betapa

mata itu pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Be 37 %
i yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu tergeletak

betul-betul

seperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tap 28 %
an mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum

betul-betul

selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasu 47 %
eng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak di sana,

betul-betul

seperti bangkai tikus yang dibuang di tengah jalan. Sawitri 60 %
erikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu

biasanya

lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentu 63 %
ng daun jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan

bibir

jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutny 15 %
ah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada

bidang

lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jan 74 %
bil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur

bila

hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupak 18 %
ah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan

bila

hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut 46 %
at sesosok mayat bertato. Sawitri akan menarik napas panjang

bila

ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertat 57 %
i tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari

binatang

yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan t 61 %
k di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia

bisa

mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan ya 4 %
an yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali

bisa

mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yang kok 6 %
gi kalau rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor,

bisa

kebanjiran, dan akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak us 7 %
masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri

bisa

merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya begitu banya 37 %
atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera

bisa

merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di tubuhnya, atau b 39 %
tato itu memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka

bisa

menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka ju 65 %
ulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri

bisa

mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. 71 %
selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa

bisa

menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama? Itulah 95 %
ru cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum

bisa

menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari

bolong

di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang 84 %
ang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan

brewok

dan celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah may 30 %
m. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam

buaian

gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan l 32 %
tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita

bukan

bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan 7 %
. Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat itu

bukan

Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu 57 %
a hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun

bukan

hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu in 75 %
menarik napas panjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji.

bukankah

Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di 57 %
ji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan

bukankah

di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap k 58 %
takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium

bumi

atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ter 46 %
lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati,

bunga

mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan, huruf-h 72 %
 

bunyi

Hujan di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanl 0 %
sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar

bunyi

hujan mulai menitik di atas genting. Rumahnya memang terleta 3 %
t gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar

bunyi

semacam letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namu 4 %
i, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan

bunyi

mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak m 4 %
malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena

bunyi

hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering k 6 %
antungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan

bunyi

sisa air hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri 16 %
ang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali

bunyi

hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan seles 96 %
g dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih

buruk

dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di 61 %
bertato bergelimpangan di segala sudut, hidup bagaikan mimpi

buruk

bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu ri 81 %
Matanya sering kali pedas karena menatap lubang jarum dalam

cahaya

15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia menutup m 10 %
ar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam

cahaya

lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia it 27 %
kadang tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara.

cahaya

lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang mem 33 %
di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot

cahaya

lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya ya 49 %
i mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun

cahaya

lampu merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali t 70 %
g tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah

caranya

Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, 69 %
an sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan

celana

kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat be 30 %
Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru

cerita

itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Set 1 %
ntang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru

cerita

itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, 1 %
ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak

cerita

pada mata itu namun ia merasa begitu sulit menceritakannya k 40 %
membuka jendela lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir

cerita

Sawitri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pa 98 %
akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru

cerita

itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menj 99 %
dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru

cerita

itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
uru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina,

ceritanya

masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 100 %
g itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh

cinta

pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asih. Mer 78 %
koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan dengan

ciri

yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka tertembak 89 %
klah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri

cukup

membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia h 13 %
-kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri

cukup

lega kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apaka 22 %
dup. Sebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri

cukup

jarang ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir 26 %
eperti bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi

cukup

jelas untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen y 29 %
h ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia

cukup

membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke kanan 56 %
inongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkuri

cukup

terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di punggungnya y 70 %
cat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna darah pada

dada

dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. 33 %
ena Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di

dada

Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulis 73 %
pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di

dada

bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gam 73 %
dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di

dada

Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar 75 %
sihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. Di

dada

wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, 77 %
an menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya.

dadanya

selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap k 15 %
jahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lubang jarum

dalam

cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair ia me 10 %
ar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat

dalam

cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh man 27 %
rsenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum

dalam

buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bag 32 %
disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari

dalam

rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mendengar a 50 %
ng menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut

dalam

arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuk 55 %
to itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari

dalam

sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh d 85 %
hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan

dan

bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula ia 4 %
ta bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran,

dan

akan remuk jika tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar 7 %
kin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk

dan

kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya 8 %
bang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas

dan

berair ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya seje 10 %
atanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong lagu dari radio.

dan

saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tap 11 %
bertato itu, Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya

dan

menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat m 13 %
a. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela

dan

tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga d 15 %
endela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya

dan

juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantu 15 %
utnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir

dan

jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai da 16 %
an jantungnya berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai

dan

bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sa 16 %
sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu

dan

menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. 17 %
ayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah malam

dan

iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri s 18 %
dunia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda

dan

ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sa 19 %
tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah

dan

menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. I 21 %
yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak

dan

giginya meringis seperti masih hidup. Sebuah wajah yang meny 25 %
uk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang basah

dan

sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan ce 29 %
ak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jadi basah

dan

rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga basah. Tid 30 %
en yang basah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut

dan

brewok dan celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wa 30 %
ah dan sosok itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok

dan

celana kolor orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-m 30 %
atau orang tersenyum. Orang-orang bertato itu tidur nyenyak

dan

tersenyum dalam buaian gerimis yang di mata Sawitri kadang-k 32 %
ekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna darah pada dada

dan

punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. Dar 33 %
Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setelah membuka jendela

dan

membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa 35 %
ya. Mata itu masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri.

dan

Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada akhir pandangannya 37 %
ang merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati

dan

masih ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-k 42 %
ngin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup

dan

ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga mel 42 %
a ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri

dan

anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang bert 42 %
uh bertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah

dan

hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang bas 44 %
yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan

dan

kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu ber 44 %
sah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah

dan

tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada 44 %
p halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat

dan

darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang 44 %
ar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah

dan

basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu 44 %
mencium bumi atau tengadah ke langit dengan mata terbelalak

dan

mulut ternganga. Dan bila hujan belum betul-betul selesai, m 46 %
ngadah ke langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga.

dan

bila hujan belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat m 46 %
ayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda

dan

mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kunin 49 %
k itu meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai

dan

anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” 51 %
jing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat itu

dan

menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka ser 53 %
gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda

dan

menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembal 56 %
Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu

dan

bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang 58 %
disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan

dan

kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari t 61 %
nya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di punggung

dan

dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak. Sa 64 %
nya yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA,

dan

gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan j 71 %
at debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu mengepul

dan

membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Po 87 %
bertato itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan

dan

kaki mereka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematik 89 %
lnya yakin Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik.

dan

kalau para penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk 93 %
ihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat bagaimana

darah

membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera jad 29 %
uri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat warna

darah

pada dada dan punggung orang itu tidak berwarna merah melain 33 %
dan punggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam.

darah

itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur. 34 %
uh-tubuh bertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh

darah

dan hujan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang 44 %
ah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap halilintar membuat

darah

dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan 44 %
lilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan

darah

dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang 44 %
at menutup matanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong lagu

dari

radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia te 11 %
n. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian saja

dari

mayat itu, apakah kakinya, tangannya atau paling sedikit tat 23 %
t itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan.

dari

dalam rumahnya yang terletak di sudut gang itu Sawitri mende 50 %
ang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk

dari

binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana 61 %
bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya

dari

dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu j 85 %
di manakah kamu? Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang

dari

koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan 88 %
rti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pernah menerima surat

dari

Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi hanya satu kali. Sawitri 92 %
t itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang

daun

jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir j 14 %
sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat

debu

mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu mengepul dan mem 87 %
iang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting.

debu

mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di man 87 %
ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu

dengan

jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela 14 %
a kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai

dengan

mata terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup. Seb 25 %
ainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat bertato itu

dengan

orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu menatap te 34 %
pat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup ketika bertemu

dengan

mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata itu pada 37 %
ya begitu banyak bercerita. Begitu sering Sawitri bertatapan

dengan

sosok-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah 38 %
mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati, hanya

dengan

sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa ora 39 %
kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit

dengan

mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan belum be 46 %
ir hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbiasa

dengan

mayat-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangga 48 %
lan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan

dengan

lumpur karena orang-orang kampung menyeret dengan memegang k 54 %
berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret

dengan

memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut dalam arak-arakan 55 %
binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana

dengan

tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua 61 %
ng-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan

dengan

tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahk 62 %
AMA, dan gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat

dengan

jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung 71 %
membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji

dengan

jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada P 75 %
di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan

dengan

Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka hujan pun tur 79 %
l. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato

dengan

luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di anta 83 %
erteriak-teriak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat

dengan

mata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang 86 %
koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu masih bermunculan

dengan

ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka terte 89 %
bih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi

dengan

kaki tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggel 91 %
nan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali

dengan

Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita 99 %
pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke

depan

atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. 45 %
Bunyi Hujan

di

Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku 0 %
rasa gemetar setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik

di

atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang i 3 %
ujan mulai menitik di atas genting. Rumahnya memang terletak

di

sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa 3 %
a-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak

di

mulut gang setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin i 5 %
-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda,

di

mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat ma 12 %
nekan bibir jendela dan tempias sisa air hujan menitik-nitik

di

rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berd 15 %
n tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan juga

di

sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya be 15 %
tri pun selalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak

di

antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selal 21 %
amkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang ikut berkerumun

di

antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menjadi orang pert 26 %
to itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang

di

mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pada sebuah 32 %
Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada

di

tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, en 39 %
itu bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak

di

mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot ca 49 %
ri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak

di

sudut gang itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percak 50 %
kah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah

di

antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali 58 %
mayat itu dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak

di

mulut gang setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan 58 %
g Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak

di

sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang di teng 60 %
etak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang dibuang

di

tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dari b 60 %
uk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergeletak

di

sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang 61 %
ubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis

di

punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah 64 %
aja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa menembak hanya

di

tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di tem 66 %
nya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak

di

tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak d 66 %
i tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah mereka menembak

di

tempat-tempat yang tidak mematikan hanya karena ingin membua 66 %
anya karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan?

di

tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapa 67 %
ru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak

di

mulut gang setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri 69 %
pu merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato

di

punggungnya yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYA 70 %
rlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib

di

lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-luk 71 %
karena Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri

di

dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. 73 %
Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis

di

dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkar 73 %
ji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato

di

dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan m 75 %
ya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat

di

lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar 76 %
selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus.

di

bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah k 76 %
ekasihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang.

di

dada wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji p 77 %
mpaian. Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur

di

Mangga Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan den 78 %
un terakhir ini, semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan

di

segala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semen 80 %
r setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat menggeletak

di

sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau t 82 %
malam mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung

di

kali, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap ha 82 %
menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di kali, terbenam

di

got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari koran-koran mem 82 %
udut pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau terkapar

di

jalan tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat 83 %
koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan

di

tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Ka 83 %
potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk,

di

jidat, di jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang 83 %
yat-mayat bertato dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat,

di

jantung, atau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan may 84 %
dengan luka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau

di

antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu di 84 %
bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong

di

jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. M 84 %
m sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh

di

tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang-orang men 85 %
. Debu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji,

di

manakah kamu? Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang dar 88 %
yang sama. Tangan dan kaki mereka terikat. Mereka tertembak

di

tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru 89 %
at yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru lain

di

tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tempat 90 %
u lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak

di

tempat yang tidak mematikan itu lebih dulu, rasanya pasti sa 90 %
tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggeletak

di

suatu tempat seperti mayat-mayat di mulut gang? Sawitri pern 92 %
Pamuji telah menggeletak di suatu tempat seperti mayat-mayat

di

mulut gang? Sawitri pernah menerima surat dari Pamuji tanpa 92 %
, jika setiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak

di

ujung gang itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengal 95 %
Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mulai menitik

di

atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang itu t 96 %
an mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai,

di

mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka sela 97 %
hore-hore. “Lihat! Satu lagi!” “Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa

dia

sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” 52 %
“Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa

dia

sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” Kadang-kadang mereka juga men 52 %
menggeletak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang

dibuang

di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka lebih buruk dar 60 %
ajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah terlanjur

dikerumuni

para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke luar 20 %
di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu

dilemparkan

pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil 84 %
enulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih

dilingkari

gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhk 74 %
a orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti

dipaksakan

oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup men 45 %
ur dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan

diri

ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai i 21 %
satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang

disatukan

dengan tali kawat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terika 62 %
ergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat itu

disemprot

cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam ruma 49 %
ihat wajahnya karena kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur

ditutup

kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau sudah melihat sebagian s 22 %
antung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu

dua

hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun b 75 %
a Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asih. Mereka

dulu

sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah maka S 78 %
witri. Semenjak itulah Pamuji menghilang tak tentu rimbanya.

dulu

mayat-mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi sian 81 %
jan turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan

dunia

fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia 18 %
di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang,

entah

ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat 40 %
run tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dunia

fana

namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan 18 %
empat-tempat yang tidak mematikan itu kadang-kadang terdapat

gambar

tato yang rusak karena lubang peluru. Ia selalu memperhatika 68 %
yang sudah berlubang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan

gambar

salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lu 71 %
ada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari

gambar

jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan wakt 74 %
cerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut

gang

itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri sel 2 %
tik di atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut

gang

itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi 3 %
skipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut

gang

setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang ti 5 %
a tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut

gang

itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato 12 %
embira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut

gang

setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu 49 %
ekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut

gang

itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mere 50 %
dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut

gang

setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Ses 58 %
lalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut

gang

setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali 69 %
tiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung

gang

itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib y 95 %
menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut

gang

itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap 97 %
cerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut

gang

itu tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri sel 2 %
tik di atas genting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut

gang

itu. Pada malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi 3 %
skipun sesosok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut

gang

setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang ti 5 %
a tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut

gang

itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato 12 %
embira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut

gang

setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu 49 %
ekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut

gang

itu Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mere 50 %
dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut

gang

setiap kali hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Ses 58 %
lalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut

gang

setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali 69 %
tiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung

gang

itu, siapa bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib y 95 %
menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut

gang

itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap 97 %
nyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah

garis

di punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang ind 64 %
awitri tak pernah ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai

gembira

itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan men 55 %
etaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa

gemetar

setiap kali mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas gent 2 %
an mengalami nasib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu

gemetar

setiap kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setia 96 %
Bunyi Hujan di Atas

genting

oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketak 0 %
g-orang bertato itu tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian

gerimis

yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan layar pad 32 %
ia lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan

giginya

meringis seperti masih hidup. Sebuah wajah yang menyeramkan. 25 %
Bunyi Hujan di Atas Genting oleh Seno

gumira

Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina 0 %
itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap

halilintar

membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah da 44 %
cukup jarang ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri

hampir

selalu menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat bertat 26 %
lang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu bergelimpangan

hampir

setiap saat. Pagi siang sore malam mayat-mayat menggeletak d 82 %
manusia itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri

hanya

akan melihatnya sepintas, tapi cukup jelas untuk mengingat b 28 %
erasa mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati,

hanya

dengan sekilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah ny 39 %
sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang

hanya

kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kaw 62 %
g sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa menembak

hanya

di tempat yang mematikan saja, tapi mereka juga menembak di 65 %
Apakah mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan

hanya

karena ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di t 67 %
untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun bukan

hanya

nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di 75 %
ernah menerima surat dari Pamuji tanpa alamat pengirim, tapi

hanya

satu kali. Sawitri sebetulnya yakin Pamuji tak akan tertangk 93 %
ng hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua

hari

untuk mencocok-cocok kulit Pamuji dengan jarum. Namun bukan 75 %
di kali, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap

hari

koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka te 83 %
adang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang

hari

bolong di jalan raya dari dalam sebuah mobil yang segera men 84 %
p membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia

harus

membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau 13 %
s. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia

harus

membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias 14 %
ki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung

hati

tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari un 74 %
ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih

hidup

ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, 36 %
tato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu masih

hidup

atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun segera 38 %
itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin

hidup

dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga 42 %
semenjak mayat-mayat bertato bergelimpangan di segala sudut,

hidup

bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak itulah Pamuji me 80 %
Bunyi

hujan

di Atas Genting oleh Seno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah pada 0 %
a juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali

hujan

mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Itu 2 %
ya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar bunyi

hujan

mulai menitik di atas genting. Rumahnya memang terletak di s 3 %
yat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap kali

hujan

reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa- 5 %
hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi

hujan

yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bi 6 %
tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang masih deras.

hujan

yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi k 6 %
u itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali

hujan

reda, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Untuk m 12 %
k sampai perutnya menekan bibir jendela dan tempias sisa air

hujan

menitik-nitik di rambutnya dan juga di sebagian wajahnya. Da 15 %
alu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap kali

hujan

selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah nyany 16 %
embungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila

hujan

turun tengah malam dan iramanya mengajak orang melupakan dun 18 %
g melupakan dunia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika

hujan

reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke 18 %
i orang pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu. Ketika

hujan

belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabir yang 27 %
leh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah

hujan

mereda. Sawitri juga sering merasa bahwa ia menatap mereka t 36 %
ertato yang tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan

hujan

dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu 44 %
darah dan tubuh yang basah itu berkilat dan darah dan basah

hujan

pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke 44 %
langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila

hujan

belum betul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang m 47 %
i melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali

hujan

reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang kekun 49 %
mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun kadang-kadang

hujan

belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. 51 %
orak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap kali

hujan

reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupn 56 %
antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali

hujan

reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri meng 58 %
n tato orang-orang yang tergeletak di mulut gang setiap kali

hujan

reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali Kandang Jinongkeng 69 %
enalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu! Maka

hujan

pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-tahun t 79 %
Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali

hujan

selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, siapa 95 %
ma? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi

hujan

mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di 96 %
kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali

hujan

selesai, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. Mata 97 %
gup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air

hujang

seperti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membu 16 %
, bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tulisan,

huruf-huruf

besar… Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga 72 %
etak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari, kadang-kadang

ia

bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kendara 4 %
an bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pula

ia

tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertato tetap 4 %
i mulut gang setiap kali hujan reda pada malam hari. Mungkin

ia

memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang masih 6 %
u besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena

ia

mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia meny 8 %
rena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena

ia

menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lagu-l 9 %
tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras.

ia

suka mendengarkan lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. M 9 %
dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair

ia

menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu ia 10 %
ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak itu

ia

mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengar 11 %
jenak itu ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat

ia

mendengarkan lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap 11 %
dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang

ia

tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut g 12 %
ukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok ke kanan.

ia

harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas. 13 %
elas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela.

ia

harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir jendela dan t 14 %
ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun

ia

tertidur bila hujan turun tengah malam dan iramanya mengajak 17 %
ia fana namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan

ia

akan langsung membuka jendela lantas menengok ke kanan sambi 19 %
membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil membungkuk.

ia

selalu merasa takut, tapi ia selalu ingin menatap wajah maya 19 %
gok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi

ia

selalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika may 19 %
i ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai

ia

melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya kar 21 %
n menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia melihat mayat.

ia

tidak selalu berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang 21 %
ernah membuka kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi

ia

tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kai 24 %
jahnya tapi ia tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya

ia

membuka kain penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menye 24 %
a lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang

ia

lihat adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan gig 24 %
ng mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika

ia

menoleh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, set 35 %
gkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering merasa bahwa

ia

menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hid 36 %
Sawitri bertatapan dengan sosok-sosok bertato itu, sehingga

ia

merasa mengerti apakah orang itu masih hidup atau sudah mati 38 %
u masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang.

ia

pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu masih ada di 39 %
olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata itu namun

ia

merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri kadang- 41 %
Sawitri kadang-kadang merasa orang itu ingin berteriak bahwa

ia

tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri dan 42 %
berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan

ia

punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga meliha 42 %
ganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu. Malahan

ia

merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap kali melih 48 %
rnah ikut dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu.

ia

cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke 55 %
kadang terdapat gambar tato yang rusak karena lubang peluru.

ia

selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergeletak di mul 68 %
awitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji juga bertato.

ia

pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di 73 %
ga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji.

ia

menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masi 73 %
h dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat,

ia

membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok kulit Pamuji 74 %
Namun bukan hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji.

ia

selalu ingat di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. 75 %
wanita telanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula,

ia

pernah jatuh cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri 78 %
ata kepala sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang.

ia

melihat debu mengepul setelah mayat itu terbanting. Debu men 87 %
a penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan,

ia

belum tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai b 94 %
tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua

ibu

jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang 62 %
ajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup jarang

ikut

berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu menj 26 %
kampung menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah

ikut

dalam arak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup 55 %
ris di punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang

indah

itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang berta 64 %
l radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lagu-lagu pop

indonesia

sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lu 9 %
an hanya nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu

ingat

di lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah maw 76 %
ng rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau

ingin

melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya ak 13 %
an sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu

ingin

menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat itu sudah 20 %
embuka kain penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak

ingin

melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup 24 %
ceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang itu

ingin

berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan 41 %
orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih

ingin

hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitr 42 %
menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya karena

ingin

membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di tempat-tempat 67 %
itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah malam dan

iramanya

mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawitri selalu ter 18 %
k bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidup dan ia punya

istri

dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri juga melihat mata yang 42 %
etakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita

itu

pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pad 1 %
a tentang Sawitri: Setiap kali hujan mereda, pada mulut gang

itu

tergeletaklah mayat bertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu 2 %
air ia menutup matanya sejenak. Saat menutup matanya sejenak

itu

ia mendengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia menden 11 %
rkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu

itu

kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan 11 %
tidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulut gang

itu

tergeletaklah mayat bertato. Untuk melihat mayat bertato itu 12 %
ngok ke kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat

itu

dengan jelas. Kalau tidak, pandangannya akan terhalang daun 14 %
hir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela

itu

dan menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat 17 %
lalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu. Jika mayat

itu

sudah terlanjur dikerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu 20 %
mpatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan

itu

sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wa 21 %
selalu berhasil melihat wajahnya karena kadang-kadang mayat

itu

sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup lega kalau 22 %
ya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia

itu

tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya akan m 28 %
at bagaimana darah membercak pada semen yang basah dan sosok

itu

pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor 29 %
gera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang

itu

juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu menger 30 %
orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato

itu

mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bertato 30 %
mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya kesan mayat bertato

itu

seperti orang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-oran 31 %
rang tidur nyenyak atau orang tersenyum. Orang-orang bertato

itu

tidur nyenyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di mat 32 %
dang-kadang membuat warna darah pada dada dan punggung orang

itu

tidak berwarna merah melainkan hitam. Darah itulah yang memb 34 %
melainkan hitam. Darah itulah yang membedakan mayat bertato

itu

dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato itu men 34 %
ato itu dengan orang tidur. Kadang-kadang mata mayat bertato

itu

menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setel 35 %
rasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata

itu

masih hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri 36 %
mu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa mata

itu

pada akhir pandangannya begitu banyak bercerita. Begitu seri 37 %
-sosok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang

itu

masih hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. I 38 %
kilas pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang

itu

masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama 39 %
ri seolah-olah merasa melihat begitu banyak cerita pada mata

itu

namun ia merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitr 41 %
menceritakannya kembali. Sawitri kadang-kadang merasa orang

itu

ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan masih ingin hidu 41 %
ata yang menolak takdir. Tapi tubuh-tubuh bertato yang tegap

itu

tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan kerjap hali 43 %
jan dan kerjap halilintar membuat darah dan tubuh yang basah

itu

berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat. 44 %
dan basah hujan pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang

itu

terkulai ke depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh t 45 %
lai ke depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir

itu

sendiri. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau t 45 %
seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali kepala

itu

menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit dengan mata 46 %
etul-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga

itu

kemasukan air hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sud 47 %
at-mayat bertato itu. Malahan ia merasa tetangga-tetangganya

itu

bergembira setiap kali melihat mayat bertato tergeletak di m 48 %
to tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda dan mayat

itu

disemprot cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Dari 49 %
ng-kuningan. Dari dalam rumahnya yang terletak di sudut gang

itu

Sawitri mendengar apa saja yang mereka percakapkan. Mereka b 50 %
ka berteriak-teriak sambil mengerumuni mayat yang tergeletak

itu

meskipun kadang-kadang hujan belum benar-benar selesai dan a 51 %
“Anjing!” Kadang-kadang mereka juga menendang-nendang mayat

itu

dan menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka 53 %
mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. Kadang-kadang mayat

itu

mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga waja 54 %
ja sepanjang jalan ke kelurahan sehingga wajah orang bertato

itu

berlepotan dengan lumpur karena orang-orang kampung menyeret 54 %
tato. Sawitri akan menarik napas panjang bila ternyata mayat

itu

bukan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-may 57 %
kan Pamuji. Bukankah Pamuji juga bertato seperti mayat-mayat

itu

dan bukankah di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut 58 %
tato itu, Kandang Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat

itu

menggeletak di sana, betul-betul seperti bangkai tikus yang 60 %
ereka lebih buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat

itu

tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu. 61 %
ak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat

itu

biasanya lebih banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru 63 %
punggung dan dada, sehingga lukisan-lukisan tato yang indah

itu

rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang bertato i 64 %
u rusak. Sawitri kadang-kadang merasa penembak orang bertato

itu

memang sengaja merusak gambarnya. Sebenarnya mereka bisa men 65 %
dak mematikan hanya karena ingin membuat orang-orang bertato

itu

kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu kadang- 67 %
bertato itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan

itu

kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak karena lubang 68 %
muji. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan

itu

masih dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri in 74 %
lengan kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar

itu

ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang p 76 %
antas ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang

itu

ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah jatuh cinta 77 %
tulah Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat

itu

bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang sore malam may 81 %
tau di antara kedua mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato

itu

dilemparkan pada siang hari bolong di jalan raya dari dalam 84 %
dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat

itu

jatuh di tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang- 85 %
an menggemparkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat

itu

sambil berteriak-teriak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri 86 %
nja pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul setelah mayat

itu

terbanting. Debu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji 87 %
napas. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Potret mayat-mayat

itu

kemudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat berta 88 %
mudian menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato

itu

masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mer 89 %
atikan. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak mematikan

itu

lebih dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apala 91 %
an tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak

itu

memberi kesempatan pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu 94 %
ik di atas genting. Setiap kali hujan selesai, di mulut gang

itu

tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap ke a 97 %
Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita

itu

pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
nya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang lelaki

itu:

SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung hati ta 74 %
jan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato.

itulah

sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap kali mendengar 2 %
nggung orang itu tidak berwarna merah melainkan hitam. Darah

itulah

yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur. Kadang 34 %
agus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji,

itulah

kekasihnya yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang 76 %
. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih

itulah

maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang te 79 %
ala sudut, hidup bagaikan mimpi buruk bagi Sawitri. Semenjak

itulah

Pamuji menghilang tak tentu rimbanya. Dulu mayat-mayat itu b 81 %
a bisa menjamin Pamuji tidak akan mengalami nasib yang sama?

itulah

sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap kali bunyi hujan mula 96 %
rah membercak pada semen yang basah dan sosok itu pun segera

jadi

basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu juga 30 %
-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat

jadi

satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangannya saja yang 61 %
ngerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga jalanan

jadi

macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia seda 86 %
ajahnya. Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang

jalan

ke kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan den 54 %
t pasar, terapung di kali, terbenam di got, atau terkapar di

jalan

tol. Setiap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat berta 83 %
hkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong di

jalan

raya dari dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-m 84 %
orang mengerumuni mayat itu sambil berteriak-teriak sehingga

jalanan

jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri ketia 86 %
dengan jelas lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar,

jantung

hati, bunga mawar, tengkorak, nama-nama wanita, tulisan-tuli 72 %
ang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar

jantung

hati tanda cinta. Sawitri ingat, ia membutuhkan waktu dua ha 74 %
a dan juga di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan

jantungnya

berdegup-degup keras setiap kali hujan selesai dan bunyi sis 16 %
am letupan dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak

jarang

pula ia tak mendengar apa-apa, meskipun sesosok mayat bertat 4 %
ebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawitri cukup

jarang

ikut berkerumun di antara tetangganya. Sawitri hampir selalu 26 %
an dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu

jari

tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kada 62 %
il menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap lubang

jarum

dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan berair 10 %
lanjang itu ada tulisan Asih. Menurut Pamuji pula, ia pernah

jatuh

cinta pada Asih, tapi tidak kesampaian. Sawitri mengenal Asi 78 %
i dalam sebuah mobil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu

jatuh

di tengah keramaian menggemparkan orang banyak. Orang-orang 85 %
bangkai. Sawitri hanya akan melihatnya sepintas, tapi cukup

jelas

untuk mengingat bagaimana darah membercak pada semen yang ba 29 %
n gambar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan

jelas

lukisan-lukisan pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, 71 %
tato. Untuk melihat mayat bertato itu, Sawitri cukup membuka

jendela

samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk 13 %
n jendela. Ia harus membungkuk sampai perutnya menekan bibir

jendela

dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan ju 15 %
perti akhir sebuah nyanyian. Tapi Sawitri tetap saja membuka

jendela

itu dan menengok ke kanan sambil membungkuk untuk melihat ma 17 %
alu terbangun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka

jendela

lantas menengok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa 19 %
pat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke kanan setelah membuka

jendela

dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri juga sering me 35 %
rak-arakan yang bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka

jendela

setiap kali hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungk 56 %
natap ke arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka

jendela

lantas menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri 98 %
an yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, dan akan remuk

jika

tertimpa pohon yang tidak usah terlalu besar. Mungkin pula S 7 %
tapi ia selalu ingin menatap wajah mayat-mayat bertato itu.

jika

mayat itu sudah terlanjur dikerumuni para tetangga, Sawitri 20 %
ah. Sawitri tahu, Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi,

jika

setiap kali hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di uju 95 %
la dan tempias sisa air hujan menitik-nitik di rambutnya dan

juga

di sebagian wajahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya 15 %
jadi basah dan rambut dan brewok dan celana kolor orang itu

juga

basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan. 30 %
embuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda. Sawitri

juga

sering merasa bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidup 36 %
idup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang Sawitri

juga

melihat mata yang bertanya-tanya. Mata yang menuntut. Mata y 42 %
yang basah itu berkilat dan darah dan basah hujan pada semen

juga

berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau ke b 45 %
rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!” Kadang-kadang mereka

juga

menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya. Ka 53 %
anjang bila ternyata mayat itu bukan Pamuji. Bukankah Pamuji

juga

bertato seperti mayat-mayat itu dan bukankah di antara mayat 57 %
t-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda

juga

terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali maya 58 %
awat. Kadang-kadang kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada

juga

yang tidak terikat sama sekali. Namun mayat-mayat yang tidak 63 %
sa menembak hanya di tempat yang mematikan saja, tapi mereka

juga

menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan. Apakah merek 66 %
huruf besar… Sawitri selalu memperhatikan tato karena Pamuji

juga

bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dada Pamuji. Ia 73 %
ji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tahu, Pamuji

juga

sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap kali hujan selesa 94 %
menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15

juli

1985 100 %
rma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada

juru

cerita itu. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawit 1 %
ku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu. Maka

juru

cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali hujan 1 %
witri akan berjumpa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada

juru

cerita itu. Maka juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bi 99 %
mbali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka

juru

cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya masih belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 99 %
ya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada malam hari,

kadang-kadang

ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin kend 3 %
pula Sawitri tidak mendengar apa-apa karena ia mengantuk dan

kadang-kadang

tertidur. Mungkin karena ia menyetel radionya terlalu keras. 8 %
sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu

kadang-kadang

ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali hujan reda, di mulu 11 %
ihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya karena

kadang-kadang

mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup l 22 %
basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato itu mengerikan.

kadang-kadang

Sawitri punya kesan mayat bertato itu seperti orang tidur ny 31 %
nyak dan tersenyum dalam buaian gerimis yang di mata Sawitri

kadang-kadang

tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya 32 %
sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pucat kekuning-kuningan

kadang-kadang

membuat warna darah pada dada dan punggung orang itu tidak b 33 %
itulah yang membedakan mayat bertato itu dengan orang tidur.

kadang-kadang

mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia 34 %
amun ia merasa begitu sulit menceritakannya kembali. Sawitri

kadang-kadang

merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan 41 %
mati dan masih ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak.

kadang-kadang

Sawitri juga melihat mata yang bertanya-tanya. Mata yang men 42 %
teriak sambil mengerumuni mayat yang tergeletak itu meskipun

kadang-kadang

hujan belum benar-benar selesai dan anak-anak berteriak hore 51 %
sekarang!” “Ya, tahu rasa dia sekarang!” “Anjing!” “Anjing!”

kadang-kadang

mereka juga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak 53 %
ga menendang-nendang mayat itu dan menginjak-injak wajahnya.

kadang-kadang

mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke kelurahan seh 53 %
tergeletak di sana dengan tangan dan kaki terikat jadi satu.

kadang-kadang

hanya kedua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan ta 61 %
ua ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat.

kadang-kadang

kakinya memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak ter 62 %
sehingga lukisan-lukisan tato yang indah itu rusak. Sawitri

kadang-kadang

merasa penembak orang bertato itu memang sengaja merusak gam 65 %
ato itu kesakitan? Di tempat-tempat yang tidak mematikan itu

kadang-kadang

terdapat gambar tato yang rusak karena lubang peluru. Ia sel 68 %
di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara kedua mata.

kadang-kadang

bahkan mayat bertato itu dilemparkan pada siang hari bolong 84 %
angannya atau paling sedikit tatonya. Sawitri pernah membuka

kain

penutup mayat untuk melihat wajahnya tapi ia tak ingin melak 23 %
ia tak ingin melakukannya lagi. Sekali-sekalinya ia membuka

kain

penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan 24 %
mbelih. Mayat-mayat itu tergeletak di sana dengan tangan dan

kaki

terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya kedua ibu jari tangan 61 %
tato itu masih bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan

kaki

mereka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, n 89 %
u, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi dengan

kaki

tangan terikat seperti itu. Apakah Pamuji telah menggeletak 91 %
ngannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Kadang-kadang

kakinya

memang tidak terikat. Bahkan ada juga yang tidak terikat sam 62 %
n yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi

kalau

rumah kita bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa keb 7 %
kali pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt.

kalau

matanya menjadi pedas dan berair ia menutup matanya sejenak. 10 %
samping rumahnya dan menengok ke kanan. Ia harus membungkuk

kalau

ingin melihat mayat itu dengan jelas. Kalau tidak, pandangan 13 %
harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu dengan jelas.

kalau

tidak, pandangannya akan terhalang daun jendela. Ia harus me 14 %
at itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup lega

kalau

sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kakinya, 22 %
da lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan.

kalau

mereka menembak di tempat yang tidak mematikan itu lebih dul 90 %
yakin Pamuji tak akan tertangkap. Pamuji sangat cerdik. Dan

kalau

para penembak itu memberi kesempatan pada Pamuji untuk melaw 94 %
. Maka juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap

kali

hujan mereda, pada mulut gang itu tergeletaklah mayat bertat 1 %
ertato. Itulah sebabnya Sawitri selalu merasa gemetar setiap

kali

mendengar bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Rumahny 2 %
ok mayat bertato tetap saja menggeletak di mulut gang setiap

kali

hujan reda pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendenga 5 %
i hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering

kali

bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita bukan bangunan yan 6 %
rkan lagu-lagu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering

kali

pedas karena menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kala 10 %
n lagu itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap

kali

hujan reda, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato. U 12 %
a selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup keras setiap

kali

hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti akhir sebuah 16 %
Malahan ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap

kali

melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap kali h 48 %
p kali melihat mayat bertato tergeletak di mulut gang setiap

kali

hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya lampu merkuri yang 49 %
bersorak-sorai gembira itu. Ia cukup membuka jendela setiap

kali

hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas me 56 %
h di antara mayat-mayat yang tergeletak di mulut gang setiap

kali

hujan reda juga terdapat kawan-kawan Pamuji? Sesekali Sawitr 58 %
atikan tato orang-orang yang tergeletak di mulut gang setiap

kali

hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali Kandang Jino 69 %
tahu, Pamuji juga sangat pandai berkelahi. Tapi, jika setiap

kali

hujan selesai selalu ada mayat tergeletak di ujung gang itu, 95 %
sib yang sama? Itulah sebabnya Sawitri selalu gemetar setiap

kali

bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap kali hujan 96 %
etiap kali bunyi hujan mulai menitik di atas genting. Setiap

kali

hujan selesai, di mulut gang itu tergeletaklah mayat bertato 97 %
rang bertato itu berlepotan dengan lumpur karena orang-orang

kampung

menyeret dengan memegang kakinya. Sawitri tak pernah ikut da 55 %
Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok ke

kanan

sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia terti 17 %
reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok ke

kanan

sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia selalu in 19 %
bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh ke

kanan

setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan mereda 35 %
cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok ke

kanan

sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah melihat 56 %
ah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok ke

kanan…

“Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kembali deng 98 %
Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat bertato itu,

kandang

Jinongkeng, Pentung Pinanggul… Mayat-mayat itu menggeletak d 59 %
setiap kali hujan reda. Begitulah caranya Sawitri mengenali

kandang

Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya lampu merkur 69 %
a pada malam hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa

karena

bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras, kau tahu, se 6 %
terlalu besar. Mungkin pula Sawitri tidak mendengar apa-apa

karena

ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin karena ia m 8 %
-apa karena ia mengantuk dan kadang-kadang tertidur. Mungkin

karena

ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan lag 9 %
agu pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas

karena

menatap lubang jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya men 10 %
ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil melihat wajahnya

karena

kadang-kadang mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi S 22 %
an sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur

karena

orang-orang kampung menyeret dengan memegang kakinya. Sawitr 54 %
mereka menembak di tempat-tempat yang tidak mematikan hanya

karena

ingin membuat orang-orang bertato itu kesakitan? Di tempat-t 67 %
mematikan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak

karena

lubang peluru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang 68 %
ulisan, huruf-huruf besar… Sawitri selalu memperhatikan tato

karena

Pamuji juga bertato. Ia pernah menato namanya sendiri di dad 73 %
engenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di Mangga Besar.

karena

Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa- 79 %
eno Gumira Ajidarma “Ceritakanlah padaku tentang ketakutan,”

kata

Alina pada juru cerita itu. Maka juru cerita itu pun berceri 1 %
a-apa karena bunyi hujan yang masih deras. Hujan yang deras,

kau

tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah kita 6 %
ergeletak di mulut gang setiap kali hujan reda juga terdapat

kawan-kawan

Pamuji? Sesekali Sawitri mengenali mayat-mayat bertato itu, 59 %
Sawitri cukup membuka jendela samping rumahnya dan menengok

ke

kanan. Ia harus membungkuk kalau ingin melihat mayat itu den 13 %
an. Tapi Sawitri tetap saja membuka jendela itu dan menengok

ke

kanan sambil membungkuk untuk melihat mayat itu. Meskipun ia 17 %
an reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menengok

ke

kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, tapi ia sel 19 %
kerumuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri

ke

luar rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia m 21 %
at bertato itu menatap tepat pada Sawitri, ketika ia menoleh

ke

kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, setelah hujan 35 %
uhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah

ke

surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat beg 40 %
ru saja pergi, atau sudah lama melayang, entah ke surga atau

ke

neraka. Sawitri seolah-olah merasa melihat begitu banyak cer 40 %
an pada semen juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai

ke

depan atau ke belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu se 45 %
juga berkilat. Kepala orang-orang itu terkulai ke depan atau

ke

belakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekal 45 %
. Sesekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah

ke

langit dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila 46 %
a. Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan

ke

kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan 54 %
Ia cukup membuka jendela setiap kali hujan reda dan menengok

ke

kanan sambil membungkuk lantas menutupnya kembali setelah me 56 %
itu tergeletaklah mayat bertato. Mata mereka selalu menatap

ke

arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela 97 %
eolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela lantas menengok

ke

kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa kemba 98 %
engan tangan dan kaki terikat jadi satu. Kadang-kadang hanya

kedua

ibu jari tangannya saja yang disatukan dengan tali kawat. Ka 62 %
ka tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara

kedua

mata. Kadang-kadang bahkan mayat bertato itu dilemparkan pad 84 %
i bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Menurut Pamuji, itulah

kekasihnya

yang pertama. Lantas ada lukisan wanita telanjang. Di dada w 76 %
a sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pucat

kekuning-kuningan

kadang-kadang membuat warna darah pada dada dan punggung ora 33 %
Kadang-kadang mayat itu mereka seret saja sepanjang jalan ke

kelurahan

sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan lumpur ka 54 %
-betul selesai, maka Sawitri melihat mulut yang menganga itu

kemasukan

air hujan. Sawitri merasa tetangga-tetangganya sudah terbias 47 %
da dan menengok ke kanan sambil membungkuk lantas menutupnya

kembali

setelah melihat sesosok mayat bertato. Sawitri akan menarik 56 %
ok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan berjumpa

kembali

dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu. Maka juru 99 %
as. Pamuji o Pamuji, di manakah kamu? Potret mayat-mayat itu

kemudian

menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu ma 88 %
dang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan dan bunyi mesin

kendaraan

yang menjauh. Namun tak jarang pula ia tak mendengar apa-apa 4 %
berkilat dan darah dan basah hujan pada semen juga berkilat.

kepala

orang-orang itu terkulai ke depan atau ke belakang seperti d 45 %
elakang seperti dipaksakan oleh takdir itu sendiri. Sesekali

kepala

itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke langit dengan 46 %
iak sehingga jalanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata

kepala

sendiri ketia sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat 86 %
obil yang segera menghilang. Mayat-mayat itu jatuh di tengah

keramaian

menggemparkan orang banyak. Orang-orang mengerumuni mayat it 85 %
ahnya. Dadanya selalu berdesir dan jantungnya berdegup-degup

keras

setiap kali hujan selesai dan bunyi sisa air hujang seperti 16 %
g tegap itu tetap saja basah. Basah oleh darah dan hujan dan

kerjap

halilintar membuat darah dan tubuh yang basah itu berkilat d 44 %
lalu menyempatkan diri ke luar rumah dan menyeruak di antara

kerumunan

itu sampai ia melihat mayat. Ia tidak selalu berhasil meliha 21 %
at-mayat bertato itu mengerikan. Kadang-kadang Sawitri punya

kesan

mayat bertato itu seperti orang tidur nyenyak atau orang ter 31 %
p. Pamuji sangat cerdik. Dan kalau para penembak itu memberi

kesempatan

pada Pamuji untuk melawan, ia belum tentu kalah. Sawitri tah 94 %
lanan jadi macet. Sawitri melihat dengan mata kepala sendiri

ketia

sedang berbelanja pada suatu siang. Ia melihat debu mengepul 87 %
ak orang melupakan dunia fana namun Sawitri selalu terbangun

ketika

hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela lantas menen 18 %
menjadi orang pertama yang melihat mayat-mayat bertato itu.

ketika

hujan belum benar-benar selesai sehingga tampak seperti tabi 27 %
ng-kadang mata mayat bertato itu menatap tepat pada Sawitri,

ketika

ia menoleh ke kanan setelah membuka jendela dan membungkuk, 35 %
natap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu masih hidup

ketika

bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa merasa, betapa 36 %
witri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan

kirinya

ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan 76 %
, kau tahu, sering kali bisa mengerikan. Apalagi kalau rumah

kita

bukan bangunan yang kokoh, banyak bocor, bisa kebanjiran, da 7 %
k itu pun segera jadi basah dan rambut dan brewok dan celana

kolor

orang itu juga basah. Tidak semua wajah mayat-mayat bertato 30 %
li, terbenam di got, atau terkapar di jalan tol. Setiap hari

koran-koran

memuat potret mayat-mayat bertato dengan luka tembakan di te 83 %
ri ingat, ia membutuhkan waktu dua hari untuk mencocok-cocok

kulit

Pamuji dengan jarum. Namun bukan hanya nama Sawitri yang ber 75 %
enar selesai dan anak-anak berteriak hore-hore. “Lihat! Satu

lagi!”

“Mampus!” “Modar!” “Tahu rasa dia sekarang!” “Ya, tahu rasa 52 %
k. Saat menutup matanya sejenak itu ia mendengarkan sepotong

lagu

dari radio. Dan saat ia mendengarkan lagu itu kadang-kadang 11 %
dengarkan sepotong lagu dari radio. Dan saat ia mendengarkan

lagu

itu kadang-kadang ia tertidur. Tapi tetap saja setiap kali h 11 %
ena ia menyetel radionya terlalu keras. Ia suka mendengarkan

lagu-lagu

pop Indonesia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas kar 9 %
tempat yang mematikan, namun masih ada lubang-lubang peluru

lain

di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka menembak di tem 90 %
itu masih ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah

lama

melayang, entah ke surga atau ke neraka. Sawitri seolah-olah 40 %
sai sehingga tampak seperti tabir yang berkilat dalam cahaya

lampu

merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh manusia itu terg 28 %
tampak bagaikan layar pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya

lampu

merkuri yang pucat kekuning-kuningan kadang-kadang membuat w 33 %
t gang setiap kali hujan reda dan mayat itu disemprot cahaya

lampu

merkuri yang kekuning-kuningan. Dari dalam rumahnya yang ter 49 %
nali Kandang Jinongkeng. Wajahnya tertelungkup, namun cahaya

lampu

merkuri cukup terang untuk membuat Sawitri mengenali tato di 70 %
esekali kepala itu menelungkup mencium bumi atau tengadah ke

langit

dengan mata terbelalak dan mulut ternganga. Dan bila hujan b 46 %
namun Sawitri selalu terbangun ketika hujan reda dan ia akan

langsung

membuka jendela lantas menengok ke kanan sambil membungkuk. 19 %
angun ketika hujan reda dan ia akan langsung membuka jendela

lantas

menengok ke kanan sambil membungkuk. Ia selalu merasa takut, 19 %
tiap kali hujan reda dan menengok ke kanan sambil membungkuk

lantas

menutupnya kembali setelah melihat sesosok mayat bertato. Sa 56 %
isan Nungki. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama.

lantas

ada lukisan wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu a 77 %
arah Sawitri, seolah-olah tahu Sawitri akan membuka jendela

lantas

menengok ke kanan… “Apakah pada akhir cerita Sawitri akan be 98 %
n gerimis yang di mata Sawitri kadang-kadang tampak bagaikan

layar

pada sebuah panggung sandiwara. Cahaya lampu merkuri yang pu 32 %
us yang dibuang di tengah jalan. Sawitri merasa nasib mereka

lebih

buruk dari binatang yang disembelih. Mayat-mayat itu tergele 61 %
ma sekali. Namun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya

lebih

banyak lubang pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebu 63 %
an. Kalau mereka menembak di tempat yang tidak mematikan itu

lebih

dulu, rasanya pasti sakit sekali, batin Sawitri. Apalagi den 91 %
g mayat itu sudah terlanjur ditutup kain. Tapi Sawitri cukup

lega

kalau sudah melihat sebagian saja dari mayat itu, apakah kak 22 %
to namanya sendiri di dada Pamuji. Ia menulis di dada bidang

lelaki

itu: SAWITRI. Tulisan itu masih dilingkari gambar jantung ha 74 %
bang-lubang. Sebuah tulisan SAYANG MAMA, dan gambar salib di

lengan

kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas lukisan-lukisan pa 71 %
nama Sawitri yang bertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di

lengan

kirinya ada lukisan mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada 76 %
da malam hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam

letupan

dan bunyi mesin kendaraan yang menjauh. Namun tak jarang pul 4 %
agi. Sekali-sekalinya ia membuka kain penutup wajah, yang ia

lihat

adalah wajah menyeringai dengan mata terbeliak dan giginya m 24 %
umuni para tetangga, Sawitri pun selalu menyempatkan diri ke

luar

rumah dan menyeruak di antara kerumunan itu sampai ia meliha 21 %
ia sambil menjahit. Matanya sering kali pedas karena menatap

lubang

jarum dalam cahaya 15 watt. Kalau matanya menjadi pedas dan 10 %
mun mayat-mayat yang tidak terikat itu biasanya lebih banyak

lubang

pelurunya. Lubang-lubang peluru membentuk sebuah garis di pu 63 %
kan itu kadang-kadang terdapat gambar tato yang rusak karena

lubang

peluru. Ia selalu memperhatikan tato orang-orang yang tergel 68 %
ng tidak terikat itu biasanya lebih banyak lubang pelurunya.

lubang-lubang

peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga 64 %
. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun masih ada

lubang-lubang

peluru lain di tempat yang tidak mematikan. Kalau mereka men 90 %
ap hari koran-koran memuat potret mayat-mayat bertato dengan

luka

tembakan di tengkuk, di jidat, di jantung, atau di antara ke 83 %
ertato di dada Pamuji. Ia selalu ingat di lengan kirinya ada

lukisan

mawar yang bagus. Di bawah mawar itu ada tulisan Nungki. Men 76 %
. Menurut Pamuji, itulah kekasihnya yang pertama. Lantas ada

lukisan

wanita telanjang. Di dada wanita telanjang itu ada tulisan A 77 %
peluru membentuk sebuah garis di punggung dan dada, sehingga

lukisan-lukisan

tato yang indah itu rusak. Sawitri kadang-kadang merasa pene 64 %
ar salib di lengan kiri. Sawitri bisa mengingat dengan jelas

lukisan-lukisan

pada mayat-mayat itu. Jangkar, jantung hati, bunga mawar, te 71 %
kelurahan sehingga wajah orang bertato itu berlepotan dengan

lumpur

karena orang-orang kampung menyeret dengan memegang kakinya. 54 %
padaku tentang ketakutan,” kata Alina pada juru cerita itu.

maka

juru cerita itu pun bercerita tentang Sawitri: Setiap kali h 1 %
n mulut ternganga. Dan bila hujan belum betul-betul selesai,

maka

Sawitri melihat mulut yang menganga itu kemasukan air hujan. 47 %
a dulu sama-sama melacur di Mangga Besar. Karena Asih itulah

maka

Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah b 79 %
berkenalan dengan Pamuji. Ah, masa-masa yang telah berlalu!

maka

hujan pun turun seperti sebuah mimpi buruk. Semenjak tahun-t 79 %
pa kembali dengan Pamuji?” tanya Alina pada juru cerita itu.

maka

juru cerita itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina 99 %
a-tetangganya sudah terbiasa dengan mayat-mayat bertato itu.

malahan

ia merasa tetangga-tetangganya itu bergembira setiap kali me 48 %
ting. Rumahnya memang terletak di sudut mulut gang itu. Pada

malam

hari, kadang-kadang ia bisa mendengar bunyi semacam letupan 3 %
p saja menggeletak di mulut gang setiap kali hujan reda pada

malam

hari. Mungkin ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi 5 %
ihat mayat itu. Meskipun ia tertidur bila hujan turun tengah

malam

dan iramanya mengajak orang melupakan dunia fana namun Sawit 18 %
mayat itu bergelimpangan hampir setiap saat. Pagi siang sore

malam

mayat-mayat menggeletak di sudut-sudut pasar, terapung di ka 82 %
ebu mengepul dan membuatnya sesak napas. Pamuji o Pamuji, di

manakah

kamu? Potret mayat-mayat itu kemudian menghilang dari koran- 88 %
ian. Sawitri mengenal Asih. Mereka dulu sama-sama melacur di

mangga

Besar. Karena Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pam 78 %
lam cahaya lampu merkuri yang kekuning-kuningan. Sosok tubuh

manusia

itu tergeletak betul-betul seperti bangkai. Sawitri hanya ak 28 %
arena Asih itulah maka Sawitri berkenalan dengan Pamuji. Ah,

masa-masa

yang telah berlalu! Maka hujan pun turun seperti sebuah mimp 79 %
in ia memang tidak mendengar apa-apa karena bunyi hujan yang

masih

deras. Hujan yang deras, kau tahu, sering kali bisa mengerik 6 %
nyeringai dengan mata terbeliak dan giginya meringis seperti

masih

hidup. Sebuah wajah yang menyeramkan. Namun sebetulnya Sawit 25 %
bahwa ia menatap mereka tepat pada akhir hidupnya. Mata itu

masih

hidup ketika bertemu dengan mata Sawitri. Dan Sawitri bisa m 36 %
ok bertato itu, sehingga ia merasa mengerti apakah orang itu

masih

hidup atau sudah mati, hanya dengan sekilas pandang. Ia pun 38 %
s pandang. Ia pun segera bisa merasa, apakah nyawa orang itu

masih

ada di tubuhnya, atau baru saja pergi, atau sudah lama melay 39 %
merasa orang itu ingin berteriak bahwa ia tidak mau mati dan

masih

ingin hidup dan ia punya istri dan anak-anak. Kadang-kadang 42 %
. Ia menulis di dada bidang lelaki itu: SAWITRI. Tulisan itu

masih

dilingkari gambar jantung hati tanda cinta. Sawitri ingat, i 74 %
an menghilang dari koran-koran. Tapi mayat-mayat bertato itu

masih

bermunculan dengan ciri yang sama. Tangan dan kaki mereka te 89 %
ka terikat. Mereka tertembak di tempat yang mematikan, namun

masih

ada lubang-lubang peluru lain di tempat yang tidak mematikan 90 %
itu pun menjawab: “Aku belum bisa menjawab Alina, ceritanya

masih

belum selesai.” Jakarta, 15 Juli 1985 100 %
penutup wajah, yang ia lihat adalah wajah menyeringai dengan

mata

terbeliak dan giginya meringis seperti masih hidup. Sebuah w